INDRAMAYU # Ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar minyak mentah tersedia, tetapi juga oleh kemampuan mengelolanya menjadi produk energi secara aman, andal, dan tepat waktu. Di tengah perubahan pola pasokan bahan baku, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Balongan memperkuat langkah untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terjaga.
Upaya tersebut terlihat melalui pelaksanaan Management Walkthrough (MWT) jajaran manajemen Integrated Quality & Quantity Assurance (IQQA) PT Pertamina (Persero) ke PT Pertamina Patra Niaga (PPN) RU Balongan, Indramayu.
Kegiatan yang dipusatkan di Gedung Amanah Kompleks RU Balongan tersebut dipimpin langsung Vice President Integrated Quality & Quantity Assurance (VP IQQA) PT Pertamina (Persero), Deby Irawan Sanjaya, bersama jajaran manajemen. Tim MWT diterima Executive General Manager RU Balongan, Yulianto Triwibowo, beserta perwakilan tim manajemen RU Balongan.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda rutin perusahaan. Di balik pemeriksaan dan evaluasi yang dilakukan, terdapat kepentingan yang jauh lebih luas, yakni memastikan proses pengolahan minyak mentah dapat berjalan optimal sehingga kebutuhan energi masyarakat, khususnya Solar, tetap tersedia.
Menghadapi Perubahan Pasokan dengan Fleksibilitas Kilang
Salah satu perhatian utama dalam kunjungan tersebut adalah kondisi pasokan minyak mentah atau crude oil, termasuk bagaimana kilang merespons perubahan jumlah maupun pola suplai bahan baku.
Bagi sebuah kilang, ketersediaan bahan baku merupakan bagian penting dari kesinambungan produksi. Namun, dinamika pasokan membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi tanpa mengorbankan aspek keselamatan, kualitas maupun keandalan fasilitas.
Executive General Manager RU Balongan Yulianto Triwibowo mengatakan, MWT IQQA Holding menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keandalan kilang.
Menurutnya, RU Balongan terus berupaya mempertahankan fleksibilitas dan keandalan operasional di tengah tantangan pemenuhan bahan baku.
“Di tengah tantangan pasokan pemenuhan bahan baku RU Balongan terus berupaya menjaga fleksibilitas dan keandalan operasional demi pemenuhan BBM nasional,” ujar Yulianto.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa keberadaan kilang tidak berhenti pada aktivitas produksi. Kilang juga memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan rantai pasok energi dari bahan baku hingga produk yang digunakan masyarakat.
Solar Nasional Menjadi Salah Satu Perhatian Utama
Yulianto juga menyoroti tingginya kebutuhan Solar nasional di tengah dinamika suplai bahan baku.
RU Balongan, kata dia, saat ini menjadi salah satu “benteng utama” atau bumper dalam merespons perubahan pola suplai energi nasional. Karena itu, kemampuan kilang untuk menyesuaikan proses pengolahan menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan BBM.
“Kami terus berupaya maksimal menjaga fleksibilitas dan keandalan pengolahan agar ketersediaan BBM, khususnya Solar, tetap terjaga aman di masyarakat,” ujar Yulianto.
Bagi masyarakat, persoalan tersebut mungkin terlihat sederhana ketika BBM tersedia di SPBU. Namun di balik ketersediaan tersebut terdapat rangkaian proses panjang yang dimulai dari pengadaan dan pengiriman minyak mentah, pengolahan di kilang, pengawasan kualitas dan kuantitas, hingga distribusi produk energi.
Karena itu, keandalan kilang menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga stabilitas rantai pasok energi.
Produksi Akasia Prima Meningkat, Pertamina Siapkan Langkah Strategis
Dalam arahannya, VP IQQA Pertamina Deby Irawan Sanjaya menjelaskan bahwa kunjungan MWT tersebut merupakan tindak lanjut arahan Direktur Logistik & Infrastruktur PT Pertamina (Persero), Jaffee Arizon Suardin.
Fokusnya adalah memastikan proses lifting dan pengolahan minyak mentah berlangsung secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Salah satu dinamika yang menjadi perhatian adalah peningkatan produksi dari sumur Akasia Prima. Deby menyebut produksi dari sumur tersebut mengalami peningkatan tajam dibandingkan perkiraan awal.
“Produksi dari sumur Akasia Prima saat ini mengalami peningkatan tajam dari perkiraan awal. Ini adalah berkah besar bagi Pertamina, namun harus dikelola dengan kewaspadaan tinggi,” papar Deby.
Peningkatan produksi pada dasarnya merupakan peluang positif karena memperkuat ketersediaan bahan baku. Namun, tambahan pasokan juga membutuhkan kesiapan sistem untuk menerima, mengelola, mengolah, dan mendistribusikannya.
Dengan kata lain, lebih banyak bahan baku harus diikuti kesiapan infrastruktur dan tata kelola.
Tim IQQA bersama fungsi terkait pun menyiapkan langkah-langkah strategis agar tantangan tersebut dapat diatasi tanpa mengganggu operasional kilang, keselamatan kerja maupun perlindungan lingkungan.
Keandalan Energi Harus Berjalan Bersama Keselamatan
Hal penting lain yang ditekankan dalam MWT adalah aspek Health, Safety, and Environment (HSE) atau keselamatan, kesehatan kerja dan perlindungan lingkungan.
Dalam industri pengolahan energi, target produksi tidak dapat berdiri sendiri. Produktivitas harus berjalan beriringan dengan keselamatan pekerja dan lingkungan.
Deby menegaskan bahwa perlindungan terhadap pekerja dan lingkungan menjadi bagian utama dalam menjaga keberlanjutan operasional perusahaan.
Pemantauan kondisi fisik pekerja di area operasional serta langkah mitigasi kesehatan lingkungan dilakukan secara berkala melalui kerja sama dengan tim HSSE.
“Kesehatan pekerja dan perlindungan lingkungan merupakan aspek utama. HSSE bukan hanya soal keselamatan kerja, tetapi juga pemeliharaan lingkungan yang berdampak pada reputasi dan keberlanjutan perusahaan,” tegas Deby.
Pesan ini penting dipahami publik. Keandalan sebuah fasilitas energi tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak produk yang dihasilkan. Keandalan juga harus dilihat dari seberapa aman prosesnya bagi manusia dan lingkungan.
Dari Pemeriksaan Lapangan hingga Rencana Tindak Lanjut
Rangkaian MWT dilanjutkan dengan pemaparan profil operasi kilang dan site visit ke sejumlah area kritis.
Kunjungan lapangan menjadi bagian penting karena evaluasi operasional tidak cukup dilakukan hanya melalui laporan administratif. Kondisi aktual di lapangan perlu dilihat secara langsung agar berbagai potensi tantangan dapat dipahami secara lebih utuh.
Setelah rangkaian pemeriksaan dan diskusi, kegiatan ditutup dengan Focus Group Discussion (FGD).
Forum tersebut digunakan untuk merumuskan Rencana Tindak Lanjut (RTL) bersama sebagai bagian dari upaya menjaga keandalan pasokan energi nasional secara berkelanjutan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa menjaga ketahanan energi merupakan pekerjaan bersama yang membutuhkan koordinasi antara fungsi hulu, pengolahan, logistik, pengawasan kualitas dan kuantitas, hingga aspek keselamatan dan lingkungan.
Pelajaran bagi Publik: Energi Andal Dimulai dari Tata Kelola yang Konsisten
Dari kegiatan MWT di RU Balongan, terdapat satu pesan penting yang dapat dipetik masyarakat: ketahanan energi bukan hanya persoalan ketersediaan minyak, melainkan juga kemampuan mengelola seluruh rantai energi secara konsisten dan bertanggung jawab.
Ketika produksi minyak mentah meningkat, sistem harus siap. Ketika pola suplai berubah, kilang harus fleksibel. Ketika kebutuhan Solar meningkat, proses pengolahan harus mampu merespons. Dan dalam setiap kondisi, keselamatan pekerja serta lingkungan tetap menjadi batas yang tidak boleh dikompromikan.
Dalam konteks tersebut, pengawasan kualitas dan kuantitas memiliki arti penting. Produk energi yang sampai kepada masyarakat harus memenuhi standar yang telah ditetapkan, sementara proses produksinya harus berlangsung secara aman dan terkendali.
Konsistensi inilah yang pada akhirnya menjadi fondasi kepercayaan publik terhadap sistem energi nasional.
Menjaga Energi, Menjaga Aktivitas Masyarakat
Keandalan Kilang Balongan memiliki arti yang melampaui kepentingan operasional perusahaan. BBM merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat, mulai dari transportasi, distribusi barang, kegiatan ekonomi hingga berbagai aktivitas produktif lainnya.
Karena itu, upaya menjaga pasokan energi secara berkelanjutan pada dasarnya merupakan upaya menjaga roda kehidupan masyarakat tetap bergerak.
MWT IQQA di RU Balongan menjadi salah satu gambaran bagaimana tantangan tersebut dihadapi melalui evaluasi, koordinasi, pengawasan dan tindak lanjut.
Di tengah dinamika energi yang terus berubah, fleksibilitas menjadi kebutuhan. Namun fleksibilitas tanpa tata kelola yang baik dapat menimbulkan risiko. Karena itu, keseimbangan antara keandalan produksi, kualitas dan kuantitas, keselamatan pekerja, perlindungan lingkungan, serta kesinambungan pasokan menjadi kunci.
Harapannya, langkah-langkah strategis yang disiapkan Pertamina dapat semakin memperkuat peran RU Balongan dalam menjaga pasokan energi nasional.
Sebab pada akhirnya, ketahanan energi bukan hanya tentang bagaimana sebuah kilang tetap berproduksi, tetapi tentang bagaimana energi dapat hadir secara aman, berkualitas, berkelanjutan, dan dapat diandalkan masyarakat.















