WARGANET

Koperasi Desa Merah Putih dan Ujian Patriotisme di Tengah Gejolak Dunia

10110
×

Koperasi Desa Merah Putih dan Ujian Patriotisme di Tengah Gejolak Dunia

Sebarkan artikel ini

Salamdarma, Indramayu  # Dalam beberapa bulan terakhir, masyarakat Indonesia terus disuguhi berbagai peristiwa yang datang silih berganti. Hari ini tentang perang dan konflik di berbagai belahan dunia. Besok mengenai kenaikan harga komoditas global. Lusa tentang nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Belum lagi hiruk-pikuk politik yang nyaris tidak pernah absen menghiasi layar televisi, media daring, maupun media sosial.

Di tengah derasnya arus informasi tersebut, tidak sedikit masyarakat yang mulai diliputi kecemasan. Sebagian khawatir terhadap kondisi ekonomi, sebagian lainnya larut dalam perdebatan politik yang tidak berkesudahan. Bahkan ada yang mulai kehilangan optimisme terhadap masa depan bangsa.

Padahal, jika menengok sejarah, bangsa-bangsa besar tidak dibangun oleh masyarakat yang sibuk mengeluhkan keadaan. Mereka tumbuh karena warganya mampu menjaga akal sehat, memperkuat persatuan, dan membangun kekuatan ekonomi dari bawah.

Dalam konteks itulah, program Koperasi Desa Merah Putih menjadi menarik untuk dicermati.

Ketika Dunia Sedang Bergejolak

Dunia saat ini memang sedang menghadapi berbagai tantangan besar. Konflik geopolitik, perang dagang, ketidakpastian pasar keuangan, hingga perubahan iklim telah memengaruhi stabilitas banyak negara. Indonesia tentu tidak sepenuhnya terlepas dari dampak tersebut.

Ketika nilai tukar rupiah mengalami tekanan, misalnya, sebagian masyarakat langsung menganggap bahwa seluruh persoalan ekonomi bersumber dari pergerakan kurs. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.

Nilai tukar memang penting, tetapi kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh angka yang bergerak di pasar uang. Kekuatan bangsa juga ditentukan oleh kemampuan rakyatnya memproduksi pangan, mengelola sumber daya, membangun usaha, dan menciptakan jaringan ekonomi yang kokoh.

Sebuah desa yang mampu menghasilkan beras, sayuran, ikan, pupuk, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya sesungguhnya memiliki benteng ekonomi yang jauh lebih kuat dibandingkan masyarakat yang sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar.

Karena itu, ketika dunia menghadapi ketidakpastian, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan hanya, “Berapa kurs rupiah hari ini?” melainkan juga, “Seberapa kuat ekonomi rakyat di desa-desa kita?”

Politik Harian dan Politik Kebangsaan

Persoalan lain yang kerap muncul adalah kecenderungan masyarakat terjebak dalam politik harian.

Setiap hari publik disuguhi pernyataan pejabat, manuver partai politik, persaingan elite, hingga berbagai kontroversi yang datang bergantian. Akibatnya, energi bangsa sering habis untuk membahas siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam percaturan politik.

Padahal terdapat perbedaan mendasar antara politik harian dan politik kebangsaan.

Politik harian berbicara tentang kontestasi kekuasaan. Sementara politik kebangsaan berbicara tentang bagaimana rakyat dapat hidup lebih sejahtera, petani memperoleh pupuk tepat waktu, pemuda mendapatkan pekerjaan, dan desa berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi.

Jika seluruh perhatian masyarakat hanya tersedot pada pertarungan elite, maka pembangunan ekonomi rakyat berpotensi terabaikan.

Karena itulah warga negara yang patriotik tidak mudah terseret arus polarisasi politik. Mereka tetap kritis terhadap pemerintah maupun partai politik, namun tidak membiarkan perbedaan pilihan merusak persaudaraan dan kerja sama sosial.

Koperasi Desa Merah Putih: Jalan Penguatan Ekonomi Rakyat

Di sinilah Koperasi Desa Merah Putih memiliki arti penting. Koperasi bukan sekadar lembaga ekonomi biasa. Gagasan dasarnya adalah membangun kekuatan ekonomi dari tingkat paling bawah, yaitu desa.

Ketika koperasi mampu mengelola distribusi kebutuhan pertanian, perdagangan hasil panen, usaha pangan, simpan pinjam, hingga berbagai layanan ekonomi lainnya, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh anggota koperasi, tetapi juga oleh masyarakat luas.

Semakin kuat koperasi desa, semakin besar perputaran uang yang bertahan di desa.

Semakin besar perputaran uang di desa, semakin kecil ketergantungan masyarakat terhadap pihak luar.

Dan semakin mandiri desa, semakin kokoh pula fondasi ekonomi nasional.

Inilah cita-cita yang sejak lama diimpikan para pendiri bangsa. Mereka memahami bahwa kemerdekaan politik tanpa kemandirian ekonomi hanya akan melahirkan bentuk ketergantungan yang baru.

Patriotisme Tidak Cukup dengan Slogan

Sayangnya, patriotisme sering kali dipahami sebatas simbol, upacara, atau unggahan di media sosial.

Padahal patriotisme sejati memiliki bentuk yang jauh lebih nyata.

Petani yang menanam pangan dengan sungguh-sungguh sedang membela negaranya.

Guru yang mendidik generasi muda dengan penuh dedikasi sedang membela negaranya.

Pengurus koperasi yang bekerja secara jujur dan profesional sedang membela negaranya.

Begitu pula warga yang menjaga persatuan meskipun berbeda pilihan politik.

Patriotisme bukan hanya tentang mencintai tanah air dengan kata-kata, melainkan tentang memperkuat fondasi yang membuat bangsa tetap berdiri tegak ketika menghadapi berbagai guncangan.

Menatap Masa Depan dengan Optimisme

Kondisi dunia boleh berubah. Nilai tukar rupiah dapat naik dan turun. Pemerintah maupun partai politik akan terus berganti. Namun ada satu hal yang tidak boleh berubah, yaitu tekad untuk membangun kekuatan bangsa dari akar rumput.

Koperasi, pertanian, pendidikan, dan desa bukanlah isu pinggiran. Justru di sanalah terletak fondasi ketahanan bangsa.

Apabila setiap desa memiliki lembaga ekonomi yang sehat, masyarakat yang produktif, serta semangat gotong royong yang kuat, Indonesia tidak akan mudah goyah oleh gejolak dunia maupun pertarungan politik sesaat.

Sebab pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di pusat kekuasaan. Masa depan bangsa juga ditentukan oleh apa yang dilakukan rakyat di sawah, di pasar, di sekolah, dan di koperasi desa mereka masing-masing.

Di tengah riuhnya dunia, mungkin inilah saat yang tepat untuk kembali mengingat pesan sederhana:

Bangsa yang kuat lahir dari rakyat yang kuat. Rakyat yang kuat lahir dari desa yang kuat. Dan desa yang kuat lahir dari masyarakat yang mau bekerja, bersatu, serta menjaga harapan demi Indonesia yang lebih baik.

 

Oleh : Adi Sanjaya

Ketua Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Salamdarma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!