intermezzo #Pemekaran Butuh Mental Siap, Administrasi Tuntas, dan Ekonomi yang Berdaulat
Tugu Titik Nol: Bukan Sekadar Monumen Seremonial
Berdirinya Tugu Titik Nol Kilometer Indramayu Barat di Desa Sukaslamet, Kecamatan Kroya, tidak boleh dipahami semata sebagai monumen seremonial. Lebih dari itu, tugu ini adalah simbol kesadaran kolektif bahwa perjuangan menuju Daerah Otonomi Baru (DOB) telah memasuki fase reflektif: bukan hanya soal ingin mekar, tetapi sejauh mana kesiapan untuk berdiri mandiri.
Bagi masyarakat, tugu ini menumbuhkan rasa bangga dan harapan. Namun bagi seorang jurnalis yang mencermati dinamika daerah, tugu tersebut juga menjadi pengingat bahwa simbol harus diiringi substansi.
Pemekaran Daerah dan Pelajaran dari Pengalaman Nasional
Sejarah pemekaran daerah di Indonesia memberikan banyak pelajaran. Tidak sedikit daerah otonomi baru yang lahir dengan semangat besar, tetapi kemudian terseok karena lemahnya fondasi ekonomi. Ketergantungan fiskal, minimnya lapangan kerja, dan ketidaksiapan sumber daya manusia menjadi masalah berulang.
Indramayu Barat memiliki kesempatan untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut. Tugu Titik Nol seharusnya dibaca sebagai titik evaluasi agar pemekaran tidak berhenti pada kebanggaan administratif semata.
Kesiapan Psikologis dan Administrasi: Fondasi Awal yang Wajib
Tidak dapat dimungkiri, kesiapan psikologis masyarakat dan kelengkapan administrasi adalah fondasi awal yang mutlak. Aspirasi yang kuat, dukungan politik, serta dokumen perencanaan yang matang menjadi syarat penting dalam proses pemekaran.
Namun fondasi, sejatinya hanyalah pijakan awal. Bangunan masa depan Indramayu Barat tidak akan kokoh jika hanya bertumpu pada semangat dan berkas administrasi tanpa ditopang kekuatan ekonomi nyata.
Ekonomi Masyarakat, Penentu Keberlanjutan Daerah Otonomi Baru
Di sinilah inti refleksi Tugu Titik Nol Kilometer menemukan maknanya. Kesiapan ekonomi masyarakat harus menjadi agenda utama. Pemekaran daerah pada akhirnya akan diuji oleh satu pertanyaan mendasar: apakah masyarakatnya lebih sejahtera?
Ekonomi rakyat mulai dari petani, nelayan, UMKM, hingga pekerja lokal harus menjadi subjek utama pembangunan. Tanpa penguatan ekonomi masyarakat, pemekaran berisiko hanya memindahkan pusat kekuasaan, bukan meningkatkan kualitas hidup warga.
Potensi Indramayu Barat: Dari Pertanian hingga Kawasan Industri
Indramayu Barat sejatinya memiliki modal besar. Lahan pertanian luas, wilayah pesisir yang produktif, serta posisi strategis yang beririsan dengan jalur industri dan logistik nasional. Potensi ini tidak boleh berhenti sebagai data kajian akademik, tetapi harus diterjemahkan menjadi kebijakan nyata.
Pengembangan kawasan industri, infrastruktur jalan, dan rencana exit tol harus dikaitkan langsung dengan peningkatan nilai ekonomi masyarakat lokal, bukan semata kepentingan investasi.
Industrialisasi Harus Berpihak pada Warga Lokal
Industrialisasi di Indramayu Barat tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari kehidupan masyarakat. Pabrik dan kawasan industri harus membuka ruang kerja bagi tenaga lokal, mendorong tumbuhnya UMKM pendukung, serta menciptakan ekosistem ekonomi yang berkeadilan.
Jika tidak, industrialisasi justru akan melahirkan ketimpangan baru: daerah berkembang, tetapi masyarakat setempat tertinggal.
Peran Pemerintah Daerah dan Organisasi Masyarakat
Dalam konteks ini, sinergi antara Pemerintah Kabupaten Indramayu dan organisasi masyarakat seperti FOSMA Inbar menjadi sangat penting. Pemerintah berperan menyiapkan kebijakan dan infrastruktur, sementara elemen masyarakat mengawal agar arah pembangunan tetap berpihak pada kepentingan publik.
Kolaborasi pentahelix pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media harus terus dijaga agar proses menuju DOB berjalan seimbang antara visi besar dan realitas lapangan.
Tugu Titik Nol sebagai Titik Kesadaran Bersama
Tugu Titik Nol Kilometer Indramayu Barat sejatinya adalah titik kesadaran. Kesadaran bahwa pemekaran bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk menghadirkan keadilan pembangunan dan kesejahteraan yang lebih merata.
Titik nol bukan garis start yang kosong, melainkan pengingat bahwa langkah berikutnya harus lebih terukur, lebih berpihak, dan lebih membumi.
Menjaga Harapan, Menyiapkan Masa Depan Indramayu Barat
Jika kelak Indramayu Barat benar-benar lahir sebagai kabupaten baru, keberhasilannya tidak akan diukur dari seberapa cepat ia mekar, tetapi dari seberapa kuat ekonomi masyarakatnya tumbuh.
Tugu Titik Nol Kilometer akan selalu berdiri sebagai saksi sejarah. Pertanyaannya kini, apakah kita mampu mengisi makna tugu tersebut dengan kebijakan, kerja nyata, dan keberpihakan pada rakyat. Di sanalah masa depan Indramayu Barat akan ditentukan.
Oleh : Tosu – Toto Suranto
Redaksi iqronews.click dan Citizen Journalist

















