Rapat Serius, Jawaban Meyakinkan, Realita Bikin Pening
Suasana rapat kerja di gedung DPRD Kabupaten Indramayu siang itu mendadak terasa panas. Bukan karena pendingin ruangan rusak, tapi karena pembahasan soal penegakan Perda Kawasan Tanpa Rokok yang dinilai masih banyak bocor di lapangan.
Di tengah rapat itu hadir H. Dalam, S.H., KN., anggota DPRD Kabupaten Indramayu dari Fraksi PKB. Beliau duduk sambil memperhatikan penjelasan dari pihak Satpol PP yang terdengar begitu meyakinkan.
“Bagaimana soal penertiban iklan rokok dekat sekolah?” tanya H. Dalam, S.H., KN.
Sekretaris Satpol PP langsung menjawab cepat.
“Sudah ditertibkan pak.”
“Patroli rutin?”
“Rutin pak.”
Jawabannya mantap. Lancar. Nyaris tanpa jeda.
Orang-orang di ruang rapat mulai mengangguk-ngangguk. Ada yang serius mencatat, ada yang sibuk menyeruput kopi, bahkan ada yang diam-diam buka grup WhatsApp keluarga.
Sampai akhirnya rapat selesai.
Dan di situlah drama sebenarnya dimulai.
Baru Jalan 50 Meter, Fakta Langsung Menyambut
Baru sekitar 50 meter keluar dari lokasi rapat, langkah H. Dalam, S.H., KN. mendadak melambat.
Matanya tertuju pada sebuah spanduk rokok besar yang berdiri santai di pinggir jalan.
Spanduk itu terlihat gagah. Berkibar tenang diterpa angin siang.
Seolah tidak punya rasa bersalah sedikit pun.
Seorang staf yang ikut berjalan langsung salah tingkah.
“Pak… mungkin itu belum sempat dicopot…”
H. Dalam cuma senyum kecil.
Belum selesai sampai situ.
Saat melintas di dekat area sekolah, kembali terlihat spanduk rokok terpampang jelas di kawasan pendidikan.
Padahal barusan di dalam rapat disebutkan patroli berjalan rutin.
H. Dalam, S.H., KN. hanya menggeleng pelan.
“Ini patroli apa main petak umpet…” celetuknya sambil tertawa tipis.
Status Medsos yang Langsung Bikin Netizen Panas
Malam harinya, media sosial mulai ramai.
H. Dalam, S.H., KN. mengunggah status bernada sindiran yang langsung menarik perhatian warga.
“Hadueuh, Satpol PP Indramayu tipologi nya harus diturunkan atau dinaikkan?”
Netizen langsung berdatangan memenuhi kolom komentar.
Ada yang menulis:
“Patrolinya mode invisible pak.”
Yang lain membalas:
“Mungkin patroli virtual.”
Bahkan ada bapak-bapak yang komentarnya terasa seperti filosofi warung kopi:
“Kadang yang rutin itu laporannya, bukan kegiatannya.”
Kolom komentar mendadak berubah seperti panggung stand-up comedy rakyat.
Lucu, tapi menohok.
Fenomena “Yang Penting Sudah Laporan”
Di kehidupan sehari-hari, memang ada kebiasaan unik yang sering terjadi.
Kadang orang lebih fokus membuat laporan terlihat rapi dibanding memastikan hasilnya benar-benar nyata.
Kayak mahasiswa yang bilang tugas sudah hampir selesai…
padahal baru bikin cover.
Atau bapak-bapak yang bilang mau diet mulai Senin…
tapi malam Minggu masih nambah sate dua porsi.
Begitu juga di era sekarang.
Masyarakat bukan cuma mendengar penjelasan. Mereka melihat langsung kenyataan di lapangan.
Karena satu warga pegang HP sekarang bisa jadi “tim investigasi dadakan”.
Hikmah Amanah di Tengah Humor Sosial
Di balik cerita lucu ini sebenarnya ada pesan sederhana tentang amanah dan tanggung jawab.
Dalam kehidupan, jabatan dan tugas bukan sekadar formalitas untuk dilaporkan. Tapi harus benar-benar dijalankan dengan jujur dan sungguh-sungguh.
Dalam Islam pun diajarkan bahwa amanah sekecil apa pun akan dimintai pertanggungjawaban.
Makanya masyarakat kadang kecewa bukan karena petugas salah semata, tapi karena ucapan dan kenyataan terasa terlalu jauh jaraknya.
Dan mungkin benar kata warga di warung kopi:
“Kalau spanduk aja masih berdiri santai depan kantor, berarti yang capek mungkin cuma mulut pas rapat.”
Orang-orang tertawa.
Tapi setelah itu… mendadak sama-sama diam sambil mikir.







