Indramayu # Kabupaten Indramayu memiliki posisi strategis yang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam pengembangan Kawasan Metropolitan Rebana. Hal tersebut ditegaskan oleh A. Junaedi Karso dalam bukunya berjudul “Nilai Strategis Indramayu di Antara Pengembangan Kawasan Rebana”.
Melalui buku ini, A. Junaedi Karso mengajak pembaca memahami bahwa Rebana bukan sekadar proyek infrastruktur dan industri berskala besar, melainkan konsep pembangunan wilayah terpadu yang menuntut keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan.
Indramayu dalam Arsitektur Kawasan Rebana
Dalam resume pemikirannya, A. Junaedi Karso menjelaskan bahwa Kawasan Rebana dirancang sebagai Polycentric Smart Region, yang menghubungkan beberapa pusat pertumbuhan di Jawa Barat bagian timur, meliputi Indramayu, Subang, Cirebon, Majalengka, Sumedang, Kuningan, dan Kota Cirebon.
Indramayu, menurut penulis, memiliki keunggulan strategis karena berperan ganda sebagai lumbung pangan nasional sekaligus wilayah dengan potensi industri dan logistik yang terhubung dengan Pelabuhan Patimban, Bandara Kertajati, jalur Pantura, dan Tol Cipali.
“Indramayu tidak boleh hanya dilihat sebagai daerah yang menyediakan lahan, tetapi harus diposisikan sebagai bagian inti dari arsitektur pembangunan Rebana,” tegas A. Junaedi Karso.
Rebana dan Tantangan Ketahanan Pangan
Salah satu pokok penting dalam buku ini adalah penekanan bahwa pengembangan kawasan Rebana tidak boleh mengorbankan sektor pertanian. A. Junaedi Karso menilai, Indramayu justru memiliki peluang besar untuk memperkuat perannya sebagai penyangga ketahanan pangan yang terintegrasi dengan sistem industri modern.
“Pengembangan Kawasan Rebana bukan berarti mematikan pertanian. Justru Indramayu memiliki peluang besar untuk memperkuat perannya sebagai penyangga ketahanan pangan yang terintegrasi dengan sistem industri dan logistik modern,” tulisnya.
Dalam resume buku tersebut, dijelaskan pula pentingnya perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan serta penguatan kebijakan tata ruang agar pembangunan berjalan adil dan terarah.
Pembangunan Harus Berkeadilan dan Berbasis Masyarakat Lokal
A. Junaedi Karso juga mengingatkan bahwa pembangunan kawasan industri tanpa perencanaan matang berpotensi memicu ketimpangan sosial dan konflik agraria. Karena itu, keterlibatan masyarakat lokal menjadi kunci utama keberhasilan pengembangan Rebana di Indramayu.
“Pembangunan yang tidak berpihak pada masyarakat lokal hanya akan melahirkan pertumbuhan tanpa keadilan. Rebana harus tumbuh bersama rakyatnya, bukan di atas penderitaan mereka,” ungkapnya ke iqronews.click.
Melalui buku ini, penulis menegaskan bahwa Indramayu memiliki modal sosial, ekonomi, dan budaya yang kuat untuk menjadi simpul pertumbuhan baru, bukan sekadar daerah pelengkap dalam proyek strategis nasional.
Buku sebagai Referensi Kebijakan dan Diskursus Publik
Nilai Strategis Indramayu di Antara Pengembangan Kawasan Rebana
Penulis: A. Junaedi Karso
Buku ini mengulas secara komprehensif posisi strategis Kabupaten Indramayu dalam proyek besar Pengembangan Kawasan Metropolitan Rebana yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Barat. A. Junaedi Karso menempatkan Indramayu bukan sekadar wilayah penyangga, tetapi sebagai aktor penting dalam arsitektur pertumbuhan ekonomi Jawa Barat bagian timur.
Melalui pendekatan akademik yang tetap komunikatif, penulis menjelaskan bahwa Rebana merupakan kawasan metropolitan baru berbasis Polycentric Smart Region, yang mengintegrasikan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, industri, logistik, pertanian, dan permukiman secara berkelanjutan. Kawasan ini meliputi tujuh daerah, yakni Subang, Indramayu, Cirebon, Majalengka, Sumedang, Kuningan, dan Kota Cirebon.
Secara khusus, Indramayu dinilai memiliki nilai strategis ganda. Di satu sisi, Indramayu merupakan lumbung pangan nasional, terutama padi, yang menopang ketahanan pangan Jawa Barat bahkan nasional. Di sisi lain, Indramayu memiliki keunggulan konektivitas dan kawasan industri potensial seperti Krangkeng, Balongan, dan Patrol yang terhubung langsung dengan Pelabuhan Patimban, Bandara Kertajati, jalur Pantura, serta Tol Cipali.
A. Junaedi Karso juga mengingatkan bahwa pembangunan kawasan Rebana tidak boleh mengorbankan sektor pertanian dan lingkungan. Penulis menekankan pentingnya tata ruang yang adil, perlindungan lahan pertanian berkelanjutan, serta keterlibatan masyarakat lokal agar tidak sekadar menjadi penonton dalam arus investasi besar.
Buku ini ditutup dengan kesimpulan dan rekomendasi strategis agar pengembangan Rebana, khususnya di Indramayu, berjalan seimbang antara pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial. Pemikiran dalam buku ini menjadi rujukan penting bagi pemerintah daerah, akademisi, aktivis pembangunan, hingga masyarakat luas.
Ingin mendapatkan Buku /ebook buku ini Hubungi Redaksi Iqronews.click.
Profil Singkat Penulis
A. Junaedi Karso adalah penulis dan pemikir yang aktif mengkaji isu pembangunan wilayah, tata ruang, dan kebijakan publik berbasis kearifan lokal. Melalui berbagai tulisan dan kajiannya, ia konsisten mendorong model pembangunan yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat. Buku ini menjadi salah satu kontribusi intelektualnya dalam memperkaya diskursus pembangunan daerah, khususnya di Jawa Barat.

















