Example floating
INTERMEZZO

Refleksi Akhir Tahun : Menata Ulang Masa Depan Tenaga Migran Indramayu

1079
×

Refleksi Akhir Tahun : Menata Ulang Masa Depan Tenaga Migran Indramayu

Sebarkan artikel ini

intermezzo akhir tahun 2025  # Migrasi: Jalan Sunyi yang Dipilih Banyak Warga Desa

Di banyak desa di Indramayu, migrasi kerja bukan sekadar cerita ekonomi. Ia adalah cerita keluarga, cerita pengorbanan, dan cerita harapan. Ketika peluang kerja lokal terasa sempit, bekerja ke luar negeri menjadi jalan sunyi yang ditempuh—bukan tanpa risiko, namun penuh harap.

Setiap keberangkatan PMI selalu diiringi doa, kecemasan, dan janji pada diri sendiri untuk pulang membawa perubahan. Karena itu, membicarakan tenaga migran Indramayu seharusnya tidak berhenti pada angka penempatan, tetapi menyentuh nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

Indramayu dan Cermin Ketimpangan Pembangunan

Tingginya jumlah PMI asal Indramayu sejatinya adalah cermin jujur tentang kondisi daerah. Ia menunjukkan bahwa:

  • Pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya inklusif

  • Lapangan kerja produktif belum merata

  • Desa masih menjadi penyedia tenaga, bukan pusat nilai tambah

Migrasi lalu menjadi mekanisme adaptif masyarakat desa untuk bertahan. Namun, ketergantungan jangka panjang pada migrasi juga menyimpan risiko sosial: keluarga terpisah, anak tumbuh tanpa pendampingan optimal, dan purna PMI yang belum tentu siap menghadapi realitas baru di kampung halaman.

Dari Logika Penempatan ke Etika Perlindungan

Beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan penting: pendekatan kebijakan mulai bergeser. Migrasi tidak lagi dilihat semata sebagai urusan penempatan tenaga kerja, tetapi sebagai proses panjang yang harus dijaga dari hulu hingga hilir.

Perlindungan PMI kini mulai dimaknai sebagai:

  • Hak atas informasi yang benar

  • Hak atas keamanan dan keselamatan kerja

  • Hak atas pendampingan saat terjadi persoalan

  • Hak untuk kembali dan membangun kehidupan yang lebih baik

Ini adalah langkah maju. Namun, kebijakan hanya akan bermakna jika benar-benar menyentuh lapisan paling bawah: desa dan keluarga PMI.

Desa: Ruang Harapan yang Paling Dekat dengan PMI

Di tengah keterbatasan negara yang sering terasa jauh, desa justru menjadi ruang paling nyata bagi pekerja migran. Di sanalah keluarga tinggal, data bermula, dan dampak migrasi paling terasa.

Penguatan peran desa melalui regulasi, pendampingan, dan program ekonomi adalah kunci. Desa yang mampu:

  • Memberi literasi migrasi aman

  • Mencatat dan memantau warganya

  • Mendampingi keluarga yang ditinggalkan

  • Menyiapkan jalan pulang yang produktif

akan menjadi desa yang tidak sekadar melepas warganya pergi, tetapi menjaga mereka dengan penuh tanggung jawab.

Purna PMI: Titik Balik yang Sering Terabaikan

Satu fase yang kerap luput dari perhatian adalah masa setelah kepulangan. Banyak PMI kembali dengan pengalaman hidup yang luar biasa, namun tanpa ekosistem yang mendukung, pengalaman itu mudah menguap.

Tanpa pendampingan:

  • Remitansi habis tanpa arah

  • Keterampilan tidak terkonversi menjadi usaha

  • Migrasi kembali menjadi satu-satunya opsi

Di titik inilah negara dan daerah diuji: apakah kepulangan PMI benar-benar menjadi awal baru, atau hanya jeda sebelum keberangkatan berikutnya.

Menata Ulang Arah: Migrasi yang Lebih Manusiawi

Ke depan, Indramayu membutuhkan peta jalan yang lebih jujur dan berani. Migrasi tidak harus dimusuhi, tetapi harus dikelola dengan nilai kemanusiaan.

Beberapa arah penting yang patut diperkuat:

  1. Migrasi yang aman dan bertanggung jawab

  2. Pemberdayaan purna PMI yang berkelanjutan

  3. Penguatan ekonomi lokal agar migrasi menjadi pilihan, bukan keterpaksaan

  4. Kolaborasi lintas sektor: desa, pemerintah, komunitas, dan dunia usaha

 Mengembalikan Makna Pulang

Pada akhirnya, yang paling penting dari seluruh proses migrasi adalah makna pulang. Pulang bukan sekadar kembali secara fisik, tetapi kembali dengan:

  • Rasa aman

  • Kehidupan yang lebih layak

  • Kesempatan untuk tumbuh di tanah sendiri

Migrasi seharusnya membuka jalan menuju kehidupan yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih berdaya, bukan sebaliknya.

Jika Indramayu mampu menata ini dengan sungguh-sungguh, maka pekerja migran tidak lagi dipandang sebagai “yang pergi karena terpaksa”, melainkan warga yang berjuang dan dilindungi sepenuhnya oleh daerahnya sendiri.

oleh : Tamrin, SE.,M.Si.

Pemerhati Sosial dan  Ekonomi Masyarakat Cilik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!