Dalam kisah besar Mahabharata versi wayang kulit, kehancuran negeri Astina tidak semata-mata disebabkan oleh perang Baratayuda. Jauh sebelum perang pecah, kerusakan telah dimulai dari politik adu domba yang dijalankan secara sistematis, dengan Sengkuni dari Gandara sebagai tokoh sentralnya.
Wayang Jawa dengan halus tetapi tegas menggambarkan bahwa penghancuran sebuah negeri tidak selalu dilakukan oleh raja yang lalim, melainkan oleh penasihat licik yang pandai mengatur konflik dari balik layar.
Gandara: Negeri Luka yang Melahirkan Dendam
Gandara adalah negeri asal Dewi Gandari, permaisuri Prabu Drestarasta. Dalam banyak tafsir pewayangan, Gandara digambarkan sebagai negeri yang menyimpan luka sejarah dan kekecewaan politik. Dari rahim luka inilah lahir Sengkuni.
Sengkuni tidak tumbuh sebagai ksatria medan perang, melainkan sebagai arsitek intrik kekuasaan. Ia membawa dendam personal, tetapi membungkusnya dengan strategi politik. Dalam dunia pewayangan, Gandara bukan hanya wilayah geografis, melainkan simbol kepentingan luar yang menyusup ke pusat kekuasaan.
Sengkuni: Politik Tanpa Nurani
Sengkuni adalah gambaran paling utuh tentang politik tanpa etika. Ia tidak pernah memerintah, tetapi hampir selalu menentukan arah keputusan. Ia tidak kuat secara fisik, tetapi mematikan secara pikiran.
Strategi Sengkuni selalu sama:
-
Mengadu saudara dengan saudara
-
Membesar-besarkan kecurigaan
-
Menanamkan ketakutan akan kehilangan kekuasaan
-
Menormalisasi ketidakadilan demi stabilitas semu
Ia meyakinkan Kurawa bahwa mempertahankan kekuasaan dengan cara licik adalah hal wajar. Dalam konteks ini, wayang mengajarkan bahwa penguasa yang takut kehilangan tahta akan mudah dimanipulasi.
Astina: Negeri yang Rusak Bukan Karena Rakyatnya
Astina tidak runtuh karena rakyat memberontak, tetapi karena elite politiknya sibuk saling mencurigai dan memelihara konflik. Setiap keputusan negara selalu dibayangi bisikan Sengkuni.
Akibatnya:
-
Keadilan dikorbankan demi kekuasaan
-
Hak Pandawa dirampas melalui tipu daya
-
Pembangunan tergantikan oleh persiapan perang
-
Negara menjadi arena konflik, bukan ruang kesejahteraan
Wayang menegaskan bahwa politik adu domba adalah bentuk kekerasan paling sunyi, karena menghancurkan tanpa terlihat.
Perang yang Tak Terelakkan
Sengkuni tidak pernah mengangkat senjata di Baratayuda, tetapi dialah yang paling bertanggung jawab atas terjadinya perang. Dengan kecerdikan tanpa nurani, ia berhasil:
-
Menutup pintu damai
-
Menggagalkan kompromi
-
Menjadikan perang sebagai satu-satunya jalan
Wayang ingin menyampaikan pesan keras: Ketika konflik dipelihara, kehancuran hanyalah soal waktu.
Pelajaran Wayang untuk Zaman Kini
Wayang Jawa tidak menyebut nama zaman, tetapi pesannya lintas generasi. Sengkuni hidup di setiap era, dengan wajah berbeda:
-
Dalam politik yang memecah belah
-
Dalam kebijakan yang memihak kelompok tertentu
-
Dalam elite yang lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan keadilan
Wayang mengingatkan bahwa negeri hancur bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kekuasaan dikelola dengan ketakutan dan tipu daya.
Bahaya Politik Tanpa Kesadaran
Wayang tidak meminta kita membenci Sengkuni, tetapi mewaspadai watak Sengkuni dalam sistem kekuasaan.
Karena ketika pemimpin lebih percaya pada bisikan adu domba daripada suara nurani, maka pembangunan akan berhenti,
dan kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.
Dalam wayang, yang paling berbahaya bukan musuh di medan perang, tetapi penasihat yang merusak dari dalam.

















