Example floating
RELIGI & ROHANI

Syirik Kecil yang Sering Diabaikan : Menjaga Tauhid di Tengah Budaya Pujian dan Pencitraan

888
×

Syirik Kecil yang Sering Diabaikan : Menjaga Tauhid di Tengah Budaya Pujian dan Pencitraan

Sebarkan artikel ini

Renungan Jumat: Waspadai Syirik yang Diam-Diam Menggerogoti Keikhlasan

Hari Jumat kembali menyapa umat Islam sebagai momentum terbaik untuk bermuhasabah. Bukan hanya soal ibadah lahiriah, Jumat mengajak setiap Muslim menengok ke dalam hati: apakah niat kita benar-benar lurus karena Allah, atau justru terselip keinginan selain-Nya?

Dalam ajaran Islam, dosa paling besar dan paling berbahaya adalah syirik, yakni mempersekutukan Allah dalam ibadah, keyakinan, maupun ketergantungan hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisa: 48)

Syirik Tak Selalu Berwujud Penyembahan

Banyak orang memahami syirik hanya sebatas menyembah selain Allah, seperti patung, kuburan, atau makhluk gaib. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa ada bentuk syirik yang lebih halus dan sering tidak disadari, yakni syirik kecil dan syirik tersembunyi (khafi).

Rasulullah ﷺ mengingatkan umatnya:

“Syirik yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’.”
(HR. Ahmad)

Riya’ terjadi ketika seseorang beribadah bukan semata-mata mengharap ridha Allah, tetapi juga menginginkan pujian, pengakuan, atau penilaian manusia.

Ketergantungan Hati yang Salah Arah

Syirik tersembunyi kerap hadir dalam kehidupan sehari-hari, tanpa terasa. Misalnya:

  • Lebih takut pada penilaian manusia daripada pengawasan Allah

  • Lebih sedih kehilangan dunia daripada kehilangan keikhlasan

  • Lebih semangat beramal saat dilihat orang lain, namun melemah saat sendirian

Bentuk-bentuk ini memang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, namun dapat menghapus pahala dan menjadikan ibadah terasa berat serta hampa.

Menjaga Tauhid di Tengah Kehidupan Modern

Di tengah kehidupan yang penuh pencitraan dan pengakuan sosial, menjaga tauhid menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, Islam mengajarkan agar setiap Muslim senantiasa meluruskan niat dan menjaga hati.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

  • Membiasakan niat yang benar sebelum dan sesudah beramal

  • Meyakini bahwa setiap keberhasilan terjadi karena izin Allah, bukan semata kemampuan diri

  • Memperbanyak doa perlindungan dari syirik, sebagaimana doa Rasulullah ﷺ:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun atas apa yang tidak aku ketahui.”

Doa juga menjadi bagian penting dalam menjaga keikhlasan. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk memohon perlindungan dari syirik, baik yang disadari maupun yang tersembunyi, sebagai bentuk kerendahan hati di hadapan Allah.

Syiar tauhid sejatinya bukan untuk menuding atau menyalahkan, tetapi untuk mengingatkan dengan cara yang lembut. Karena pada akhirnya, syirik tidak selalu hadir dalam bentuk patung yang disembah, melainkan kerap bersembunyi di dalam hati yang sedang mencari pengakuan.

Dengan terus bermuhasabah dan meluruskan niat, setiap amal diharapkan kembali menjadi ibadah yang menenangkan, bukan sekadar rutinitas yang melelahkan.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!