SPIRITUAL

Berita Sudah Terbit, Manfaat Sudah Diambil, Mengapa Hak Jurnalis Dilupakan?

Avatar photo
20686
×

Berita Sudah Terbit, Manfaat Sudah Diambil, Mengapa Hak Jurnalis Dilupakan?

Sebarkan artikel ini

Renungan Jumat: Jangan Hanya Menikmati Hasilnya, Hargai Juga Jerih Payahnya

Menghargai sebuah karya bukan hanya dengan membaca dan menyebarkannya. Ketika sebuah berita lahir dari jerih payah seorang jurnalis dan kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan pihak lain, sudah semestinya ada penghargaan yang layak terhadap kerja tersebut. Terlebih apabila pihak yang menikmati manfaat dari berita itu sebenarnya mampu memberikan imbalan, tetapi memilih untuk mengabaikannya.

Dalam dunia jurnalistik, sebuah berita tidak lahir begitu saja. Ada proses mencari informasi, mendatangi narasumber, melakukan wawancara, mengambil data, melakukan konfirmasi, menulis, menyunting, hingga mempublikasikannya kepada masyarakat.

Semua itu membutuhkan waktu, tenaga, biaya, dan profesionalitas.

Karena itu, ketika sebuah berita telah dipublikasikan dan kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, jangan sampai jerih payah jurnalis dipandang sebagai sesuatu yang tidak bernilai.

Mampu Membayar, Jangan Mengabaikan

Persoalannya menjadi lebih serius ketika seseorang atau sebuah pihak mampu memberikan pembayaran atau penghargaan atas pekerjaan tersebut, tetapi memilih untuk tidak melakukannya.

Islam mengajarkan agar seseorang tidak mengambil manfaat dari usaha orang lain dengan mengabaikan haknya.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka…”
(QS. Asy-Syu’ara: 183)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa hak orang lain tidak boleh dikurangi ataupun diabaikan.

Jika seseorang telah bekerja dan menghasilkan sesuatu yang kemudian memberikan manfaat kepada pihak lain, maka sudah selayaknya jerih payah tersebut dihargai.

Mampu membayar tetapi tidak membayar bukan sekadar persoalan nominal. Itu menyangkut penghargaan terhadap kerja keras seseorang.

Berita Bukan Muncul dari Udara

Sering kali publik hanya melihat sebuah berita setelah berada di layar telepon genggam atau media sosial. Padahal, di balik berita tersebut ada proses panjang yang tidak terlihat.

Seorang jurnalis bisa saja harus mengeluarkan biaya transportasi, menghabiskan waktu berjam-jam melakukan peliputan, melakukan konfirmasi berkali-kali, kemudian menyusun berita agar informasi dapat dipahami masyarakat.

Ketika berita tersebut telah terbit dan kemudian memberikan manfaat bagi pihak lain, tidak semestinya kerja tersebut dianggap sebagai sesuatu yang bisa diambil begitu saja tanpa penghargaan.

Allah SWT berfirman:

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa usaha manusia memiliki nilai.

Maka, menghargai usaha seorang jurnalis juga merupakan bagian dari sikap menghargai sesama manusia.

Membayar Jerih Payah Bukan Berarti Membeli Kebenaran

Perlu dipahami, memberikan imbalan kepada jurnalis atas pekerjaan jurnalistik bukan berarti membeli kebenaran atau membeli isi berita.

Kebenaran, independensi, dan kode etik jurnalistik tetap harus dijaga.

Namun, ketika seorang jurnalis diminta melakukan pekerjaan, peliputan, dokumentasi, publikasi, atau menghasilkan karya yang kemudian digunakan untuk kepentingan tertentu, maka hak atas pekerjaan tersebut tetap harus dihormati.

Profesionalitas tidak boleh dijadikan alasan untuk menghilangkan penghargaan terhadap profesi.

Sebaliknya, kemampuan finansial seseorang juga jangan menjadi alasan untuk menganggap pekerjaan orang lain tidak perlu dibayar.

Rasulullah SAW Mengingatkan Hak Pekerja

Rasulullah SAW bersabda:

“Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.”
(HR. Ibnu Majah)

Pesan tersebut sangat kuat: jerih payah orang yang bekerja tidak boleh ditunda-tunda penghargaan terhadapnya tanpa alasan yang benar.

Dalam konteks kehidupan modern, semangat hadis tersebut dapat menjadi pengingat bahwa setiap pekerjaan yang memang memiliki konsekuensi imbalan harus diselesaikan dengan penuh tanggung jawab.

Jurnalis juga bekerja.

Mereka memiliki kebutuhan hidup, biaya operasional, keluarga yang harus dinafkahi, dan tanggung jawab profesional.

Karena itu, jangan hanya menghargai berita ketika berita tersebut menguntungkan kepentingan kita. Hargailah pula orang yang telah bersusah payah menghasilkan berita tersebut.

Jangan Menunggu Ditagih

Ada sebuah etika sederhana yang seharusnya tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat:

Jika mampu membayar, bayarlah.
Jika menggunakan karya orang lain, hargailah.
Jika mendapatkan manfaat dari pekerjaan seseorang, jangan abaikan orang yang mengerjakannya.

Jangan menunggu seseorang datang menagih jerih payahnya.

Apalagi jika kita mengetahui bahwa pekerjaan tersebut memang dilakukan secara profesional dan telah memberikan manfaat bagi kita.

Sebab ukuran keberkahan bukan hanya seberapa banyak yang kita dapatkan, tetapi juga seberapa baik kita menunaikan hak orang lain.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…”
(QS. An-Nisa: 58)

Ayat tersebut menjadi pengingat penting bahwa amanah harus diberikan kepada pihak yang berhak.

Menghargai Jurnalis Adalah Menghargai Profesi

Berita yang sudah dipublikasikan memang dapat dibaca oleh siapa saja. Tetapi kebebasan masyarakat mengakses informasi tidak berarti menghapus nilai dari kerja jurnalistik yang menghasilkan informasi tersebut.

Karena itu, ketika sebuah karya jurnalistik telah memberikan manfaat dan digunakan oleh pihak lain, penghargaan terhadap jurnalis semestinya tidak dianggap sebagai beban.

Jika memang ada kesepakatan pembayaran, tunaikan haknya.

Jika menggunakan karya atau informasi, berikan atribusi dan penghargaan yang layak.

Dan jika memang mampu memberikan imbalan atas pekerjaan yang telah dilakukan, jangan sengaja mengabaikannya.

Sebab pada akhirnya, persoalannya bukan hanya tentang uang.

Ini tentang amanah, keadilan, etika, dan akhlak dalam menghargai jerih payah sesama manusia.

Jangan hanya menikmati hasil kerja orang lain. Hargai pula orang yang telah bersusah payah menghasilkan pekerjaan tersebut. Karena setiap keringat yang jatuh dalam sebuah pekerjaan, pada hakikatnya adalah bagian dari usaha manusia yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Selamat bermuhasabah di hari Jumat.

Semoga setiap rezeki yang kita terima menjadi rezeki yang halal, setiap pekerjaan yang kita lakukan menjadi amal, dan setiap hak orang lain yang kita tunaikan menjadi jalan datangnya keberkahan.

Jumat Mubarak.

error: Content is protected !!