INDRAMAYU # Ketika angka desil pada data sosial ekonomi sebuah keluarga berubah, pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat biasanya sederhana: mengapa bisa berubah dan apa dampaknya terhadap akses program pemerintah?
Pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dari edukasi yang disampaikan Hj. Sri Wahyuni Utami Herman, ST., atau Bunda SWH, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi NasDem, dalam kegiatan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan bertema “Mengapa Desil Berubah? Memahami Mekanisme Pemutakhiran Data dan Dampaknya terhadap Akses Bantuan” di Desa Patrol, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu, Sabtu, 26 September 2026.
Desil Menggambarkan Posisi Relatif Kesejahteraan Keluarga
Bunda SWH menjelaskan bahwa desil merupakan pengelompokan keluarga berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraan sosial ekonominya.
Dalam sistem Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), keluarga diperingkatkan berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi, kemudian dikelompokkan menjadi 10 kelompok. BPS menjelaskan bahwa desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.
“Desil bukan sekadar angka. Di balik sebuah desil ada kondisi sosial ekonomi keluarga yang menjadi gambaran bagaimana keadaan masyarakat. Karena itu, masyarakat perlu memahami apa arti desil dan bagaimana data tersebut diperbarui,” jelas Bunda SWH.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa desil bukan label permanen terhadap sebuah keluarga. Kondisi sosial ekonomi rumah tangga dapat berubah seiring perjalanan waktu.
Perubahan pekerjaan, pendapatan, jumlah anggota keluarga, kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset, pendidikan, kesehatan, maupun berbagai kondisi sosial ekonomi lainnya dapat menjadi bagian dari informasi yang dipertimbangkan dalam pemeringkatan. BPS juga menegaskan bahwa posisi desil tidak ditentukan hanya oleh satu indikator seperti pendapatan, pekerjaan, kepemilikan barang, atau daya listrik.
Mengapa Posisi Desil Dapat Berubah?
Bunda SWH menerangkan bahwa perubahan desil perlu dilihat sebagai bagian dari dinamika data sosial ekonomi.
Sebuah keluarga yang sebelumnya memiliki kondisi ekonomi tertentu dapat mengalami perubahan karena kehilangan pekerjaan, memperoleh pekerjaan baru, mengalami perubahan jumlah anggota keluarga, berpindah kondisi tempat tinggal, mengalami perubahan kepemilikan aset, atau faktor sosial ekonomi lainnya.
Karena kondisi keluarga dapat berubah, data yang menggambarkan kondisi tersebut juga perlu diperbarui agar semakin mendekati keadaan sebenarnya.
BPS menyebut DTSEN sebagai data yang dinamis dan terus dimutakhirkan. Pemutakhiran dapat memanfaatkan berbagai sumber, antara lain data administrasi, sensus dan survei, pembaruan dari kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, pengecekan lapangan atau ground check, serta informasi yang disampaikan masyarakat melalui kanal yang tersedia.
Perubahan Desil Tidak Terjadi Secara Otomatis
Bunda SWH mengingatkan masyarakat agar tidak memahami perubahan desil secara sederhana sebagai akibat dari satu perubahan kondisi saja.
“Jadi, kalau masyarakat melihat desilnya berubah, jangan langsung melihat hasil akhirnya saja. Yang juga penting adalah memahami bahwa ada proses pemutakhiran dan pengolahan data di belakangnya. Yang paling utama adalah memastikan informasi tentang keluarga kita tercatat dengan benar,” kata Bunda SWH.
BPS menjelaskan bahwa perubahan satu indikator tidak otomatis membuat posisi desil berubah karena berbagai karakteristik sosial ekonomi dipertimbangkan secara bersama-sama dalam proses pemeringkatan. Pengajuan pembaruan data juga tidak berarti posisi desil akan berubah secara otomatis.
Dengan demikian, masyarakat perlu melihat desil sebagai hasil pemeringkatan relatif berdasarkan data yang tersedia dan metode yang berlaku, bukan sebagai ukuran tunggal yang secara langsung menyatakan besaran pendapatan atau kekayaan sebuah keluarga.
Masyarakat Punya Peran dalam Menjaga Akurasi Data
Menurut Bunda SWH, kualitas data bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting dengan memastikan informasi mengenai kondisi keluarganya tercatat secara benar dan diperbarui ketika terjadi perubahan.
“Masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga kualitas data. Kalau ada perubahan kondisi keluarga, pastikan informasi yang tercatat juga diperbarui sesuai mekanisme yang berlaku. Jangan sampai kondisi nyata sudah berubah, tetapi data yang digunakan masih data lama,” ujarnya.
BPS juga mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemutakhiran data. Informasi yang disampaikan masyarakat menjadi bagian dari proses pembaruan dan selanjutnya diproses sesuai mekanisme yang berlaku.
Data Akurat Membantu Program Lebih Tepat Sasaran
Bunda SWH menilai pemahaman masyarakat mengenai desil penting karena data sosial ekonomi menjadi salah satu basis informasi pemerintah dalam menentukan sasaran berbagai program sesuai kriteria dan kebijakan masing-masing.
Ia menekankan bahwa desil bukan daftar otomatis penerima suatu program. BPS juga menjelaskan bahwa penggunaan desil harus dibaca sesuai konteks dan ketentuan program yang bersangkutan.
“Tujuannya bukan untuk memberi label kepada masyarakat. Desil digunakan untuk membantu menggambarkan kondisi sosial ekonomi sehingga pemerintah memiliki dasar data dalam menyusun dan menentukan sasaran program,” ungkapnya.
Karena itu, pembaruan data menjadi bagian penting dalam membangun sistem perlindungan sosial dan berbagai program pemerintah yang lebih responsif terhadap perubahan kondisi masyarakat.
Memahami Desil agar Tidak Mudah Salah Persepsi
Bunda SWH berharap masyarakat Desa Patrol dan wilayah lainnya semakin memahami bahwa desil merupakan bagian dari sistem data sosial ekonomi yang dinamis.
Ia mengajak masyarakat tidak hanya melihat angka desil, tetapi juga memahami proses yang berada di balik angka tersebut. Ketika terjadi perubahan, masyarakat dapat memastikan terlebih dahulu apakah informasi mengenai kondisi keluarganya sudah tercatat sesuai keadaan sebenarnya.
“Saya berharap masyarakat tidak lagi melihat desil hanya sebagai angka atau menentukan dapat atau tidak dapatnya suatu program. Yang lebih penting adalah memahami bahwa desil merupakan bagian dari upaya menggunakan data sosial ekonomi untuk membantu pemerintah menentukan sasaran program secara lebih tepat,” pungkas Bunda SWH.
Pada akhirnya, pemahaman yang baik terhadap data bukan hanya membantu masyarakat membaca perubahan desil, tetapi juga mendorong partisipasi publik dalam menjaga kualitas informasi sosial ekonomi.
Data yang semakin akurat dan mutakhir diharapkan dapat menjadi fondasi bagi perencanaan program yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat, sementara warga memiliki ruang untuk ikut memastikan bahwa kondisi keluarganya tercermin secara benar dalam data pemerintah.















