Ironi di Balik Aroma Masakan Dapur Baru
Pernahkah Anda membayangkan anak-anak belajar di bawah plafon yang siap “pamit” kapan saja, sementara di sebelahnya berdiri bangunan dapur yang kinclong mengkilap?
Inilah drama visual yang sedang viral di SDN II Gandawesi, Ligung. Sebuah potret yang bikin elus dada sekaligus mengernyitkan dahi: kelas “horror” beradu gengsi dengan fasilitas Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tampak lebih representatif.
Fakta Pahit: “Sisi Positif” di Tengah Reruntuhan
Kepala Sekolah, Nina Sophia, mencoba tetap tegar dengan mengajak publik melihat dari “sisi positif”. Katanya, bangunan kelas terlihat rusak parah hanya karena dia berdampingan dengan bangunan dapur yang lebih baru.
Namun, publik tidak buta. Fakta bahwa pengajuan perbaikan sudah diajukan jauh sebelum Maret 2026 membuktikan bahwa kerusakan ini bukan barang baru. Sementara tim Dinas Pendidikan baru sibuk “ukur-mengukur” tiga kelas rusak setelah isu ini meledak di media sosial. Rupanya, butuh kekuatan jempol netizen agar birokrasi bergerak lebih kencang.
Nyawa Siswa Jadi Taruhan Kepercayaan Publik
Dampaknya nyata dan mengerikan. Bukan soal estetika, tapi soal keselamatan nyawa. Orang tua siswa kini dihantui rasa was-was: apakah anak mereka pulang membawa ilmu atau justru tertimpa kayu lapuk?
Secara sosial, ketimpangan ini merobek kepercayaan masyarakat. Program pusat (Dapur MBG) bisa turun begitu cepat dan rapi, namun urusan atap kelas yang bocor harus melalui proses “jemput bola” yang entah kapan berbuah hasil nyata. Pendidikan bukan cuma soal perut, tapi soal martabat ruang belajar.
Harapan Setinggi Langit, Realita Sedalam Bumi
Kita dipaksa menelan janji manis bahwa SDN II Gandawesi masuk prioritas 2026. Harapannya, sekolah adalah tempat paling aman, tapi realitanya siswa dipaksa bersahabat dengan bahaya sambil melihat dapur mewah yang berdiri tegak di depan mata.
Apakah kita harus menunggu atap benar-benar menyentuh lantai sebelum bantuan Presiden dan revitalisasi itu cair? Strategi “jemput bola” Kepala Dinas, H. Muhamad Umar Ma’ruf, memang terdengar hebat, tapi bagi warga Gandawesi, bola yang paling penting saat ini adalah bola keselamatan anak-anak mereka.
Menanti Bukti, Bukan Sekadar Janji Politik
Kita apresiasi rencana verifikasi lapangan dari kementerian dan janji perbaikan tahun ini. Namun, selama tukang bangunan belum mengetok paku di ruang kelas, rasa resah ini tak akan hilang.
Akankah wajah pendidikan di Majalengka benar-benar “Langkung SAE”, atau jargon itu hanya pemanis di tengah bangunan sekolah yang kian merana? Mari kita kawal, jangan sampai dapur kenyang tapi kelas melayang.















