Example floating
RAMADAN MUBARAK

The Power of Tears: Mengetuk Pintu Langit dengan Tangisan Doa di Penghujung Ramadhan.

Avatar photo
1176
×

The Power of Tears: Mengetuk Pintu Langit dengan Tangisan Doa di Penghujung Ramadhan.

Sebarkan artikel ini

Hari ke-27 Ramadhan: Malam Penuh Harap, Menggetarkan Arsy dengan Tangis Doa

Jika Ramadhan adalah sebuah perlombaan, maka malam ke-27 adalah tikungan terakhir menuju garis finish kemuliaan. Di berbagai belahan dunia, masjid-masjid meluap hingga ke pelataran. Suasana hening seketika pecah oleh isak tangis jamaah yang tenggelam dalam sujud panjang. Inilah malam yang oleh banyak ulama dan sahabat Nabi, seperti Ubay bin Ka’ab, diyakini memiliki potensi besar sebagai malam Lailatul Qadar.

Air Mata: Bahasa Terjujur Seorang Hamba

Secara edukatif, menangis dalam doa bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kejujuran iman. Di malam ke-27 ini, umat Muslim diajak untuk melepaskan segala topeng duniawi. Di hadapan Sang Khalik, semua berdiri setara: sebagai pendosa yang sangat mengharap ampunan dan hamba yang penuh dengan hajat.

Doa yang dipanjatkan dengan tetesan air mata memiliki getaran spiritual yang berbeda. Ia menandakan kerendahan hati (tawadhu) dan pengakuan atas kemahakuasaan Allah SWT.

Landasan Al-Qur’an: Dekatnya Sang Pencipta Saat Hamba Berdoa

Allah SWT menegaskan bahwa Dia sangat dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, terutama di saat-saat penuh kesungguhan. Dalam Surah Al-Baqarah (2: 186), Allah berfirman:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”

Kekuatan malam ini juga digambarkan dalam Surah Ad-Dukhan (44: 3-4) sebagai malam yang penuh berkah:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ. فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan. Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”

Menghidupkan Malam ke-27 dengan ‘Hati yang Remuk’

Agar perburuan Lailatul Qadar di malam ke-27 ini lebih berkesan, berikut beberapa hal yang bisa diamalkan:

  • Tumpahkan Segalanya: Jangan ragu untuk menceritakan segala kesedihan, kegagalan, dan dosa kepada Allah. Dia adalah pendengar terbaik.

  • Perbanyak Doa Sapu Jagad: Selain doa ampunan, mintalah kebaikan di dunia dan akhirat.

  • Hadirkan Kekhusyukan: Matikan lampu atau cari sudut masjid yang sepi agar bisa berkomunikasi lebih intim dengan Tuhan.

  • Istiqomah hingga Fajar: Jangan berhenti berdoa sebelum adzan Subuh berkumandang, karena keberkahan malam ini membentang hingga terbit fajar.

Malam ke-27 bukan sekadar tanggal di kalender, tapi pelabuhan bagi hati yang lelah. Jika di malam-malam sebelumnya kita merasa belum maksimal, malam ini adalah kesempatan emas untuk “merayu” Tuhan dengan ketaatan terbaik kita. Ingatlah, satu malam ini lebih berharga dari sisa usia kita di dunia.

Oleh :

Hj. Sri Wahyuni Utami Herman, ST. (Bunda SWH)
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi Partai NasDem – Dapil Jabar XII

Jangan Lupa Bahagia
Bahagia bersama eSWeHa
Follow : @sriwahyuni.herman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!