Isra Mi’raj, Perjalanan yang Tidak Pernah Usai
Isra Mi’raj sering kita dengar sebagai kisah agung tentang perjalanan Rasulullah SAW menembus batas ruang dan waktu. Namun sejatinya, peristiwa ini bukan sekadar cerita langit, melainkan pesan kehidupan yang terus relevan hingga hari ini.
Dalam satu malam yang mulia, Rasulullah SAW diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu dinaikkan hingga Sidratul Muntaha. Perjalanan itu bukan untuk menunjukkan keistimewaan Nabi semata, melainkan untuk mewariskan satu pesan utama bagi umat manusia: shalat.
Shalat, Mi’rajnya Orang Beriman
Hj. Sri Wahyuni Utami Herman, S.H. atau yang akrab disapa Bunda SWH, ada makna mendalam mengapa shalat ditetapkan langsung oleh Allah SWT tanpa perantara.
“Di antara sekian banyak perintah, hanya shalat yang ‘turun’ dari langit. Ini menandakan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan ruhani manusia,” ungkap Bunda SWH dalam refleksinya.
Shalat adalah mi’rajnya orang beriman. Jika Rasulullah SAW naik ke hadirat Allah, maka umatnya diberi jalan agar dapat “naik” setiap hari melalui sujud, doa, dan ketundukan hati.
Bukan Rutinitas, Tapi Penjaga Hati
Bunda SWH menekankan bahwa shalat bukan hanya soal menggugurkan kewajiban lima waktu. Shalat adalah:
-
Penjaga hati dari kegelisahan dan amarah
-
Penguat jiwa di saat hidup terasa berat
-
Penuntun arah ketika manusia bingung memilih jalan
Di tengah tantangan kehidupan modern, tekanan ekonomi, konflik sosial, hingga krisis moral shalat hadir sebagai ruang sunyi untuk kembali jujur pada diri sendiri dan pada Allah SWT.
Isra Mi’raj dan Keteguhan Iman dalam Kehidupan Sosial
Sebagai wakil rakyat yang bersentuhan langsung dengan persoalan masyarakat Kabupaten Indramayu, Kota Cirebon, dan Kabupaten Cirebon, Bunda SWH melihat bahwa keteguhan iman memiliki dampak nyata dalam kehidupan sosial dan kepemimpinan.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa:
-
Ketaatan melahirkan kekuatan batin
-
Iman yang terjaga akan menumbuhkan kejujuran
-
Shalat yang hidup akan membentuk sikap adil dan empatik
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Diwajibkan atasku shalat lima waktu pada malam aku diperjalankan (Isra Mi’raj).”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa shalat adalah warisan langit yang dititipkan kepada umat Nabi Muhammad SAW.
Momentum Muhasabah, Bukan Sekadar Seremoni
Peringatan Isra Mi’raj seharusnya tidak berhenti pada seremonial tahunan. Ia adalah momentum muhasabah:
Apakah shalat kita sudah menjadi tempat bersandar, atau sekadar rutinitas yang terburu-buru?
Isra Mi’raj adalah perjalanan Rasulullah SAW
Shalat adalah perjalanan kita,setiap takbir adalah keberangkatan,setiap sujud adalah kedekatan,
dan setiap salam adalah janji untuk hidup lebih baik di bumi.
Hj. Sri Wahyuni Utami Herman, S.H. (Bunda SWH)
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi Partai NasDem – Dapil Jabar XII

















