SPIRITUAL

Khutbah Jumat Menyentuh Hati: Ramadan Adalah Waktu Terbaik Kembali ke Al-Qur’an

Avatar photo
962
×

Khutbah Jumat Menyentuh Hati: Ramadan Adalah Waktu Terbaik Kembali ke Al-Qur’an

Sebarkan artikel ini

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, kita diingatkan kembali pada sebuah peristiwa agung dalam sejarah Islam, yaitu turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.

Para ulama menjelaskan bahwa terdapat beberapa pendapat mengenai tanggal turunnya Al-Qur’an untuk pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam kitab Tafsir At-Thabari, jilid 10 halaman 14, disebutkan bahwa Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

“Malam Al-Furqan, yaitu malam bertemunya dua pasukan dalam Perang Badar, terjadi pada tanggal 17 Ramadan.”

Sebagian ulama kemudian mengaitkan kemuliaan tanggal tersebut dengan peristiwa penting dalam sejarah Islam.

Namun terdapat pula pendapat lain. Dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri disebutkan bahwa wahyu pertama turun pada tanggal 21 Ramadan.

Pendapat lainnya menyatakan bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada tanggal 24 Ramadan, sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Imam Ibnu Katsir.

Perbedaan pendapat ini menunjukkan bahwa para ulama meneliti sejarah dengan sangat serius. Namun yang lebih penting untuk kita pahami adalah bagaimana proses turunnya Al-Qur’an itu sendiri.

Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan melalui tiga tahap besar.

Pertama, Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus dari Allah SWT ke Al-Lauh Al-Mahfuzh, yaitu tempat penyimpanan seluruh ketentuan Allah.

Kedua, Al-Qur’an diturunkan kembali secara sekaligus dari Al-Lauh Al-Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia, yaitu langit yang paling dekat dengan bumi.

Ketiga, barulah Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur melalui Malaikat Jibril sesuai dengan peristiwa dan kebutuhan umat saat itu.

Proses turunnya wahyu kepada Nabi ini berlangsung selama kurang lebih 20 hingga 23 tahun, bahkan sebagian ulama menyebut hingga 25 tahun, tergantung perbedaan pendapat tentang lamanya Nabi tinggal di Makkah setelah diangkat menjadi Rasul.

Sebagian ulama mengatakan 10 tahun di Makkah, sebagian mengatakan 13 tahun, dan ada pula yang berpendapat 15 tahun. Sedangkan masa dakwah Nabi di Madinah disepakati berlangsung selama 10 tahun.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Dari sini kita memahami bahwa Al-Qur’an tidak hanya sekadar kitab suci, tetapi petunjuk hidup yang diturunkan secara bertahap agar manusia mampu memahaminya dan mengamalkannya.

Karena itu, ketika kita memperingati Nuzulul Qur’an di bulan Ramadan, tujuan utamanya bukan sekadar mengetahui tanggalnya, tetapi meningkatkan hubungan kita dengan Al-Qur’an: membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu dekat dengan Al-Qur’an.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Namun jamaah yang dimuliakan Allah,

Perbedaan tanggal tersebut sebenarnya bukanlah hal yang paling penting bagi kehidupan kita.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Setidaknya ada dua cara bagaimana kita memfungsikan Al-Qur’an, yaitu secara kuantitatif dan kualitatif.

Pertama: Fungsi Kuantitatif

Kita membaca Al-Qur’an sebanyak mungkin dengan harapan mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.”
(HR. At-Tirmidzi)

Bahkan Rasulullah menjelaskan bahwa Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.

Ini menunjukkan betapa besar pahala membaca Al-Qur’an.

Karena itu, di bulan Ramadan kita dianjurkan untuk memperbanyak tilawah Al-Qur’an, memperbanyak membaca, dan memperbanyak khatam.

Namun jamaah sekalian,

Al-Qur’an tidak hanya diturunkan untuk dibaca saja.

Kedua: Fungsi Kualitatif

Artinya Al-Qur’an kita baca, kita pelajari, dan kita pahami maknanya agar dapat menjadi pedoman hidup.

Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu, dan pembeda antara yang benar dan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita renungkan sebuah perumpamaan.

Jika kita hendak pergi ke negeri China, sementara kita tidak mengetahui negeri tersebut, maka kita memerlukan peta atau buku petunjuk agar tidak tersesat.

Namun jika peta tersebut menggunakan bahasa yang tidak kita pahami, maka peta itu tidak akan membantu kita menemukan jalan.

Begitu pula dengan Al-Qur’an.

Jika kita hanya membacanya tanpa berusaha memahami maknanya, maka kita berpotensi tidak mendapatkan petunjuk hidup dari Al-Qur’an.

Karena itu kita perlu memperbaiki cara kita berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Bukan hanya fokus pada berapa banyak kita membaca, tetapi juga seberapa dalam kita memahami.

Sudah berapa ayat yang kita pahami artinya?
Sudah berapa ayat yang kita pelajari tafsirnya?
Sudah berapa ayat yang kita ketahui sebab turunnya?

Dengan memahami itu semua, kita dapat mengambil hikmah, hukum, dan pelajaran hidup dari Al-Qur’an.

Rasulullah SAW sendiri menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperdalam pemahaman Al-Qur’an.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA:

كَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

“Malaikat Jibril menemui Nabi setiap malam di bulan Ramadan untuk mempelajari Al-Qur’an bersama beliau.”
(HR. Ahmad)

Tidak mengherankan jika Ummul Mukminin Aisyah RA pernah mengatakan tentang akhlak Rasulullah:

كَانَ أَخْلَاقُهُ الْقُرْآن

“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.”

Karena itu marilah kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, bukan hanya dengan membaca, tetapi juga dengan memahami dan mengamalkannya.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Allah SWT memerintahkan kita untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an secara mendalam.

Sebagaimana firman-Nya:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْبَابِ

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”
(QS. Shad: 29)

Karena itu, marilah kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk memperbaiki hubungan kita dengan Al-Qur’an.

Belajar dari para ulama, menghadiri majelis ilmu, dan mempelajari tafsir Al-Qur’an.

Semoga dengan itu Al-Qur’an menjadi petunjuk hidup kita di dunia dan pemberi syafaat bagi kita di akhirat.

Doa

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا، وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا.

اللّٰهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنَا فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ،

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!