EKOSOSIAL

Bukan Sekadar Bangunan, Revitalisasi SDN 2 Mangunjaya Hidupkan Gotong Royong Warga dan Orang Tua Siswa Turun Tangan Bangun Sekolah Anak

Avatar photo
20061
×

Bukan Sekadar Bangunan, Revitalisasi SDN 2 Mangunjaya Hidupkan Gotong Royong Warga dan Orang Tua Siswa Turun Tangan Bangun Sekolah Anak

Sebarkan artikel ini

INDRAMAYU # Pembangunan sekolah tidak selalu berhenti pada persoalan memperbaiki dinding, ruang kelas, atau fasilitas yang rusak. Di UPTD SD Negeri 2 Mangunjaya, Kabupaten Indramayu, program revitalisasi justru menjadi ruang perjumpaan antara pemerintah, sekolah, komite, masyarakat dan orang tua siswa.

Di tengah proses pembangunan tersebut, sejumlah orang tua siswa yang memiliki keahlian sebagai tukang bangunan ikut terlibat langsung. Mereka tidak hanya menyaksikan sekolah tempat anak-anak mereka belajar diperbaiki, tetapi turut memberikan tenaga dan keahlian untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang lebih layak.

Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026, UPTD SDN 2 Mangunjaya memperoleh bantuan pemerintah sebesar Rp602.960.000 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026. Bantuan tersebut disalurkan melalui Direktorat Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Enam Ruang Belajar, Kantor Guru dan Toilet Direvitalisasi

Revitalisasi UPTD SDN 2 Mangunjaya mencakup enam ruang belajar, satu ruang kantor guru dan satu ruang toilet.

Pekerjaan tersebut dilaksanakan selama 120 hari kalender, mulai 4 Agustus hingga 30 November 2026.

Yang menarik, pembangunan menggunakan sistem swakelola melalui Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP). Pola ini memberikan ruang bagi masyarakat sekitar untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan, termasuk melalui keterlibatan warga sebagai tenaga kerja.

Sejumlah orang tua siswa yang berprofesi sebagai tukang bangunan pun ikut mengambil bagian. Bagi mereka, pembangunan sekolah bukan semata-mata pekerjaan, melainkan bentuk kepedulian terhadap tempat anak-anak mereka menimba ilmu.

Dengan demikian, revitalisasi tidak hanya menghasilkan pekerjaan fisik, tetapi juga menghadirkan proses sosial yang mempertemukan sekolah dengan masyarakat di sekitarnya.

Bantuan Pemerintah Menjadi Momentum Membenahi Fasilitas Sekolah

Kepala UPTD SDN 2 Mangunjaya, Kayim, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas terealisasinya program revitalisasi tersebut.

Menurut Kayim, bantuan pemerintah menjadi bentuk perhatian terhadap peningkatan kualitas sarana pendidikan sekaligus kesempatan bagi sekolah untuk melakukan pembenahan fasilitas.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Indramayu, serta Dinas Pendidikan atas terealisasinya program revitalisasi ini. Bantuan ini sangat berarti bagi sekolah kami,” ujar Kayim.

Ia berharap pembangunan tidak hanya menghasilkan perubahan secara fisik. Lebih jauh, fasilitas yang diperbaiki diharapkan mampu menciptakan ruang belajar yang lebih nyaman bagi siswa sekaligus mendukung guru dalam menjalankan kegiatan pembelajaran.

“Anak-anak membutuhkan ruang belajar yang layak dan nyaman. Ketika sarana pendukungnya semakin baik, tentu kami juga semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” tuturnya.

P2SP Dorong Swakelola dan Pemberdayaan Masyarakat

Ketua Komite Sekolah sekaligus Ketua Pelaksana P2SP, H. Rustono, S.H., mengatakan revitalisasi dilaksanakan dengan sistem swakelola dengan mengutamakan keterlibatan masyarakat sekitar.

Menurut Rustono, masyarakat diberikan kesempatan untuk berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Sebagian memberikan tenaga, keahlian maupun waktu untuk mendukung pembangunan sekolah.

“Pelaksanaan revitalisasi ini dilakukan secara swakelola. Kami melibatkan masyarakat sekitar sebagai tenaga tukang, termasuk orang tua siswa yang memang mempunyai profesi atau keahlian sebagai tukang bangunan,” jelas Rustono.

Ia menilai keterlibatan masyarakat memiliki nilai lebih dari sekadar membantu menyelesaikan pekerjaan. Ketika warga ikut membangun sekolah, tumbuh pula rasa memiliki terhadap fasilitas pendidikan tersebut.

“Ketika masyarakat ikut membangun, tentu akan muncul rasa memiliki. Harapannya setelah pembangunan selesai, semua pihak juga ikut menjaga dan merawat hasil revitalisasi ini,” ujarnya.

Semangat tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan pendidikan dapat menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah memberikan dukungan, sekolah menjalankan program, P2SP mengawal pelaksanaan, sedangkan masyarakat dan orang tua ikut mengambil peran.

Orang Tua Siswa Ikut Membangun Sekolah Anak

Salah satu sisi humanis dalam revitalisasi SDN 2 Mangunjaya muncul dari keterlibatan orang tua siswa yang memiliki profesi sebagai tukang bangunan.

Salah seorang orang tua siswa mengaku senang ketika keahliannya dapat digunakan untuk membantu pembangunan sekolah tempat anaknya belajar.

“Saya bekerja sebagai tukang bangunan. Ketika ada kesempatan ikut membangun sekolah tempat anak saya belajar, tentu saya senang. Keahlian yang saya punya bisa ikut digunakan untuk membantu sekolah,” ungkapnya.

Baginya, keterlibatan tersebut bukan sekadar pekerjaan. Ada kebanggaan tersendiri ketika dapat memberikan kontribusi terhadap lingkungan pendidikan anak.

“Kalau kita ikut membangun tempat anak sendiri belajar, rasanya ada kebanggaan. Kita ingin sekolahnya menjadi lebih baik supaya anak-anak juga semakin nyaman belajar,” katanya.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pendidikan tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk materi. Keahlian dan tenaga juga dapat menjadi bentuk kepedulian yang nyata.

Revitalisasi Sekolah Selaras dengan Semangat Indramayu REANG

Bagi Kayim, revitalisasi sekolah juga memiliki hubungan dengan semangat pembangunan Kabupaten Indramayu melalui nilai Indramayu REANG, yakni Religius, Ekonomi Kerakyatan, Aman, Nyaman dan Gotong Royong.

Nilai ekonomi kerakyatan terlihat dari keterlibatan masyarakat sekitar dalam proses pembangunan. Tenaga kerja lokal mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi sesuai kemampuan dan keahlian mereka.

Sementara unsur aman dan nyaman menjadi tujuan utama revitalisasi. Sarana pendidikan yang lebih layak diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung siswa dan guru dalam menjalankan aktivitas pendidikan.

Adapun semangat gotong royong tampak dari keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, sekolah, P2SP, komite, masyarakat hingga orang tua siswa.

“Kami melihat revitalisasi ini juga sejalan dengan semangat Indramayu REANG yang dicanangkan Bupati Indramayu Lucky Hakim. Ada unsur ekonomi kerakyatan karena masyarakat ikut terlibat, ada kenyamanan bagi siswa dan guru, serta ada gotong royong dalam proses pembangunan,” ujar Kayim.

Pemerintah Hadir, Masyarakat Bergerak

Program revitalisasi UPTD SDN 2 Mangunjaya menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan dapat menjadi lebih bermakna ketika dukungan pemerintah bertemu dengan partisipasi masyarakat.

Bantuan sebesar Rp602.960.000 dari APBN Tahun Anggaran 2026 menjadi dukungan penting bagi pembenahan fasilitas sekolah. Namun, makna program tersebut tidak hanya terletak pada besaran anggaran.

Di dalamnya terdapat partisipasi masyarakat yang ikut bekerja, orang tua siswa yang memberikan keahlian sebagai tukang, komite sekolah yang terlibat melalui P2SP, serta sekolah yang memiliki tanggung jawab memastikan hasil pembangunan memberikan manfaat maksimal bagi peserta didik.

Sekolah pada akhirnya bukan ruang yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.

Ketika masyarakat merasa ikut memiliki sekolah, tanggung jawab menjaga fasilitas pendidikan juga dapat tumbuh menjadi tanggung jawab bersama.

Membangun Gedung, Membangun Harapan

Pada akhirnya, revitalisasi UPTD SDN 2 Mangunjaya bukan sekadar cerita mengenai enam ruang belajar, kantor guru dan toilet.

Ini adalah cerita tentang harapan.

Harapan agar anak-anak dapat belajar di lingkungan yang lebih baik. Harapan agar guru dapat mengajar dengan lebih nyaman. Harapan agar hubungan antara masyarakat dan sekolah semakin dekat. Dan harapan agar bantuan pemerintah benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi generasi penerus.

Keterlibatan orang tua sebagai tenaga tukang menjadi pesan sederhana bahwa pendidikan bukan hanya urusan pemerintah dan sekolah.

Pemerintah memberikan dukungan melalui program revitalisasi. Sekolah menjalankan amanah. P2SP mengawal pelaksanaan. Komite menjadi penghubung dengan masyarakat. Orang tua memberikan tenaga dan keahlian. Masyarakat ikut bergotong royong.

Semua bergerak menuju tujuan yang sama: membangun sekolah yang lebih aman, nyaman dan layak sebagai ruang tumbuh anak-anak Indramayu.

Sebab, ketika pembangunan fisik telah selesai, pekerjaan sesungguhnya belum berakhir. Menjaga sekolah, merawat fasilitas dan memastikan anak-anak mendapatkan lingkungan pendidikan yang baik merupakan investasi jangka panjang.

Dari sebuah ruang kelas yang diperbaiki, tumbuh sebuah harapan. Dari gotong royong masyarakat, lahir rasa memiliki. Dan dari sekolah yang semakin baik, diharapkan lahir generasi Indramayu yang semakin unggul.

Baca Fakta Edukasi Berita

  • UPTD SDN 2 Mangunjaya mendapat bantuan revitalisasi sebesar Rp602.960.000.
  • Dana bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026.
  • Program disalurkan melalui Direktorat Sekolah Dasar, Ditjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen, Kemendikdasmen.
  • Revitalisasi mencakup enam ruang belajar, satu kantor guru dan satu toilet.
  • Pekerjaan berlangsung 120 hari kalender, 4 Agustus–30 November 2026.
  • Pembangunan menggunakan sistem swakelola melalui P2SP.
  • Masyarakat sekitar dilibatkan sebagai tenaga kerja.
  • Sejumlah orang tua siswa yang berprofesi sebagai tukang ikut bekerja langsung.
  • Kepala sekolah mengapresiasi dukungan pemerintah terhadap peningkatan fasilitas pendidikan.
  • Ketua P2SP menilai keterlibatan masyarakat dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah.
  • Revitalisasi dikaitkan dengan nilai Indramayu REANG.
  • Semangat gotong royong diharapkan berlanjut setelah pembangunan selesai melalui pemeliharaan fasilitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!