KEBIJAKAN

Minyak Jelantah Naik Kelas, Kilang Balongan Uji Coba Jadi Green Gasoline

Avatar photo
11956
×

Minyak Jelantah Naik Kelas, Kilang Balongan Uji Coba Jadi Green Gasoline

Sebarkan artikel ini

INDRAMAYU # Apa yang selama ini dianggap sebagai limbah dapur ternyata memiliki peluang untuk menjadi bagian dari solusi energi masa depan. Di Kabupaten Indramayu, minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) mulai mendapat “kehidupan kedua” melalui inovasi pengolahan di PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Balongan.

Kilang Balongan kini mulai menguji coba pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku energi melalui fasilitas Unit Residue Catalytic Cracking (RCC). Dalam uji coba tersebut, UCO diinjeksikan ke dalam unit pengolahan untuk menghasilkan produk bernilai tambah, salah satunya green gasoline.

Langkah ini bukan sekadar eksperimen teknologi. Di balik minyak goreng bekas yang kerap berakhir sebagai limbah, terdapat peluang untuk membangun ekonomi sirkular sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber minyak mentah.

Dari Limbah Dapur Menuju Energi Bernilai Tambah

Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Taufik Aditiyawarman mengatakan, uji coba pemanfaatan minyak jelantah di Unit RCC Kilang Balongan terus dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan, keandalan operasi, serta kualitas produk.

Menurutnya, hingga 9 September 2026, minyak jelantah yang telah diinjeksikan ke Unit RCC untuk diolah menjadi green gasoline mencapai level 5 persen.

“Per 9 September 2026, minyak jelantah yang diinjeksikan ke Unit RCC untuk diolah menjadi produk green gasoline telah mencapai level 5 persen,” kata Taufik dalam keterangan yang diterima di Indramayu.

Unit RCC Kilang Balongan sendiri memiliki kapasitas pengolahan 83 MBSD. Dengan kapasitas tersebut, keberhasilan uji coba pemanfaatan UCO dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

Bagi masyarakat awam, istilah green gasoline mungkin terdengar sebagai sesuatu yang sangat teknis. Sederhananya, inovasi tersebut menunjukkan bahwa bahan yang sebelumnya dipandang sebagai limbah dapat dimanfaatkan kembali melalui proses teknologi untuk menghasilkan produk energi yang memiliki nilai ekonomi.

Minyak Jelantah Tidak Lagi Sekadar Limbah

Minyak jelantah selama ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Rumah tangga, warung makan, restoran, usaha kuliner hingga industri makanan menghasilkan minyak goreng bekas dalam jumlah yang tidak sedikit.

Persoalannya muncul ketika minyak tersebut dibuang sembarangan. Pembuangan minyak jelantah ke saluran air, tanah maupun lingkungan dapat menimbulkan persoalan pencemaran dan mengurangi kualitas lingkungan.

Karena itu, pemanfaatan UCO sebagai bahan baku energi menawarkan perspektif yang berbeda.

Minyak jelantah tidak harus berakhir sebagai limbah. Dengan sistem pengumpulan, pengelolaan dan pengolahan yang tepat, bahan tersebut dapat masuk kembali ke dalam rantai ekonomi sebagai bahan baku yang memiliki nilai.

Inilah salah satu prinsip penting ekonomi sirkular: mengubah pola pikir dari “ambil-pakai-buang” menjadi “gunakan-kumpulkan-olah-kembali”.

Konsep tersebut juga membuka ruang partisipasi masyarakat. Minyak jelantah yang dikumpulkan dari rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner dapat menjadi bagian dari rantai pasok bahan baku energi, selama memenuhi standar kualitas dan ketentuan yang berlaku.

 

Uji Coba Balongan dan Harapan Ekonomi Sirkular Indramayu

Taufik mengatakan, pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku energi dapat membuka peluang pengembangan ekonomi sirkular di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Peluang tersebut menarik jika dilihat dari perspektif daerah seperti Indramayu.

Kabupaten Indramayu memiliki aktivitas ekonomi masyarakat yang beragam, termasuk perdagangan, rumah makan, usaha kuliner, industri kecil dan berbagai kegiatan ekonomi berbasis konsumsi. Aktivitas tersebut secara bersamaan juga menghasilkan minyak jelantah.

Jika dikelola dengan baik, minyak jelantah dapat membentuk rantai ekonomi baru.

Masyarakat dapat berperan dalam pengumpulan. Pelaku usaha dapat memastikan minyak bekas tidak dibuang sembarangan. Kelompok masyarakat atau pelaku UMKM berpotensi mengambil bagian dalam sistem pengelolaan dan pengumpulan UCO. Sementara teknologi industri dapat mengubah bahan tersebut menjadi produk bernilai tambah.

Dengan demikian, isu energi tidak hanya berbicara mengenai kilang dan teknologi. Ada dimensi ekonomi masyarakat yang dapat ikut tumbuh di dalamnya.

Keselamatan dan Keandalan Tetap Menjadi Prioritas

Meski menawarkan peluang besar, keberhasilan uji coba tidak semata-mata diukur dari seberapa tinggi persentase minyak jelantah yang dapat dimasukkan ke dalam proses produksi.

Taufik menegaskan bahwa aspek keselamatan dan keandalan operasi kilang tetap menjadi prioritas.

Seluruh data hasil plant test juga harus dicatat secara lengkap dan akurat untuk memastikan kualitas produk yang dihasilkan selama proses pengolahan UCO.

Pesan tersebut penting karena inovasi energi tidak boleh hanya mengejar target produksi. Setiap teknologi baru harus diuji secara hati-hati agar manfaat yang dihasilkan berjalan seiring dengan keselamatan pekerja, keandalan fasilitas dan mutu produk.

“Kita kawal uji coba produk rendah karbon ini hingga selesai dan berhasil, guna membangun ekonomi sirkular melalui pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku energi,” ujar Taufik.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa transisi energi membutuhkan proses. Ada penelitian, pengujian, evaluasi dan pengembangan sebelum sebuah inovasi dapat diterapkan secara lebih luas.

Dari Balongan untuk Transisi Energi Nasional

Pemanfaatan minyak jelantah juga memiliki dimensi strategis bagi ketahanan energi.

Taufik menyebut penggunaan UCO sebagai bahan baku energi secara tidak langsung dapat mengurangi kebutuhan terhadap minyak mentah impor.

Artinya, semakin banyak sumber bahan baku alternatif yang dapat dimanfaatkan secara aman dan ekonomis, semakin beragam pula sumber energi yang dapat dikembangkan.

Dalam konteks tersebut, inovasi Kilang Balongan menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan sumber bahan baku energi nasional.

Taufik menyebut proyek tersebut sebagai salah satu kontribusi perusahaan dalam mendukung Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto, khususnya dalam pencapaian swasembada dan ketahanan energi nasional.

Namun, ketahanan energi pada akhirnya tidak hanya bergantung pada kemampuan industri menghasilkan energi. Masyarakat juga memiliki peran melalui perilaku konsumsi dan pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab.

Ketika Masyarakat Bisa Menjadi Bagian dari Solusi

Direktur Operasi Kilang PT Pertamina Patra Niaga Didik Bahagia mengapresiasi soliditas perwira Kilang Balongan serta pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pengolahan perdana minyak jelantah tersebut.

Menurut Didik, penggunaan minyak jelantah diproyeksikan memberikan nilai tambah melalui produksi green gasoline. Di sisi lain, pemanfaatan tersebut juga membantu mengurangi potensi pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah minyak goreng secara sembarangan.

Harapannya, keberhasilan uji coba di Balongan dapat menjadi model yang diterapkan di unit kilang lainnya.

“Pengolahan perdana minyak jelantah di RU Balongan ini merupakan langkah nyata transformasi bisnis kilang dalam mendukung transisi energi dan pengembangan energi berkelanjutan,” kata Didik.

Pernyataan itu membawa pesan penting bahwa transformasi energi membutuhkan kolaborasi antara teknologi industri dan kesadaran masyarakat.

Teknologi dapat mengolah bahan baku, tetapi masyarakat memiliki peran penting dalam memastikan bahan baku tersebut tidak terbuang percuma.

Jangan Buang Jelantah Sembarangan

Bagi masyarakat, salah satu pelajaran sederhana dari inovasi Balongan adalah pentingnya memperlakukan minyak jelantah sebagai sesuatu yang masih memiliki nilai.

Minyak goreng bekas sebaiknya tidak langsung dibuang ke wastafel atau saluran air. Masyarakat dapat menyimpannya dalam wadah tertutup dan mencari jalur pengumpulan minyak jelantah yang terpercaya apabila tersedia di lingkungan masing-masing.

Langkah sederhana tersebut memiliki dua manfaat.

Pertama, membantu mencegah potensi pencemaran lingkungan. Kedua, membuka kemungkinan agar minyak jelantah masuk ke dalam rantai pemanfaatan kembali.

Di sinilah ekonomi sirkular dapat dimulai dari rumah.

Sebuah perubahan besar tidak selalu dimulai dari kebijakan yang besar. Kadang-kadang ia dimulai dari keputusan sederhana: tidak membuang sesuatu yang masih dapat dimanfaatkan.

Indramayu dan Peluang Menjadi Bagian dari Ekonomi Hijau

Uji coba di Kilang Balongan memperlihatkan bahwa transformasi energi dapat memiliki wajah yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Minyak jelantah yang berasal dari dapur rumah tangga, warung makan maupun usaha kuliner dapat dipandang bukan semata sebagai limbah, tetapi sebagai salah satu sumber bahan baku alternatif yang memiliki nilai ekonomi apabila dikelola melalui sistem yang tepat.

Ke depan, tantangannya adalah bagaimana membangun ekosistem pengumpulan UCO yang tertib, transparan dan memenuhi standar. Pemerintah daerah, perusahaan, pelaku usaha, komunitas dan masyarakat dapat mengambil peran masing-masing.

Jika ekosistem tersebut tumbuh, manfaatnya tidak berhenti pada produk energi. Ada potensi munculnya aktivitas ekonomi baru, lapangan kerja, edukasi lingkungan serta budaya masyarakat yang semakin sadar terhadap pengelolaan limbah.

Dari Jelantah, Tumbuh Harapan Baru

Uji coba minyak jelantah di Kilang Balongan pada akhirnya bukan hanya cerita tentang teknologi kilang.

Ia adalah cerita tentang bagaimana sesuatu yang dianggap tidak berguna dapat memperoleh nilai baru ketika manusia mengubah cara pandangnya.

Dari dapur rumah tangga, minyak jelantah dapat masuk ke dalam rantai ekonomi. Dari limbah, muncul peluang. Dari teknologi, lahir inovasi. Dan dari kolaborasi, terbuka kemungkinan menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.

Keberhasilan uji coba tentu masih membutuhkan pembuktian melalui proses plant test, evaluasi kualitas, keselamatan dan keandalan operasi. Namun langkah awal tersebut memberikan pesan optimistis: transisi energi dapat dimulai dari sumber daya yang selama ini berada sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

Bagi Indramayu, keberadaan Kilang Balongan juga menghadirkan peluang untuk memperkuat hubungan antara industri, masyarakat dan lingkungan.

Sebab energi masa depan bukan hanya tentang apa yang dihasilkan oleh kilang, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat ikut menjaga lingkungan, mengembangkan ekonomi dan menggunakan sumber daya secara lebih bijak.

Minyak jelantah mungkin berasal dari dapur. Tetapi ketika dikelola dengan pengetahuan, teknologi dan kolaborasi, nilainya dapat bergerak jauh lebih besar—menjadi bagian dari energi, ekonomi sirkular dan harapan bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!