RAMADAN MUBARAK

Ujian Terakhir Ramadhan: Tetap Sujud di Tengah Hiruk Pikuk Belanja, Bisa?

Avatar photo
1039
×

Ujian Terakhir Ramadhan: Tetap Sujud di Tengah Hiruk Pikuk Belanja, Bisa?

Sebarkan artikel ini

Hari ke-28 Ramadhan: Menjaga Kemurnian Hati di Tengah Riuh Persiapan Hari Kemenangan

 Ramadhan segera melambaikan tangan perpisahan. Memasuki hari ke-28, atmosfer di tengah masyarakat mulai berubah. Fokus yang semula berada di dalam masjid, kini perlahan bergeser ke pusat perbelanjaan, dapur, dan terminal mudik. Di titik inilah, ujian sesungguhnya dimulai: mampukah kita menjaga keikhlasan dan kualitas ibadah hingga detik terakhir sebelum takbir berkumandang?

Ikhlas: Ruh dari Segala Amal

Secara edukatif, ikhlas adalah memurnikan niat hanya karena Allah SWT, tanpa mengharap pujian manusia atau terdistraksi oleh euforia duniawi. Seringkali, di akhir Ramadhan, kualitas shalat dan tilawah kita menurun karena pikiran sudah terbagi dengan persiapan Idul Fitri.

Padahal, para ulama terdahulu justru semakin mengencangkan ikat pinggang di penghujung bulan. Mereka khawatir jika amal yang telah dibangun selama 27 hari sebelumnya rusak hanya karena rasa pamer (riya) atau ketidaksabaran di akhir waktu.

Landasan Al-Qur’an: Perintah Menyembah dengan Ikhlas

Keikhlasan bukan sekadar pilihan, melainkan syarat mutlak diterimanya sebuah pengabdian. Allah SWT menegaskan hal ini dalam Surah Al-Bayyinah (98: 5):

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat…”

Selain itu, dalam Surah Al-An’am (6: 162), kita diajarkan sebuah ikrar totalitas yang harus kita bawa hingga akhir hayat, bukan hanya saat Ramadhan:

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam’.”

Tips Tetap “On Track” di Hari ke-28

Agar grafik ibadah tidak merosot di penghujung bulan, berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan:

  • Audit Niat: Sebelum melakukan amalan apa pun, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah saya melakukan ini untuk Allah atau agar dilihat orang?”

  • Sempatkan ‘Me Time’ dengan Al-Qur’an: Di tengah kesibukan menyiapkan hidangan lebaran, sempatkan waktu minimal 15 menit untuk berdua saja dengan kalam-Nya.

  • Sedekah Diam-diam: Lakukan satu kebaikan yang tidak diketahui siapa pun untuk melatih otot keikhlasan Anda.

  • Doa Istiqomah: Mintalah kepada Allah agar hati tidak dipalingkan dari ketaatan setelah Ramadhan berlalu.

Keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari seberapa megah perayaan Idul Fitri kita, melainkan dari seberapa bersih hati kita saat berpisah dengannya. Mari jadikan hari ke-28 ini sebagai momentum untuk “mengunci” amal kita dengan segel keikhlasan, sehingga puasa kita menjadi simpanan indah di akhirat kelak.

Oleh :

Hj. Sri Wahyuni Utami Herman, ST. (Bunda SWH)
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi Partai NasDem – Dapil Jabar XII

Jangan Lupa Bahagia
Bahagia bersama eSWeHa
Follow : @sriwahyuni.herman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!