SPIRITUAL

“Aku Ingin Menyentuhmu untuk Terakhir Kali…”

Avatar photo
19770
×

“Aku Ingin Menyentuhmu untuk Terakhir Kali…”

Sebarkan artikel ini

Kisah Ukasyah dan Rasulullah ﷺ yang Mengajarkan Arti Cinta, Keadilan, dan Kerendahan Hati

Ketika Madinah Diselimuti Keheningan

Langit Madinah tampak teduh pada hari itu. Angin berembus perlahan, mengusap wajah-wajah para sahabat yang berkumpul mengelilingi Rasulullah ﷺ. Tidak terdengar percakapan riuh sebagaimana biasanya. Semua mata tertuju kepada sosok manusia yang paling mereka cintai.

Rasulullah ﷺ berdiri dengan tenang. Wajah beliau memancarkan kelembutan yang selalu menenangkan hati siapa pun yang memandangnya.

Dalam suasana yang penuh haru, beliau menyampaikan sebuah pernyataan yang membuat dada para sahabat bergetar.

“Barang siapa merasa pernah aku zalimi, maka hari ini silakan mengambil haknya.”

Kalimat itu mengejutkan semua orang. Tidak ada yang menyangka seorang pemimpin, utusan Allah, justru membuka kesempatan bagi siapa saja untuk menuntut keadilan atas dirinya.

Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…”
(QS. An-Nahl: 90)

Ayat tersebut menjadi fondasi bahwa keadilan adalah prinsip yang berlaku kepada siapa pun, bahkan bagi seorang pemimpin.

Sosok Bernama Ukasyah

Di tengah keheningan itu, seorang sahabat bernama Ukasyah berdiri.

Dengan suara lirih ia mengingat sebuah peristiwa ketika Rasulullah ﷺ sedang meluruskan barisan pasukan. Tongkat kecil yang digunakan Rasulullah, menurut kisah yang populer, pernah mengenai tubuhnya.

Hari itu ia meminta qishash.

Permintaan tersebut membuat wajah para sahabat berubah. Sebagian saling berpandangan. Sebagian lagi menahan napas.

Tidak ada yang rela melihat Rasulullah ﷺ menerima balasan, meskipun beliau sendiri yang membuka kesempatan itu.

Cinta Para Sahabat Tak Mengenal Batas

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berdiri lebih dahulu.

“Wahai Ukasyah, biarlah aku yang menggantikannya. Jangan engkau menyentuh Rasulullah.”

Belum sempat suasana kembali tenang, Hasan dan Husain ikut bangkit.

Kedua cucu kesayangan Rasulullah ﷺ itu berkata dengan suara bergetar,

“Jika engkau ingin mengambil qishash, lakukanlah kepada kami.”

Mereka masih sangat muda. Namun kecintaan kepada sang kakek membuat mereka rela menjadi pengganti.

Rasulullah ﷺ tersenyum lembut.

Beliau meminta Ali, Hasan, dan Husain kembali duduk.

Tatapan beliau penuh kasih, seolah ingin mengajarkan bahwa keadilan tidak boleh dihalangi oleh rasa cinta.

Ketika Cambuk Tak Pernah Terayun

Rasulullah ﷺ kemudian berdiri.

Beliau memutar tubuh dan memperlihatkan punggungnya.

Suasana berubah menjadi sangat sunyi.

Beberapa sahabat mulai menangis.

Ukasyah lalu berkata,

“Wahai Rasulullah, ketika itu tubuhku tidak tertutup pakaian.”

Tanpa ragu, Rasulullah ﷺ membuka pakaian bagian atas beliau agar qishash benar-benar dapat dilakukan sebagaimana mestinya.

Namun sesuatu yang menggetarkan hati justru terjadi.

Cambuk itu terlepas dari genggaman Ukasyah.

Ia berlari memeluk Rasulullah ﷺ.

Tangisnya pecah.

Ia mencium punggung Rasulullah ﷺ berkali-kali.

“Wahai Rasulullah… aku tidak ingin memukulmu. Aku hanya berharap dapat menyentuh tubuhmu untuk terakhir kalinya.”

Dalam banyak literatur dakwah, kisah ini dikenal luas sebagai simbol cinta para sahabat kepada Rasulullah ﷺ. Namun, penting dipahami bahwa para ulama hadis berbeda pendapat mengenai keabsahan riwayat ini. Sebagian besar ahli hadis menilai sanadnya tidak cukup kuat sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai hadis sahih. Karena itu, kisah ini lebih tepat dipahami sebagai riwayat populer yang mengandung pesan moral, bukan sebagai hadis yang dipastikan autentik.

Keteladanan yang Tak Pernah Padam

Terlepas dari perbedaan penilaian terhadap riwayat tersebut, nilai yang dapat dipetik tetap sangat dalam.

Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus siap mempertanggungjawabkan setiap amanah yang diembannya.

Beliau tidak berlindung di balik jabatan, kekuasaan, ataupun kemuliaannya sebagai Nabi.

Sikap itu sejalan dengan firman Allah SWT,

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu…”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Keteladanan bukan hanya lahir dari ucapan, tetapi juga dari keberanian menerima konsekuensi atas setiap tindakan.

Hari Ketika Madinah Kehilangan Cahaya

Beberapa waktu kemudian, Rasulullah ﷺ benar-benar wafat.

Madinah berubah.

Rumah-rumah terasa sunyi.

Langkah para sahabat menjadi berat.

Tangis terdengar dari berbagai sudut kota.

Bagi mereka, bukan hanya seorang pemimpin yang pergi, melainkan ayah, guru, sahabat, sekaligus manusia yang paling mereka cintai.

Salah satu momen yang paling mengharukan adalah ketika jenazah Rasulullah ﷺ disalatkan.

Tidak ada seorang pun yang berdiri sebagai imam.

Para sahabat masuk bergelombang ke dalam ruangan.

Mereka menyalatkan Rasulullah ﷺ secara bergantian.

Satu rombongan keluar.

Rombongan berikutnya masuk.

Begitulah hingga seluruh kaum muslimin selesai memberikan penghormatan terakhir kepada Nabi mereka.

Peristiwa ini diriwayatkan dalam sejumlah kitab sirah dan menunjukkan besarnya penghormatan para sahabat kepada Rasulullah ﷺ.

Kerinduan yang Menjadi Warisan Umat

Sejak hari itu, setiap kali para sahabat mengingat senyum Rasulullah ﷺ, air mata mereka jatuh tanpa mampu dibendung.

Mereka mengenang bagaimana beliau menyapa anak-anak, membantu orang miskin, menghibur mereka yang bersedih, serta memaafkan musuh-musuhnya.

Kerinduan itu tidak berhenti pada tangisan.

Ia berubah menjadi semangat menjaga Al-Qur’an, meriwayatkan sunnah yang sahih, dan menyebarkan Islam hingga menjangkau berbagai penjuru dunia.

Allah SWT mengingatkan,

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)

Kepergian Rasulullah ﷺ memang menjadi duka terbesar, tetapi dari kesedihan itu lahir generasi yang menjaga risalah Islam hingga sampai kepada kita hari ini.

Cinta yang Sejati Adalah Mengikuti Jejaknya

Mencintai Rasulullah ﷺ bukan sekadar larut dalam kisah-kisah yang mengharukan.

Cinta sejati diwujudkan dengan mempelajari sirah beliau dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, memperbanyak salawat, meneladani akhlaknya, serta memastikan setiap kisah yang disampaikan memiliki dasar yang jelas.

Sebab, warisan terbesar Rasulullah ﷺ bukan hanya kenangan yang membuat mata berkaca-kaca, melainkan ajaran yang terus menerangi kehidupan manusia sepanjang zaman.

Barangkali kita tidak pernah hidup di masa beliau.

Tidak pernah melihat senyum beliau.

Tidak pernah menggenggam tangan beliau.

Namun selama Al-Qur’an tetap dibaca, sunnah yang sahih terus diamalkan, dan akhlak beliau menjadi pedoman hidup, sesungguhnya Rasulullah ﷺ tetap hadir dalam setiap langkah umatnya.

 

Baca Fakta Edukasi Berita

  • Rasulullah ﷺ membuka kesempatan bagi siapa pun yang merasa pernah dizalimi untuk menuntut haknya.
  • Ukasyah meminta qishash berdasarkan riwayat yang populer namun diperselisihkan keabsahannya.
  • Ali bin Abi Thalib, Hasan, dan Husain menunjukkan kecintaan mereka dengan bersedia menggantikan Rasulullah ﷺ.
  • Rasulullah ﷺ menegakkan prinsip keadilan tanpa membedakan kedudukan.
  • Ukasyah akhirnya memeluk dan mencium Rasulullah ﷺ, bukan melakukan qishash.
  • Kisah ini mengandung pesan moral tentang keadilan, kerendahan hati, dan cinta kepada Nabi.
  • Setelah Rasulullah ﷺ wafat, para sahabat menyalatkan beliau secara bergantian tanpa imam.
  • Kerinduan kepada Rasulullah ﷺ diwujudkan dengan menjaga Al-Qur’an, sunnah yang sahih, dan meneladani akhlak beliau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!