KEBIJAKAN

Idul Fitri, Fitrah, dan Ujian Sunyi Wakil Rakyat Indramayu

Avatar photo
5159
×

Idul Fitri, Fitrah, dan Ujian Sunyi Wakil Rakyat Indramayu

Sebarkan artikel ini

Idul Fitri: Kemenangan yang Sering Disalahpahami

Idul Fitri sering dimaknai sebagai hari kemenangan. Namun, kemenangan seperti apa yang sebenarnya dirayakan?

Jika kemenangan hanya dimaknai sebagai selesainya puasa, maka ia menjadi sangat dangkal. Padahal, kemenangan sejati adalah ketika seseorang mampu membawa nilai-nilai Ramadan ke dalam kehidupan nyata—setelah bulan suci berlalu.

Di sinilah banyak yang keliru. Euforia Idul Fitri sering kali lebih besar daripada refleksinya. Tradisi lebih hidup daripada makna. Ucapan lebih ramai daripada perubahan.

Bagi wakil rakyat, kekeliruan ini bukan sekadar persoalan pribadi, tetapi menyangkut kepercayaan publik.

Fitrah dan Tanggung Jawab yang Lebih Besar

Kembali ke fitrah berarti kembali pada kejujuran, ketulusan, dan kesadaran akan tanggung jawab.

Namun bagi anggota DPRD, fitrah memiliki dimensi yang lebih luas. Ia bukan hanya tentang hubungan dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga tentang bagaimana menjalankan amanah rakyat.

Ketua DPRD Kabupaten Indramayu, Dra. Hj. Nurhayati, M.Pd.I., mengingatkan bahwa Idul Fitri harus menjadi momentum perbaikan diri secara menyeluruh.

“Idul Fitri bukan sekadar saling memaafkan, tetapi juga memperbaiki diri dalam menjalankan amanah. Ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus menjaga integritas dan meningkatkan pengabdian kepada masyarakat,”

Pernyataan ini menegaskan bahwa fitrah bukan kondisi pasif, melainkan komitmen aktif untuk menjadi lebih baik.

Kekuasaan: Ruang Ujian yang Sesungguhnya

Setelah gema takbir mereda, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Rapat dimulai, kebijakan disusun, keputusan diambil.

Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai.

Kekuasaan adalah ruang yang penuh dengan pilihan antara benar dan mudah, antara adil dan menguntungkan, antara kepentingan rakyat dan kepentingan pribadi.

Tidak ada yang melihat secara langsung. Tidak ada yang tahu semua prosesnya. Tetapi setiap keputusan meninggalkan dampak.

Idul Fitri seharusnya menjadi rem moral dalam setiap proses itu.

Karena kembali ke fitrah berarti tetap jujur, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.

Indramayu REANG: Nilai yang Harus Dihidupkan

Visi Indramayu REANG (Religius, Ekonomi Kerakyatan, Aman, Nyaman, dan Gotong Royong) bukan sekadar arah pembangunan, tetapi cerminan nilai yang harus diwujudkan.

Namun realitas sering kali berbeda.

Religius kadang berhenti pada simbol.
Ekonomi kerakyatan belum sepenuhnya dirasakan.
Aman dan nyaman belum merata.
Gotong royong terkadang hanya muncul dalam seremoni.

Di sinilah Idul Fitri menjadi relevan sebagai momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tersebut, bukan hanya dalam kata, tetapi dalam kebijakan.

Rakyat Tidak Menuntut Sempurna, Tapi Kejujuran

Masyarakat tidak berharap wakil rakyat menjadi sempurna. Mereka hanya menginginkan kejujuran.

Jujur dalam niat.
Jujur dalam keputusan.
Jujur dalam keberpihakan.

Karena dari kejujuran itulah kepercayaan tumbuh.

Sebaliknya, ketika kejujuran hilang, maka sebaik apa pun program yang dibuat akan kehilangan makna.

Dari Ucapan Maaf Menuju Tindakan Nyata

Ucapan “mohon maaf lahir dan batin” adalah tradisi yang indah. Namun bagi pemegang amanah, ucapan itu harus memiliki konsekuensi.

Maaf berarti berani mengakui kekurangan.
Maaf berarti berkomitmen untuk memperbaiki.
Maaf berarti tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Ketua DPRD Indramayu pun mengajak seluruh anggota dewan menjadikan Idul Fitri sebagai titik awal perubahan.

“Semoga Idul Fitri ini menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi, meningkatkan keimanan, serta menghadirkan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat,” 

Pimpinan dan Anggota DPRD Kabupaten Indramayu mengucapkan:

“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H / 2026 M
Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.
Mohon maaf lahir dan batin.”

Pada akhirnya, Idul Fitri bukanlah akhir dari perjalanan spiritual, melainkan awal dari ujian yang sesungguhnya.

Bagi wakil rakyat, ujian itu hadir setiap hari dalam keputusan, dalam sikap, dan dalam keberpihakan.

Dan masyarakat akan selalu melihat, menilai, serta merasakan dampaknya.

Karena pada akhirnya, yang menentukan bukan seberapa indah ucapan, tetapi seberapa nyata tindakan.

oleh : Dra. Hj. NURHAYATI, M.Pd.I

Ketua DPRD Kabupaten Indramayu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!