Example floating
SPILAN^SPILUN

Ramai Mengkritik, Sepi Memberi Solusi: Inilah Makna Mendalam Peribahasa yang Mulai Terlupakan

721
×

Ramai Mengkritik, Sepi Memberi Solusi: Inilah Makna Mendalam Peribahasa yang Mulai Terlupakan

Sebarkan artikel ini

# SPILAN^SPILUN : Menspill Peristiwa Puzzle Kehidupan

#Menspill  Peribahasa “Mahir Mencari Salah, Miskin Memberi Arah”: Belajar Menjadi Sosok yang Menguatkan

Peribahasa “Mahir mencari salah, miskin memberi arah” memiliki makna yang sangat relevan dengan kehidupan sosial saat ini. Ungkapan ini mengarah kepada seseorang yang pandai menilai kesalahan orang lain, namun tidak mampu memberikan arahan, solusi, atau kontribusi nyata untuk perbaikan.

Pada dasarnya, siapa pun bisa menunjukkan kekurangan. Namun kemampuan untuk memberi arah baik berupa saran, gagasan, atau tindakan membutuhkan kebijaksanaan, empati, dan kemauan untuk terlibat. Itulah yang menjadi inti pesan dari peribahasa ini.

Menggali Arti Lebih Dalam

Peribahasa ini mengandung tiga pesan utama:

1. Kritik Tanpa Solusi Hanya Menambah Beban

Ketika seseorang hanya menyampaikan kritik, tanpa memberikan alternatif langkah, maka kritik tersebut berubah menjadi beban emosional bagi orang yang menerimanya. Makna ini menekankan bahwa kritik yang baik selalu dilengkapi dengan niat membantu, bukan sekadar menilai.

2. Mudah Mencari Salah, Sulit Mengambil Peran

Arti lain dari peribahasa ini adalah bahwa tidak semua orang berani terlibat dalam proses perbaikan. Banyak yang mampu menunjukkan apa yang kurang, tetapi sedikit yang bersedia ikut bekerja untuk memperbaiki keadaan.
Inilah sifat “miskin memberi arah”, yakni minimnya dorongan untuk berkontribusi.

3. Membangun Lebih Berarti daripada Menyalahkan

Peribahasa ini mengajak masyarakat untuk berpindah dari sikap reaktif menjadi proaktif. Tidak cukup hanya menunjukkan masalah—kita didorong untuk menjadi bagian dari solusi. Perubahan besar sering bermula dari sebuah langkah kecil: menawarkan saran yang konstruktif.

Mengapa Peribahasa Ini Penting untuk Kehidupan Sosial Kita?

Dalam dunia kerja, organisasi, lingkungan desa, maupun di ruang digital, kita melihat banyak contoh bagaimana komentar yang ramai tanpa arah justru memperkeruh suasana. Perdebatan panjang tidak masuk pada inti, karena yang terlibat hanya saling mencari salah tanpa ada yang benar-benar memberi jalan keluar.

Padahal, masyarakat maju adalah masyarakat yang dihuni oleh orang-orang yang menguatkan, bukan yang menjatuhkan.
Orang-orang yang memahami bahwa setiap masalah memerlukan kolaborasi, bukan hanya analisa tanpa aksi.

Peribahasa ini mengajak kita menjadi pribadi yang hadir membawa arah, bukan sekadar menghadirkan sorotan.

Dengan memahami maknanya, kita dilatih untuk:

  • lebih berhati-hati dalam berkomentar,

  • lebih bijak menilai situasi, dan

  • lebih siap mengambil peran dalam perbaikan bersama.

Karena sejatinya, nilai sebuah komentar bukan terletak pada kerasnya suara, tetapi pada manfaat yang ditinggalkannya.

Oleh : Tosu – Toto Suranto

Kreatif  Media dan Citizen Journalism

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!