Example floating
LINGKUNGAN & KEMASYARAKATAN

Ancaman Banjir dan Kekeringan, Normalisasi Sungai Cilalanang Jadi Sorotan

Avatar photo
860
×

Ancaman Banjir dan Kekeringan, Normalisasi Sungai Cilalanang Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini

Indramayu # Pendangkalan Sungai Cilalanang dan Waduk Cipancuh di wilayah barat Kabupaten Indramayu dinilai semakin memerlukan penanganan serius dan terencana. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya daya tampung air, yang berpengaruh langsung terhadap sistem irigasi pertanian, ketahanan pangan, serta meningkatnya potensi kekeringan pada musim kemarau dan genangan saat musim hujan.

Sebagai bentuk penyampaian kondisi faktual di lapangan, Pemerintah Kabupaten Indramayu telah menyampaikan laporan resmi kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum terkait perlunya penanganan Sungai Cilalanang dan Waduk Cipancuh secara terpadu dan berkelanjutan. Dalam laporan tersebut, wilayah Gantar, Haurgeulis, dan Kroya disebut sebagai kawasan yang paling terdampak akibat keterbatasan kapasitas sungai dan waduk.

Selaras dengan Penataan Kawasan Calon Ibu Kota Indramayu Barat

Upaya tersebut dinilai sejalan dengan aspirasi Forum Silaturahmi Masyarakat Indramayu Barat (FOSMA INBAR), yang sebelumnya telah mengajukan rencana normalisasi Sungai Cilalanang. Fokus penataan diarahkan pada kawasan sekitar titik nol Calon Ibu Kota Indramayu Barat yang berlokasi di Desa Sukaslamet, Kecamatan Kroya.

Ketua FOSMA INBAR, H. Abdul Rahman, SE, menegaskan bahwa penataan sungai merupakan kebutuhan mendasar dalam mempersiapkan kawasan baru yang berkelanjutan dan berdaya dukung lingkungan.

“Normalisasi Sungai Cilalanang bukan semata persoalan teknis sungai, tetapi menyangkut keberlanjutan wilayah. Air yang tertata akan mendukung pertanian, menjaga lingkungan, dan menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Air sebagai Infrastruktur Dasar Pembangunan Wilayah

Sekretaris FOSMA INBAR, Dr. Caya, SE., M.Si, menambahkan bahwa ketersediaan dan pengelolaan air perlu dipandang sebagai infrastruktur dasar, setara dengan pembangunan jalan dan fasilitas publik lainnya.

“Sering kali pembangunan dipahami sebatas infrastruktur darat. Padahal, air adalah urat nadi kehidupan. Sungai dan waduk yang terawat sangat menentukan kualitas hidup masyarakat, terutama petani dan warga di wilayah hilir,” jelasnya.

Menurut Dr. Caya, normalisasi Sungai Cilalanang tidak hanya menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Pola hujan yang semakin tidak menentu serta musim kemarau yang cenderung lebih panjang menuntut pengelolaan sumber daya air yang lebih adaptif.

Rencana Penataan Sungai dan Waduk

Berdasarkan data teknis yang tersedia, penanganan Sungai Cilalanang direncanakan mencakup alur sungai sepanjang kurang lebih tiga kilometer, mulai dari wilayah Desa Sukaslamet hingga pintu air Sungai Cilalanang. Normalisasi ini diharapkan mampu mengembalikan kapasitas aliran sungai agar berfungsi optimal dalam mengalirkan dan mengendalikan air.

Selain itu, Waduk Cipancuh yang mengalami pendangkalan di sejumlah titik dinilai perlu ditata kembali untuk meningkatkan daya tampung. Dengan kapasitas yang lebih baik, waduk diharapkan dapat menjadi penyangga irigasi pada musim kemarau sekaligus pengendali debit air saat curah hujan tinggi.

Mendukung Ketahanan Pangan dan Mitigasi Bencana

FOSMA INBAR menilai penataan Sungai Cilalanang dan Waduk Cipancuh merupakan bagian dari mitigasi bencana berbasis lingkungan. Sungai dan waduk yang berfungsi dengan baik diyakini mampu menekan risiko banjir dan kekeringan, sekaligus menjaga stabilitas produksi pertanian di wilayah Indramayu Barat.

Dr. Caya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan pembangunan sumber daya air yang berkelanjutan.

“Pendekatan pentahelix menjadi kunci. Ketika pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media berjalan bersama, maka pembangunan sumber daya air akan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” pungkasnya

Dengan penataan Sungai Cilalanang dan Waduk Cipancuh yang dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan, diharapkan wilayah Indramayu Barat tidak hanya lebih tangguh menghadapi risiko bencana, tetapi juga memiliki fondasi sumber daya air yang kokoh untuk mendukung pertanian, kesejahteraan masyarakat, serta arah pembangunan jangka panjang yang berwawasan lingkungan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!