KAPASITAS

Bukan Sekadar Kartini, SMPN 1 Anjatan Tunjukkan Ini

Avatar photo
605
×

Bukan Sekadar Kartini, SMPN 1 Anjatan Tunjukkan Ini

Sebarkan artikel ini

Pagi Itu Halaman Sekolah Berubah Total

Pagi, Selasa 21 April 2026 halaman SMPN 1 Anjatan Suasana berbeda.
Batik, kebaya, dan busana adat memenuhi lapangan upacara. Warna-warni tradisi menyatu dengan wajah-wajah Ceria yang tampak lebih percaya diri dari biasanya.

Tak semua peringatan Hari Raden Ajeng Kartini terasa hidup. Tapi di sini berbeda.

Yang terasa bukan hanya meriah.
Ada keberanian yang sedang tumbuh.

Pertanyaannya: apakah semangat itu akan bertahan setelah 21  April ?

Bukan Sekadar Lomba, Ini Latihan Mental dan Kepemimpinan

Kegiatan diawali dengan apel bersama. Seluruh siswa dan guru berdiri tertib di lapangan. Suasana Khidmat penuh semangat  namun terarah cerminan sekolah sebagai ruang Wiyatamandala: aman, disiplin, dan mendidik.

Dalam sambutannya, Kepala SMPN 1 Anjatan, Fitra Susanto, ST., menyampaikan pesan yang sederhana namun kuat.

“Semangat Kartini bukan hanya mengenang sejarah. Ini tentang keberanian belajar tanpa batas, berani bermimpi, dan percaya diri. Baik laki-laki maupun perempuan punya kesempatan yang sama untuk maju,” tegasnya.

Kalimat itu bukan sekadar formalitas.
Ia menjadi arah kegiatan hari itu.

Setelahnya, panggung diisi tari tradisional yang menggambarkan kelembutan sekaligus keteguhan. Lomba majalah dinding (mading) tiap kelas memamerkan puisi, ilustrasi, dan tulisan kritis tentang emansipasi serta peran pelajar masa kini.

Lomba puisi menjadi ruang siswa menyuarakan gagasan tentang pendidikan dan masa depan. Cosplay tokoh inspiratif pun tampil berbeda setiap peserta menjelaskan nilai perjuangan tokoh yang diperankan.

Bukan sekadar tampil.
Mereka belajar memahami makna.

Suara Ketua OSIS: Kami Belajar Tanggung Jawab

Di balik kelancaran acara, ada kerja kolektif pengurus OSIS. Ketua OSIS SMPN 1 Anjatan, Mahira Hasna Kamila, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dirancang bukan hanya untuk seru-seruan.

“Kami ingin teman-teman merasakan bahwa Kartini itu relevan dengan kehidupan pelajar sekarang. Berani tampil, berani menyampaikan pendapat, dan saling mendukung itu yang paling penting,” ujarnya.

Mahira juga mengakui proses persiapan menjadi pembelajaran tersendiri.

“Mengatur acara itu tidak mudah. Kami belajar kerja tim, membagi tugas, dan bertanggung jawab. Di situ kami merasa benar-benar belajar menjadi lebih dewasa.”

Di titik itu, pendidikan tidak hanya terjadi di kelas.
Ia hidup dalam pengalaman.

Keberanian Kecil yang Membuat Orang Tua Bangga

Salah satu siswi peserta lomba puisi mengaku sempat gemetar sebelum maju mengurai bait puisi.

“Biasanya saya takut bicara di depan banyak orang. Tapi hari ini saya ingin mencoba. Rasanya bangga bisa menyelesaikan puisi sampai akhir,” katanya.

Keberanian kecil itu terlihat sederhana.
Namun dampaknya besar.

Seorang orang tua yang hadir menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini membuat anak lebih percaya diri dan terbuka.

Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai.
Ia menjadi tempat membangun sikap.

Harapan Agar Tidak Berhenti di Momentum

Kegiatan seperti ini tentu patut diapresiasi. Namun satu hal yang perlu dijaga adalah konsistensi.

Semangat kesetaraan, keberanian berbicara, dan kreativitas tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan. Pendidikan karakter membutuhkan kesinambungan.

Apakah budaya percaya diri ini akan menjadi kebiasaan harian?

Harapannya, ya.

Karena ketika siswa diberi ruang aman untuk tumbuh, didengar pendapatnya, dan dihargai usahanya, mereka sedang dibentuk menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan zaman.

Di Sini, Kartini Tidak Hanya Dikenang

Peringatan Hari Kartini di SMPN 1 Anjatan membuktikan bahwa sekolah bisa menjadi ruang yang hidup, ruang yang melatih keberanian, kepemimpinan, dan empati secara bersamaan.

Ada tawa.
Ada gugup.
Ada bangga.

Dan di balik semua itu, ada karakter yang sedang dibangun pelan-pelan.

Karena pendidikan sejati tidak diukur dari meriahnya acara, tetapi dari keberanian yang tetap hidup setelah tepuk tangan usai.

    Baca Fakta Edukasi Berita

     Jangan Berhenti di 21 April

  • Kegiatan seperti ini tidak boleh berhenti sebagai agenda tahunan.
  • Satu anak berani bicara hari ini. Besok mungkin ia berani memimpin.
  • Semangat Kartini harus hidup di hari-hari biasa di kelas, di rapat guru, di cara siswa saling menghormati.
  • Pendidikan sejati tidak diukur dari panggungnya, tetapi dari karakter yang tumbuh setelahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!