Renungan Jumat | Ketika Kesombongan Tak Lagi Bernilai di Hadapan Allah: Belajar dari Penghuni Al-A’raf
IQRONEWS #Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, manusia sering disibukkan dengan perlombaan mengejar jabatan, kekayaan, dan pengakuan. Tolak ukur kesuksesan kerap diukur dari apa yang tampak di mata manusia, bukan dari nilai yang sesungguhnya di hadapan Allah SWT.
Namun, Al-Qur’an menghadirkan sebuah pemandangan yang menggetarkan hati melalui Surah Al-A’raf ayat 46–49. Allah menggambarkan adanya Al-A’raf, sebuah tempat yang berada di antara surga dan neraka. Dari tempat itu, terdapat sekelompok manusia yang mampu mengenali penghuni surga dan penghuni neraka berdasarkan tanda-tanda yang Allah berikan kepada mereka.
Mereka memandang penghuni surga dengan penuh harapan sambil memohon agar turut dimasukkan ke dalam golongan yang memperoleh rahmat Allah. Sebaliknya, ketika melihat penghuni neraka, mereka berdoa agar tidak digolongkan bersama orang-orang yang zalim.
Gambaran tersebut bukan sekadar kisah tentang kehidupan setelah kematian. Ia menjadi cermin yang mengajak setiap manusia untuk merenungkan kembali arah hidupnya selama berada di dunia.
Al-A’raf, Gambaran Keadilan dan Rahmat Allah
Allah SWT berfirman:
“Dan di antara keduanya (surga dan neraka) ada batas, dan di atas Al-A’raf ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tandanya…”
(QS. Al-A’raf: 46)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Al-A’raf merupakan tempat yang memperlihatkan kesempurnaan keadilan Allah sekaligus keluasan rahmat-Nya. Tidak ada satu amal pun yang luput dari perhitungan. Tidak ada kedudukan, kekuasaan, maupun keturunan yang dapat mengubah keputusan Allah.
Pesan tersebut terasa sangat relevan di tengah masyarakat modern yang sering kali menilai seseorang berdasarkan jabatan, kekayaan, atau popularitas. Padahal, ukuran kemuliaan menurut Islam bukanlah apa yang dimiliki seseorang, melainkan kualitas iman, ketakwaan, dan amal salehnya.
Ketika Kesombongan Tidak Lagi Memiliki Nilai
Ayat-ayat berikutnya menghadirkan peringatan yang begitu kuat. Orang-orang yang dahulu hidup dengan kesombongan, merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain, bahkan meremehkan kaum mukmin, akhirnya menyadari bahwa seluruh kebanggaan dunia tidak mampu menyelamatkan mereka.
Harta yang selama ini dikumpulkan, kekuasaan yang diperebutkan, hingga pengaruh yang dibanggakan, semuanya kehilangan arti ketika manusia berdiri di hadapan Allah SWT.
Realitas ini menjadi renungan penting bagi siapa pun yang diberi amanah sebagai pemimpin, pejabat, pengusaha, tokoh masyarakat, maupun masyarakat biasa. Semua manusia akan kembali kepada Allah dengan membawa bekal yang sama, yakni amal perbuatannya.
Kesombongan mungkin menghadirkan kehormatan di mata manusia, tetapi kerendahan hati justru meninggikan derajat seseorang di sisi Allah.
Muhasabah di Tengah Hiruk Pikuk Kehidupan Modern
Di era digital, ukuran keberhasilan sering kali ditentukan oleh jumlah pengikut di media sosial, nilai kekayaan, atau pencapaian materi. Tanpa disadari, perlombaan tersebut dapat melahirkan sikap merasa paling benar, paling sukses, bahkan memandang rendah orang lain.
Padahal Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dunia dan persiapan menuju akhirat.
Hari Jumat menjadi momentum yang tepat untuk melakukan muhasabah. Bukan sekadar menghitung berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, melainkan menilai kembali sejauh mana harta tersebut membawa manfaat bagi sesama.
Sudahkah jabatan menjadikan kita lebih adil?
Sudahkah ilmu menjadikan kita lebih rendah hati?
Sudahkah rezeki yang Allah titipkan memperkuat kepedulian kepada mereka yang membutuhkan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana inilah yang sesungguhnya lebih penting daripada sekadar mengejar pengakuan manusia.
Dakwah yang Menenangkan dan Menguatkan Persaudaraan
Nilai yang terkandung dalam Surah Al-A’raf ayat 46–49 bukanlah ajakan untuk menakut-nakuti manusia, melainkan mengingatkan bahwa pintu rahmat Allah selalu terbuka bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh memperbaiki diri.
Dakwah Islam mengajarkan optimisme. Selama napas masih berhembus, kesempatan untuk bertobat, memperbaiki akhlak, mempererat silaturahmi, serta menebarkan manfaat kepada sesama masih terbuka lebar.
Masyarakat yang saling peduli, ringan membantu tetangga, menjaga kejujuran, menghormati perbedaan, serta mengutamakan persaudaraan merupakan cerminan nyata dari dakwah yang hidup di tengah kehidupan modern.
Islam hadir bukan hanya di mimbar-mimbar masjid, tetapi juga melalui perilaku sehari-hari yang menghadirkan rasa aman, kasih sayang, dan keadilan.
Pesan Ulama: Bekal Terbaik Adalah Ketakwaan
Ulama dan dai di berbagai kesempatan senantiasa mengingatkan bahwa manusia tidak pernah mengetahui bagaimana akhir perjalanan hidupnya. Karena itu, tidak ada alasan untuk merasa paling suci ataupun paling aman dari azab Allah.
Sebaliknya, setiap muslim dianjurkan terus memohon rahmat-Nya sambil memperbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan sesama manusia, dan menjaga keikhlasan dalam setiap ibadah.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan bukanlah hasil dari status sosial, melainkan buah dari ketakwaan yang tercermin dalam akhlak dan perbuatan.
Menjadi Pribadi yang Layak Mendapat Rahmat Allah
Renungan Jumat kali ini mengajak setiap muslim untuk menata kembali orientasi hidup. Dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat merupakan tujuan yang sesungguhnya.
Semoga kita tidak menjadi manusia yang terlena oleh gemerlap dunia hingga melupakan bekal menuju kehidupan yang kekal.
Mari menjadikan harta sebagai sarana berbagi, jabatan sebagai amanah untuk melayani, ilmu sebagai cahaya yang menerangi, serta kehidupan sebagai ladang amal.
Karena pada akhirnya, bukan banyaknya kekayaan yang akan ditanya, bukan tingginya jabatan yang akan dipertahankan, melainkan sejauh mana hati kita tetap tunduk kepada Allah SWT dan bermanfaat bagi sesama.
Semoga Allah SWT memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba yang memperoleh rahmat-Nya, dijauhkan dari kesombongan, dan diberikan husnul khatimah.
Wallahu a’lam bish-shawab.















