QISOS !!! Mari Kita Istighfar dan Introspeksi Bersama
Apa yang terjadi saat aksi demonstrasi berujung rusuh seharusnya menjadi bahan renungan bersama. Bukan sekadar mencari siapa yang salah, tetapi memahami sebab dan akibat dari peristiwa tersebut.
Dalam kehidupan, setiap tindakan pasti memiliki reaksi. Ketika masyarakat diperhadapkan pada persoalan yang menyangkut keberlangsungan hidup, emosi menjadi sesuatu yang sangat manusiawi. Bahkan makhluk hidup yang hanya mengandalkan insting pun akan bertahan mati-matian ketika terancam.
Lalu, bagaimana dengan manusia yang memiliki rasa, akal, dan harapan?
Dari Aspirasi ke Amarah
Bayangkan seorang anak yang sedang menghadapi masalah besar. Ia datang kepada orang tuanya, berharap didengar dan dibantu. Namun, berkali-kali datang, ia tak pernah ditemui. Diabaikan. Tidak dianggap.
Apakah salah jika suatu saat emosinya meledak?
Kemarahannya mungkin bukan tanpa arah. Ia tahu siapa yang harus bertanggung jawab. Namun karena tidak adanya ruang komunikasi, emosi itu berubah menjadi tindakan bahkan merusak.
Pertanyaannya,
pantaskah orang tua hanya menuntut ganti rugi tanpa pernah mau memahami luka si anak?
Pemerintah: Pelayan atau Penghindar?
Dalam konteks pemerintahan, pemimpin daerah sejatinya adalah pelayan masyarakat. Ketika rakyat datang menyampaikan aspirasi, seharusnya ada ruang dialog, bukan justru diarahkan ke sana-sini.
Jika seorang kepala desa (kuwu) selalu berkata:
- “Itu urusan kabupaten”
- “Itu urusan dinas”
- “Itu urusan kepolisian”
maka jangan heran jika kepercayaan rakyat runtuh.
Karena dalam logika sederhana masyarakat:
Masalah rakyat adalah tanggung jawab pemimpinnya.
Pemimpin bukan sekadar jabatan, tetapi tempat masyarakat mengadu.
Jangan Kambinghitamkan Aparat
Dalam setiap aksi demo, aparat kepolisian selalu berada di garis depan. Mereka menjaga, mengamankan, bahkan sering menjadi sasaran kemarahan massa.
Padahal, mereka bukan pihak yang mengambil kebijakan.
Menjadi tidak adil ketika:
- Yang membuat kebijakan tidak terlihat
- Yang menghadapi amarah justru aparat di lapangan
Ini adalah realita yang harus kita akui bersama.
Pelajaran Besar untuk Semua
Peristiwa ini mengajarkan kita satu hal penting:
Komunikasi yang buntu adalah awal dari konflik yang meledak
Jika sejak awal ada ruang dialog:
- Aspirasi didengar
- Keluhan ditanggapi
- Rakyat ditemui
maka potensi kerusuhan bisa diminimalisir.
Saatnya Waras dan Cerdas
Mari kita berhenti saling menyalahkan.
- Rakyat perlu menyampaikan aspirasi dengan bijak
- Pemerintah wajib hadir dan mendengar
- Aparat harus tetap profesional dan humanis
Karena pada akhirnya, kita semua adalah bagian dari sistem yang sama.
Jika satu bagian rusak, maka yang lain akan ikut terdampak.
Salam waras dan cerdas.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Opini : Papih Ruyanto
Penulis Kampung (PK) dan Politisi Senior














