Indramayu # Ramai di media Warga Indramayu dibuat geleng-geleng kepala sekaligus senyum kecut. Bukan karena harga beras naik atau cuaca panas, melainkan karena tiang bersejarah di Pendopo Kecamatan Sindang mendadak tampil “lebih fresh” dengan warna biru cerah.
Padahal, bangunan tersebut diduga kuat berstatus Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Yang tadinya kalem dengan warna putih tulang, kini berubah bak tembok rumah kontrakan habis dicat jelang Lebaran.
“Ini pendopo, bukan rumah pribadi,” celetuk salah satu pegiat heritage Indramayu sambil menahan tawa getir.
Sejarah Kaget, Pegiat Heritage Lapor
Perubahan warna yang dinilai “terlalu kreatif” ini langsung dilaporkan pegiat pelestari budaya Indramayu ke Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Indramayu. Pasalnya, urusan cagar budaya bukan soal selera warna, tapi soal menjaga jejak sejarah.
Ketua TACB Indramayu, Dedy S. Musashi, S.S., menyampaikan keprihatinannya dengan nada serius tapi maknanya nyeletuk:
“Patut prihatin melihatnya. Setiap perubahan pada ODCB atau Cagar Budaya harus sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2010. Ini bukan soal biru atau putih, tapi soal prinsip konservasi.”
Singkatnya: sejarah itu dirawat, bukan didandani sesuka hati.
Camat Sigap, Biru Tak Jadi Takdir
Kabar baiknya, Camat Sindang Ahmad Fauzie Romdhon tak tinggal diam. Begitu informasi mencuat, beliau langsung merespons cepat dan berjanji akan melakukan langkah perbaikan.
Warna biru itu pun tidak akan menjadi takdir sejarah. Tiang pendopo direncanakan dikembalikan ke warna aslinya, sesuai kaidah pelestarian.
Cagar Budaya Bukan Kanvas Bebas
Peristiwa ini menjadi pengingat bersama bahwa:
-
Cagar budaya bukan media eksperimen warna
-
Renovasi bukan ajang adu selera
-
Sejarah bukan properti pribadi
Kalau rumah sendiri mau dicat biru, kuning, merah monggo. Tapi kalau bangunan bersejarah, aturan dulu, estetika belakangan.
Mari Jaga Warisan, Jangan Sampai Sejarah Ikut Ngakak
Kasus ini sekaligus jadi alarm pentingnya kesadaran kolektif semua pihak. Jangan sampai generasi mendatang bertanya:
“Ini pendopo zaman kolonial atau konsep rumah minimalis 2025?”
Mari kawal bersama pelestarian warisan budaya Indramayu.
Karena cagar budaya bukan korban tren warna, dan sejarah tak butuh cet-cetan, tapi kepedulian.





