INDRAMAYU # Kebahagiaan tidak selalu harus hadir melalui kegiatan besar. Bagi 160 warga Indramayu, kebersamaan, hiburan dan pesan kehidupan justru hadir dalam sebuah layar bioskop melalui kegiatan nonton bareng (nobar) film “Ibadah dan Cinta” karya sutradara Jastis Arimba.
Kegiatan yang berlangsung di salah satu bioskop di Jalan Gatot Subroto, Indramayu, pada Senin Kliwon, 5 Oktober 2026, tersebut digagas Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi NasDem, Hj. Sri Wahyuni Utami Herman, S.T., atau yang akrab disapa Bunda SWH, melalui program “Gerakan Kebahagiaan”.
Gerakan Kebahagiaan, Berbagi Energi Positif kepada Warga
Kegiatan tersebut dirancang bukan sekadar sebagai hiburan. Lebih dari itu, nobar menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus mengajak masyarakat mengambil nilai positif dari sebuah karya film.
Bunda SWH menjelaskan, peserta yang hadir tidak hanya berasal dari kader NasDem, tetapi juga masyarakat umum. Tingginya antusiasme bahkan membuat masih banyak masyarakat yang ingin mengikuti kegiatan tersebut, sementara kapasitas bioskop terbatas.
“Alhamdulillah yang hadir tidak hanya dari kader NasDem, tetapi juga masyarakat umum. Antusiasmenya sangat luar biasa. Masih banyak yang ingin hadir, tetapi memang kapasitasnya hanya sekian,” kata Bunda SWH.
Ia berharap kegiatan nobar serupa dapat kembali digelar dengan menghadirkan film-film inspiratif, penuh makna dan membawa pesan kebaikan bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan.
“Insya Allah ke depan akan hadir film-film yang inspiratif, membawa kebaikan dan penuh makna yang akan kita adakan lagi, agar semua masyarakat bisa mendapatkan dampak yang baik, terutama bagi perempuan,” ungkapnya
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari semangat Gerakan Kebahagiaan, yakni menghadirkan ruang kebersamaan yang tidak berhenti pada kesenangan sesaat, tetapi juga memberikan pengalaman dan nilai yang dapat dibawa pulang oleh peserta.
Film “Ibadah dan Cinta” Angkat Perjalanan Cinta dan Spiritual
Pemilihan film “Ibadah dan Cinta” juga memiliki alasan tersendiri. Film garapan Jastis Arimba tersebut membawa penonton ke dalam kehidupan pesantren yang tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kesederhanaan, penghormatan kepada guru dan kiai.
Cerita film mempertemukan dua karakter utama, Rico yang diperankan Achmad Megantara dan Santun yang diperankan Indah Permatasari.
Kisah keduanya membawa penonton menyelami persoalan cinta yang tidak selalu berjalan mudah. Kehilangan, keikhlasan dan pencarian spiritual menjadi bagian dari perjalanan para tokohnya.
Pesan tersebut membuat film tidak semata berbicara tentang hubungan romantis, tetapi juga mengajak penonton melihat kembali makna cinta dalam kehidupan yang lebih luas.
Cinta Tidak Berhenti pada Hubungan Antarmanusia
Sutradara Jastis Arimba mengungkapkan, film tersebut mencoba menghadirkan pemaknaan cinta dari sudut pandang yang lebih luas.
Cinta tidak hanya dipahami sebagai hubungan romantis antara dua manusia, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menumbuhkan kepedulian kepada sesama makhluk hidup.
Perspektif tersebut menjadi salah satu pesan edukatif yang dapat dipetik masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, cinta dapat diwujudkan melalui kepedulian, keikhlasan, penghormatan, kesediaan membantu dan kemauan memperbaiki diri.
Perjalanan Rico Mengajarkan Arti Kesempatan untuk Berubah
Achmad Megantara yang memerankan Rico juga membagikan pengalaman dalam membawakan karakter yang menghadapi perjalanan pencarian jati diri dan spiritual.
Karakter tersebut menggambarkan bahwa manusia tidak terlepas dari kesalahan. Namun, kesalahan bukan berarti akhir dari perjalanan.
Selalu ada ruang untuk bertobat, belajar dari pengalaman dan memperbaiki diri di hadapan Sang Maha Kuasa.
Pesan ini relevan dengan kehidupan masyarakat karena setiap orang pada dasarnya memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.
Bunda Windu Herman: Nilai Kebaikan Diharapkan Dibawa ke Kehidupan Sehari-hari
Ketua DPD Garnita NasDem Indramayu, BWH (Bunda Windu Herman), turut menyampaikan harapan terhadap kegiatan tersebut.
Menurutnya, kegiatan nobar diharapkan meninggalkan kesan positif bagi seluruh peserta. Nilai-nilai kebaikan yang diperoleh dari film maupun kebersamaan selama kegiatan diharapkan tidak berhenti ketika acara selesai.
Sebaliknya, nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga dan lingkungan masyarakat.
Harapan itu sekaligus menegaskan bahwa kegiatan sosial dapat dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan masyarakat. Hiburan dapat menjadi pintu masuk untuk menghadirkan edukasi, refleksi dan penguatan hubungan sosial.
Seni, Kepedulian Sosial dan Ruang Refleksi
Kehadiran sejumlah tokoh publik dan seniman senior turut memperkuat pesan film. Ketua Umum Fatayat NU periode 2022–2026, Margaret Aliyatul Maimunah, tampil sebagai istri Kiai Usman. Sementara Dewan Pembina Fatayat NU, Anggia Erma Rini, memerankan seorang dokter.
Melalui perpaduan seni perfilman dan kegiatan sosial, masyarakat memperoleh pengalaman yang lebih dari sekadar tontonan.
Film menjadi ruang untuk melihat persoalan kehidupan dari sudut pandang berbeda, sementara kegiatan bersama membuka kesempatan bagi warga untuk bersilaturahmi dan berbagi pengalaman.
Kebahagiaan yang Dapat Menumbuhkan Energi Positif
Kegiatan 160 warga Indramayu tersebut menunjukkan bahwa gerakan sosial dapat dilakukan melalui cara-cara sederhana dan dekat dengan keseharian masyarakat.
Nobar menjadi sarana rekreasi, tetapi sekaligus dapat menjadi media edukasi moral dan refleksi spiritual.
Pada akhirnya, kebahagiaan bukan hanya tentang mendapatkan hiburan. Kebahagiaan juga dapat tumbuh ketika seseorang memiliki kesempatan untuk berkumpul, berbagi energi positif, mendapatkan inspirasi dan pulang dengan semangat untuk menjalani kehidupan secara lebih baik.
Semangat itulah yang menjadi pesan penting dari Gerakan Kebahagiaan Bunda SWH: menghadirkan ruang kebersamaan yang memberi manfaat, memperkuat silaturahmi dan menumbuhkan optimisme masyarakat Indramayu.















