EKONOMI & UMKM

Kilang Balongan Raih Silver Indonesia Social Responsibility Awards 2026 Lewat Program WIRALODRA

Avatar photo
16887
×

Kilang Balongan Raih Silver Indonesia Social Responsibility Awards 2026 Lewat Program WIRALODRA

Sebarkan artikel ini

INDRAMAYU #Sampah yang selama ini kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan ternyata dapat diubah menjadi sumber nilai ekonomi ketika dikelola secara terarah dan melibatkan masyarakat. Hal tersebut ditunjukkan melalui Program WIRALODRA (Wilayah Masyarakat Pengelola Daur Ulang Sampah) yang dijalankan PT Pertamina Patra Niaga Kilang Balongan.

Komitmen tersebut kembali mendapat apresiasi melalui Indonesia Social Responsibility Awards (ISRA) 2026, dengan raihan Peringkat Silver untuk kategori Economic Empowerment. Penghargaan tersebut diberikan di Swiss-Belhotel Solo Hotel, Jumat (7/8.2026), dan diterima langsung oleh Officer I CSR & SMEPP PT Pertamina Patra Niaga Kilang Balongan, Andromedo Cahyo Purnomo.

Dari Persoalan Sampah Menjadi Peluang Ekonomi

WIRALODRA merupakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan yang dirancang untuk menjawab persoalan sampah sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah Ring 1 operasional Kilang Balongan.

Program yang telah berjalan sejak 2021 di Desa Balongan, Kecamatan Balongan, tersebut mengembangkan pendekatan ekonomi sirkular. Sampah tidak semata-mata dibuang, tetapi dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.

Pendekatan ini juga diarahkan untuk mengurangi kebiasaan pembakaran sampah di lingkungan masyarakat. Upaya tersebut menjadi penting karena wilayah sekitar operasional perusahaan juga berdekatan dengan berbagai fasilitas yang memiliki risiko terhadap kebakaran.

Puluhan Ton Sampah Dialihkan dari Pembuangan dan Pembakaran

Hasil pelaksanaan program menunjukkan adanya aktivitas pengelolaan sampah yang cukup signifikan. WIRALODRA memiliki kapasitas pengolahan sampah organik hingga 80 kilogram per hari, sementara sampah anorganik dapat mencapai 100 kilogram per bulan.

Secara keseluruhan, program tersebut telah mengalihkan sekitar 30,4 ton sampah per tahun dari praktik pembuangan maupun pembakaran menuju proses pemanfaatan yang lebih produktif.

Sejak 2021, sampah plastik yang terkumpul sekitar 100–200 kilogram per bulan juga diolah menjadi berbagai produk bernilai guna. Di antaranya plakat, gantungan kunci, furnitur, kotak tisu, jam, tempat sampah, serta produk lainnya.

Pengelolaan tersebut memperlihatkan bahwa prinsip ekonomi sirkular dapat diterapkan dalam skala masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Maggot dan Ayam Petelur Ikut Menggerakkan Ekonomi Warga

Inovasi WIRALODRA tidak berhenti pada pengolahan sampah anorganik. Sampah organik juga dimanfaatkan melalui budidaya maggot.

Pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot mampu menangani sekitar 80–100 kilogram sampah per minggu. Maggot kemudian dimanfaatkan sebagai pakan tambahan atau vitamin bagi sekitar 120 ekor ayam petelur.

Dari aktivitas tersebut, kelompok mampu menghasilkan sekitar 7 kilogram telur per hari, dengan nilai ekonomi yang disebut mencapai sekitar Rp210.000 per hari.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bagaimana satu persoalan lingkungan dapat dikembangkan menjadi mata rantai ekonomi baru. Sampah organik dimanfaatkan untuk menghasilkan maggot, maggot mendukung peternakan ayam, sementara hasil peternakan kembali menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.

WIRALODRA Berkembang Menjadi Ruang Belajar Pengelolaan Sampah

Selain menghasilkan manfaat ekonomi dan lingkungan, WIRALODRA juga berkembang menjadi learning centre atau pusat pembelajaran pengelolaan sampah.

Sejumlah pihak telah memanfaatkan program tersebut sebagai ruang belajar, di antaranya Kementerian Kelautan, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu, perguruan tinggi di Indramayu, SLBN Mutiara Hati, SMKN 1 Balongan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Kehadiran berbagai pihak tersebut memperluas fungsi program. WIRALODRA bukan hanya menjadi tempat mengolah sampah, tetapi juga ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.

Nilai Ekonomi Program Capai Rp274,1 Juta pada 2025

Perkembangan aktivitas ekonomi sirkular tersebut juga tercermin dari nilai ekonomi yang dihasilkan.

Pada 2025, program WIRALODRA dilaporkan mampu menghasilkan nilai ekonomi sebesar Rp274.149.746 dari berbagai produk dan unit usaha kelompok.

Dampaknya tidak hanya diukur dari nilai rupiah. Anggota kelompok juga mendapatkan peningkatan keterampilan teknis, kapasitas kewirausahaan, serta kesempatan melakukan diversifikasi usaha.

Terbentuknya Kelompok WIRALODRA menjadi bagian penting dalam proses tersebut karena masyarakat ditempatkan bukan sekadar sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai pelaku yang ikut mengelola dan mengembangkan program.

Penghargaan Menjadi Apresiasi atas Kolaborasi

Executive General Manager RU Balongan, Yulianto Triwibowo, menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diterima.

“Raihan penghargaan ini merupakan wujud pengakuan dan apresiasi untuk hasil kerja keras bersama dan peran serta Kilang Balongan yang berkolaborasi dengan berbagai pihak, penghargaan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus hadir di tengah masyarakat dan memberikan manfaat yang nyata,” ungkap Yulianto.

Pernyataan tersebut menempatkan penghargaan bukan hanya sebagai capaian perusahaan, tetapi juga sebagai apresiasi terhadap proses kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, pemerintah, lembaga pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Mengajarkan Bahwa Sampah Bisa Menjadi Bagian dari Solusi

Program WIRALODRA memberikan pelajaran bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengangkut dan membuangnya. Pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan, pemanfaatan kembali, serta penciptaan nilai ekonomi dapat menjadi bagian dari solusi yang lebih berkelanjutan.

Bagi masyarakat, praktik sederhana seperti memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah dapat menjadi langkah awal. Sampah organik dapat diarahkan untuk pengomposan atau budidaya maggot, sedangkan sampah anorganik yang memiliki nilai jual dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan melalui bank sampah maupun kelompok pengelola.

Model seperti WIRALODRA juga memperlihatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam program lingkungan. Ketika aspek lingkungan berjalan beriringan dengan peningkatan keterampilan dan peluang ekonomi, keberlanjutan program berpotensi menjadi lebih kuat.

Dari Balongan untuk Pembelajaran Berkelanjutan

Raihan Silver pada Indonesia Social Responsibility Awards 2026 menambah rekam jejak program keberlanjutan Kilang Balongan.

Lebih dari sekadar penghargaan, perjalanan WIRALODRA memperlihatkan sebuah gagasan sederhana: sampah yang dikelola dengan pengetahuan, kolaborasi, dan kreativitas dapat berubah menjadi sumber manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat.

Ke depan, keberlanjutan program akan semakin bermakna apabila pengelolaan sampah terus diperkuat, kapasitas masyarakat dikembangkan, dan kolaborasi antarpihak diperluas. Dari Desa Balongan, praktik ekonomi sirkular dapat menjadi pembelajaran bahwa menjaga lingkungan dan membangun ekonomi masyarakat dapat berjalan dalam satu gerakan.

Baca Fakta Edukasi Berita

  • Kilang Balongan meraih Silver Indonesia Social Responsibility Awards 2026.
  • Penghargaan diberikan untuk Program WIRALODRA kategori Economic Empowerment.
  • WIRALODRA berjalan sejak 2021 di Desa Balongan, Kecamatan Balongan.
  • Program mengembangkan konsep ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
  • Kapasitas pengolahan sampah organik mencapai 80 kg per hari.
  • Sampah anorganik dapat diolah hingga 100 kg per bulan.
  • Sekitar 30,4 ton sampah per tahun dialihkan dari pembuangan dan pembakaran.
  • Sampah plastik diolah menjadi berbagai produk bernilai guna.
  • Sampah organik dimanfaatkan melalui budidaya maggot.
  • Maggot mendukung pakan tambahan bagi sekitar 120 ayam petelur.
  • Produksi telur mencapai sekitar 7 kg per hari.
  • Nilai ekonomi program pada 2025 mencapai Rp274.149.746.
  • WIRALODRA berkembang sebagai pusat pembelajaran pengelolaan sampah.
  • Program meningkatkan keterampilan, kewirausahaan, dan diversifikasi usaha masyarakat.
  • Penghargaan disebut sebagai apresiasi atas kerja keras dan kolaborasi berbagai pihak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!