INDRAMAYU # Membangun sekolah sejatinya bukan hanya tentang mendirikan dinding, memperbaiki atap, atau memperbarui ruang belajar. Di balik pembangunan sebuah fasilitas pendidikan, ada harapan agar anak-anak dapat belajar dalam lingkungan yang lebih aman, nyaman dan layak.
Semangat itulah yang terlihat dalam pelaksanaan revitalisasi UPTD SD Negeri 1 Anjatan, Kabupaten Indramayu, yang mendapatkan dukungan melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026 dengan nilai bantuan sebesar Rp1.039.822.000 dari APBN.
Menariknya, pembangunan tersebut dilaksanakan melalui sistem swakelola dengan melibatkan Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP), masyarakat sekitar hingga orang tua siswa yang memiliki keterampilan sebagai tukang bangunan.
Model ini tidak sekadar menghadirkan aktivitas pembangunan fisik. Lebih jauh, revitalisasi tersebut membuka ruang partisipasi masyarakat sekaligus menjadi gambaran bagaimana fasilitas pendidikan dapat dikerjakan dengan semangat kebersamaan.
Revitalisasi Sekolah dengan Dukungan APBN
Berdasarkan papan informasi kegiatan yang terpasang di lingkungan sekolah, revitalisasi SDN 1 Anjatan merupakan Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026 dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Direktorat Sekolah Dasar.
Nilai bantuan yang tercantum mencapai Rp1.039.822.000, atau sekitar Rp1,04 miliar.
Pelaksanaan kegiatan dipercayakan kepada P2SP (Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan) dengan masa pelaksanaan selama 150 hari kalender, terhitung mulai 4 Agustus hingga 31 Desember 2026.
P2SP diketuai oleh Mohammad Fuad, yang juga merupakan Ketua Komite Sekolah UPTD SD Negeri 1 Anjatan.
Dengan pola swakelola, masyarakat sekitar diberikan ruang untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan pekerjaan sesuai kebutuhan dan ketentuan program.
Masyarakat dan Orang Tua Tidak Hanya Menjadi Penonton
Salah satu sisi menarik dari revitalisasi SDN 1 Anjatan adalah keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan.
Tenaga tukang yang digunakan berasal dari masyarakat sekitar. Bahkan, sejumlah orang tua siswa yang memiliki profesi sebagai tukang bangunan ikut mengambil bagian dalam pekerjaan tersebut.
Keterlibatan ini memberikan makna tersendiri. Orang tua tidak hanya melihat pembangunan dari luar pagar sekolah, tetapi turut memberikan kontribusi melalui keterampilan yang mereka miliki.
Salah seorang orang tua siswa yang berprofesi sebagai tukang bangunan mengaku senang dapat ikut berkontribusi.
“Saya senang bisa ikut bekerja dalam pembangunan sekolah ini. Kebetulan pekerjaan saya sebagai tukang bangunan, jadi keahlian yang saya punya bisa ikut dimanfaatkan untuk membantu memperbaiki sekolah tempat anak saya belajar.”
Menurutnya, keterlibatan tersebut juga menghadirkan rasa tanggung jawab yang lebih besar.
“Ini sekolah anak saya juga. Jadi tentu ada rasa tanggung jawab supaya pekerjaan yang kita kerjakan bisa bagus dan nantinya anak-anak bisa belajar dengan lebih nyaman.”
Selain tenaga kerja, pengadaan material juga diupayakan berasal dari lingkungan sekitar sekolah sepanjang tetap memenuhi ketentuan program, kualitas, kewajaran harga dan aspek administrasi.
Dengan demikian, revitalisasi dapat memberikan manfaat berlapis: fasilitas pendidikan diperbaiki, sementara masyarakat lokal memperoleh ruang untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi pembangunan.
Progres Sekitar 20 Persen dan Penyesuaian Konsep Atap
Ketua P2SP SDN 1 Anjatan, Mohammad Fuad, mengatakan progres pekerjaan revitalisasi saat ini telah mencapai sekitar 20 persen.
Dalam proses pelaksanaannya, terdapat penyesuaian terhadap konsep desain, khususnya pada bagian atap.
Konsep awal menggunakan baja ringan, kemudian disesuaikan menjadi dak beton atau dak cor.
“Untuk progres sekarang kurang lebih sudah 20 persen. Memang ada perubahan konsep desain. Tadinya atap menggunakan baja ringan, tetapi kemudian kita ubah menjadi dak cor,” ujar Fuad.
Menurutnya, perubahan tersebut mempertimbangkan kemungkinan pengembangan bangunan sekolah pada masa mendatang.
“Kita berpikir ke depan. Kalau nanti ada bantuan lagi untuk pengembangan sekolah, dengan menggunakan dak cor ini memungkinkan untuk dibuat bangunan bertingkat.”
Namun, Fuad menegaskan bahwa kemungkinan pembangunan bertingkat tersebut bukan berarti penambahan lantai dapat dilakukan begitu saja.
Kekuatan struktur, fondasi, keselamatan, perencanaan teknis serta ketersediaan anggaran tetap menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan apabila sekolah nantinya dikembangkan secara vertikal.
Dengan kata lain, konsep dak beton dipandang sebagai bagian dari pertimbangan pengembangan jangka panjang, bukan jaminan bahwa bangunan akan langsung ditambah lantai.
Swakelola Dinilai Menumbuhkan Rasa Memiliki
Kepala UPTD SD Negeri 1 Anjatan, Patno, S.Pd.SD., M.Pd., melihat sistem swakelola memberikan ruang lebih besar bagi sekolah dan P2SP untuk memahami sekaligus mengawasi proses pembangunan.
Menurut Patno, keterlibatan langsung juga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap hasil pembangunan.
“Dengan sistem swakelola, pekerjaan dan penggunaan material lebih terawasi. Kita mempunyai rasa tanggung jawab terhadap hasil pembangunan tersebut karena kita sendiri sebagai penerima manfaat.”
Ia menambahkan, sekolah sebagai penerima manfaat tentu berharap hasil revitalisasi benar-benar menjawab kebutuhan peserta didik.
“Sebagai penerima manfaat, kita tentunya akan lebih puas karena hasil pembangunan bisa sesuai dengan keinginan dan keperluan sekolah.”
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan fasilitas pendidikan idealnya tidak berhenti pada penyelesaian fisik, tetapi dilanjutkan dengan tanggung jawab bersama untuk merawat dan memanfaatkannya secara optimal.
Dari Gotong Royong hingga Ekonomi Kerakyatan
Patno juga mengaitkan keterlibatan berbagai unsur dalam revitalisasi dengan semangat Indramayu REANG, yakni Religius, Ekonomi Kerakyatan, Aman, Nyaman dan Gotong Royong.
Menurutnya, nilai gotong royong terlihat dari keterlibatan sekolah, komite, orang tua dan masyarakat.
Sementara aspek ekonomi kerakyatan tercermin dari terbukanya kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk terlibat dalam pekerjaan pembangunan.
“Kalau kita melihat semangat Indramayu REANG, revitalisasi ini bisa menjadi bagian dari nilai-nilai tersebut. Ada gotong royong karena sekolah, komite, orang tua dan masyarakat ikut terlibat. Ada juga ekonomi kerakyatan karena tenaga kerja yang digunakan berasal dari masyarakat sekitar,” ujar Patno.
Bagi dunia pendidikan, pendekatan semacam ini memberikan pelajaran bahwa pembangunan sekolah juga dapat menjadi sarana pendidikan sosial bagi masyarakat.
Anak-anak dapat melihat secara langsung bahwa fasilitas yang mereka gunakan dibangun melalui kontribusi banyak pihak dan karena itu perlu dijaga bersama.
Aman dan Nyaman Tetap Menjadi Tujuan Utama
Revitalisasi sekolah pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kualitas lingkungan belajar.
Patno menilai aspek keamanan dan kenyamanan peserta didik menjadi bagian penting dari tujuan pembangunan.
“Yang paling penting adalah bagaimana hasil pembangunan ini nantinya bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak dalam belajar. Karena sekolah bukan hanya tempat membangun gedung, tetapi tempat membangun masa depan anak-anak.”
Selama proses pembangunan berlangsung, perhatian terhadap keselamatan juga diperlukan.
Beberapa bagian bangunan terlihat telah dibongkar untuk proses perbaikan. Material seperti kayu dan genteng bekas juga terdapat di sekitar area pekerjaan.
Pihak pelaksana telah memasang papan peringatan “Area Berbahaya – Dilarang Masuk Bagi yang Tidak Berkepentingan.”
Keberadaan pembatas dan rambu keselamatan menjadi penting karena aktivitas pembangunan berlangsung di lingkungan sekolah yang juga masih berhubungan dengan aktivitas guru, siswa dan tenaga kependidikan.
Anggaran Publik Membutuhkan Transparansi
Dengan nilai bantuan lebih dari Rp1 miliar, pelaksanaan revitalisasi tentu tidak hanya membutuhkan semangat gotong royong, tetapi juga transparansi dan akuntabilitas.
Sistem swakelola bukan berarti pembangunan berjalan tanpa aturan. Sebaliknya, penggunaan anggaran negara tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku.
Pengelolaan kegiatan perlu memperhatikan perencanaan, volume pekerjaan, spesifikasi material, kewajaran harga, penggunaan tenaga kerja, dokumentasi, administrasi serta pencatatan progres pekerjaan.
Transparansi menjadi penting agar masyarakat memahami bahwa anggaran publik yang digunakan untuk revitalisasi benar-benar diarahkan untuk kepentingan peningkatan kualitas pendidikan.
Semangat gotong royong dengan demikian harus berjalan beriringan dengan tata kelola yang baik.
Revitalisasi Bukan Sekadar Membangun Gedung
Jika dilihat lebih luas, revitalisasi SDN 1 Anjatan memiliki dimensi sosial yang cukup kuat.
Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi ikut mengambil bagian dalam proses pembangunan.
Orang tua siswa yang berprofesi sebagai tukang dapat berkontribusi melalui keterampilan mereka.
Komite sekolah melalui P2SP menjadi bagian dari pengorganisasian kegiatan.
Sekolah memiliki tanggung jawab untuk memastikan hasil pembangunan sesuai kebutuhan.
Sementara peserta didik pada akhirnya menjadi kelompok yang paling diharapkan merasakan manfaat dari revitalisasi tersebut.
Di sinilah pembangunan fisik bertemu dengan pembangunan sosial.
Sekolah yang lebih baik diharapkan melahirkan lingkungan belajar yang lebih nyaman. Masyarakat yang terlibat diharapkan memiliki rasa memiliki yang lebih kuat. Dan fasilitas yang dibangun dengan anggaran publik diharapkan dapat dirawat serta dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Menjaga Semangat REANG hingga Pembangunan Selesai
Revitalisasi SDN 1 Anjatan dijadwalkan berlangsung selama 150 hari kalender, mulai 4 Agustus hingga 31 Desember 2026.
Dengan progres sekitar 20 persen, tahapan pekerjaan berikutnya menjadi penting untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai target waktu dan kualitas yang direncanakan.
Harapannya, perubahan desain atap menjadi dak beton dapat diwujudkan dengan perencanaan teknis yang tepat dan tetap mengutamakan keselamatan bangunan.
Lebih dari itu, proses pembangunan diharapkan tetap mempertahankan semangat kolaborasi yang sejak awal menjadi salah satu kekuatannya.
Sebab, keberhasilan revitalisasi sekolah tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat bangunan selesai.
Keberhasilan juga dapat dilihat dari kualitas pekerjaan, ketertiban penggunaan anggaran, transparansi, keselamatan, manfaat bagi peserta didik, pemberdayaan masyarakat dan tumbuhnya rasa memiliki terhadap fasilitas pendidikan.
Pada akhirnya, sebuah sekolah bukan hanya bangunan tempat anak-anak belajar membaca, menulis dan berhitung.
Sekolah adalah tempat masa depan dipersiapkan.
Ketika sekolah, orang tua, komite dan masyarakat mampu bergandengan tangan membangun fasilitas pendidikan, maka yang sedang dibangun bukan hanya gedung, tetapi juga kepercayaan, kebersamaan dan harapan bagi generasi Indramayu.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai Indramayu REANG: Religius, Ekonomi Kerakyatan, Aman, Nyaman dan Gotong Royong—sebuah semangat yang idealnya tidak berhenti ketika proyek selesai, tetapi terus hidup dalam cara masyarakat menjaga dan memanfaatkan hasil pembangunan bersama.















