Example floating
WARGANET

Demokrasi atau Delusi? Saat Kebodohan Dibungkus Kekuasaan

992
×

Demokrasi atau Delusi? Saat Kebodohan Dibungkus Kekuasaan

Sebarkan artikel ini

Jahiliyah Murakkab: Penyakit Sosial yang Tak Disadari

Di era modern yang serba terbuka, kita sering menyangka bahwa kebodohan telah jauh ditinggalkan. Namun realitas berkata sebaliknya. Yang justru tumbuh subur hari ini bukan sekadar “tidak tahu”, tetapi tidak mau tahu dan merasa paling benar. Inilah yang dalam literatur Islam disebut sebagai Jahiliyah Murakkab.

Jahiliyah Murakkab bukan sekadar kebodohan biasa, melainkan kebodohan yang diselimuti keyakinan. Orang yang mengalaminya bukan hanya salah, tetapi bangga atas kesalahannya, bahkan memusuhi orang yang meluruskan.

Ketika Kesalahan Dipoles Menjadi Kebenaran

Berbeda dengan Jahiliyah Basithah (kebodohan yang disadari), Jahiliyah Murakkab jauh lebih berbahaya. Ia hidup dalam ruang batin seseorang yang merasa:

  • Sudah paling benar

  • Paling pintar

  • Tidak perlu nasihat

  • Anti kritik

  • Kebal koreksi

Dalam kondisi ini, logika kalah oleh ego, kebenaran dikalahkan oleh gengsi, dan moral dikalahkan oleh kepentingan.

Contoh Jahiliyah Murakkab dalam Kehidupan Nyata

Fenomena ini mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

  1. Dalam Dunia Politik
    Pejabat publik yang melakukan pelanggaran etik, manipulasi data, atau permainan kekuasaan, tetapi membungkusnya dengan narasi “demokrasi” dan “demi rakyat”.

  2. Dalam Birokrasi
    Aparat yang menyalahgunakan wewenang, namun merasa tindakan mereka sah karena berlindung di balik regulasi yang ditafsirkan sepihak.

  3. Di Tengah Masyarakat
    Orang-orang yang menyebarkan hoaks, fitnah, atau kebencian, lalu merasa sedang “membela kebenaran”.

  4. Dalam Kehidupan Beragama
    Orang yang rajin beribadah, tetapi menolak nasihat, keras terhadap sesama, dan alergi pada perbedaan.

Akibat Jahiliyah Murakkab bagi Bangsa dan Umat

Jika dibiarkan, Jahiliyah Murakkab akan melahirkan dampak serius:

  • Rusaknya tatanan keadilan

  •  Hilangnya rasa malu pada dosa

  •  Lunturnya kepercayaan publik

  • Masyarakat terpecah akibat egoisme sektoral

  • Hukum menjadi alat kekuasaan, bukan keadilan

  • Demokrasi berubah menjadi sandiwara

Bangsa bisa hancur bukan karena musuh dari luar, tetapi karena penyakit batin kolektif dari dalam.

Jalan Keluar: Kembali pada Akhlak dan Kesadaran Diri

Jahiliyah Murakkab hanya bisa dilawan dengan:

  • Kerendahan hati

  • Kejujuran pada nurani

  • Kesiapan dikoreksi

  • Pendidikan moral dan spiritual

  • Kembali pada nilai agama dan budaya luhur bangsa

Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang cerdas, tetapi bangsa yang mau disadarkan.

Jahiliyah Murakkab adalah potret zaman: ketika manusia merasa pintar, tapi kehilangan hikmah. Merasa benar, tapi jauh dari kebenaran.

Jika penyembuhan tidak dimulai dari kesadaran diri, maka kelak kebodohan akan berdiri di mimbar kekuasaan  dan kebenaran terpaksa berbisik di sudut sunyi.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Oleh : H. Dudung Badrun, S.H., M.H.

Advokat dan Aktivis Hukum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!