Example floating
PERTANIAN & PERKEBUNAN

145 Hektare Sawah di Bongas Terendam,Persemaian Padi Terancam Gagal

Avatar photo
777
×

145 Hektare Sawah di Bongas Terendam,Persemaian Padi Terancam Gagal

Sebarkan artikel ini

Bongas, Indramayu # Curah hujan tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan banjir merendam lahan pertanian di Kecamatan Bongas, Kabupaten Indramayu. Hingga memasuki hari ketiga, genangan air masih belum sepenuhnya surut dan berdampak langsung pada aktivitas pertanian warga di tiga desa, yakni Desa Kertajaya, Desa Pelawangan, dan Desa Kertamulya.

Berdasarkan informasi lapangan, banjir merendam sekitar 145 hektare lahan pertanian, dengan rincian:

  • Desa Kertajaya sekitar 30 hektare

  • Desa Pelawangan sekitar 75 hektare

  • Desa Kertamulya sekitar 40 hektare

Sejumlah lahan yang terdampak diketahui merupakan areal persemaian padi berusia 23–25 hari, sementara sebagian lainnya sudah ditanami padi dengan umur tanaman 1 hingga 5 hari setelah tanam (HST).

Petani Cemas, Persemaian dan Tanaman Muda Terancam

Genangan air yang berlangsung lebih dari tiga hari menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani. Pada fase awal pertumbuhan, tanaman padi sangat rentan terhadap rendaman air berkepanjangan yang dapat menyebabkan kerusakan akar, kematian bibit, hingga meningkatkan risiko serangan penyakit tanaman.

Wastam Priyatna, yang dikenal sebagai perwakilan tokoh petani dan KTNA dalam berbagai kegiatan pertanian di Kabupaten Indramayu, menyampaikan bahwa kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius.

“Yang paling dikhawatirkan adalah persemaian usia 23 sampai 25 hari dan tanaman yang baru ditanam. Kalau genangan terlalu lama, besar kemungkinan petani harus melakukan tanam ulang, dan itu tentu berdampak pada waktu serta biaya produksi,” ujar Wastam.

Ia menambahkan, banjir di lahan pertanian tidak hanya berisiko pada gagal tanam, tetapi juga berpengaruh pada jadwal musim tanam secara keseluruhan, terutama jika air tidak segera surut.

Perlu Antisipasi dan Pendampingan Petani

Wastam juga berharap adanya langkah antisipatif dan pendampingan bagi petani terdampak, baik melalui perbaikan saluran pembuangan air maupun pendampingan teknis pascabanjir.

“Petani berharap ada perhatian dan solusi berkelanjutan, terutama dalam pengelolaan drainase sawah dan pendampingan setelah banjir, agar produksi pertanian tetap bisa terjaga,” tambahnya ke iqronews.click.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem, sekaligus penguatan sistem pertanian yang adaptif agar ketahanan pangan di Kabupaten Indramayu tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!