EKOSOSIAL

Bukan Sekadar Renovasi, Revitalisasi SMPN 2 Gantar Hidupkan Semangat REANG dan Ekonomi Warga

Avatar photo
12950
×

Bukan Sekadar Renovasi, Revitalisasi SMPN 2 Gantar Hidupkan Semangat REANG dan Ekonomi Warga

Sebarkan artikel ini

INDRAMAYU  # Pembangunan sekolah tidak selalu berhenti pada persoalan memperbaiki dinding, atap, ruang kelas, atau fasilitas yang mengalami kerusakan. Di UPTD SMP Negeri 2 Gantar, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, program revitalisasi justru menjadi momentum untuk membangun lingkungan pendidikan yang lebih aman, nyaman sekaligus melibatkan masyarakat di sekitar sekolah.

Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026, SMPN 2 Gantar memperoleh bantuan pemerintah sebesar Rp1.194.691.000 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026. Bantuan tersebut disalurkan melalui Direktorat Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Di bawah kepemimpinan Kepala SMPN 2 Gantar, Novianti, S.Pd., pelaksanaan pembangunan menggunakan mekanisme swakelola dengan masa pengerjaan selama 120 hari, mulai 1 Agustus hingga 30 November 2026.

Memasuki hari ke-35 pelaksanaan, progres pekerjaan diperkirakan telah mencapai hampir 40 persen. Salah satu pekerjaan yang menjadi perhatian adalah penyelesaian struktur atap agar dapat dituntaskan sebelum memasuki periode dengan curah hujan tinggi.

Rp1,19 Miliar untuk Membenahi Fasilitas Pendidikan

Revitalisasi SMPN 2 Gantar diarahkan untuk memperbaiki sejumlah fasilitas yang selama ini menjadi bagian penting dalam aktivitas pendidikan.

Pekerjaan mencakup rehabilitasi dua ruang kelas yang diproyeksikan meningkatkan kenyamanan siswa kelas 7, satu Laboratorium, serta satu bangunan mushola.

Tidak hanya ruang pembelajaran, fasilitas administrasi juga mendapatkan perhatian. Ruang administrasi yang terdiri atas ruang Tata Usaha (TU) dan Kepala Sekolah turut direhabilitasi. Pembangunan juga mencakup dua toilet serta pemagaran area sekolah.

Pembenahan tersebut memiliki arti penting karena kualitas lingkungan fisik sekolah berkaitan erat dengan kenyamanan peserta didik dan tenaga pendidik dalam menjalankan aktivitas pendidikan.

Sekolah yang memiliki fasilitas layak bukan sekadar menghadirkan bangunan yang terlihat lebih baik. Lingkungan tersebut diharapkan mampu mendukung proses belajar mengajar, membangun rasa aman, serta menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi perkembangan peserta didik.

Novianti: Revitalisasi Harus Memberi Manfaat bagi Anak dan Masyarakat

Kepala SMPN 2 Gantar, Novianti, S.Pd., memandang program revitalisasi bukan semata-mata sebagai kegiatan pembangunan fisik.

Menurutnya, fasilitas sekolah yang lebih baik harus bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan pendidikan dan menciptakan suasana belajar yang aman serta nyaman bagi peserta didik.

“Kami sangat bersyukur dengan adanya Program Revitalisasi Satuan Pendidikan ini. Bagi kami, pembangunan bukan hanya tentang memperbaiki gedung, tetapi bagaimana fasilitas yang lebih baik dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak,” ujar Novianti.

Ia juga mengaitkan pelaksanaan revitalisasi dengan semangat pembangunan Kabupaten Indramayu melalui nilai REANG, yakni Religius, Ekonomi Kerakyatan, Aman, Nyaman, dan Gotong Royong.

Menurut Novianti, nilai tersebut dapat diterjemahkan secara nyata di lingkungan sekolah.

Religius antara lain diwujudkan melalui pembenahan mushola dan penciptaan lingkungan pendidikan yang baik. Ekonomi kerakyatan diwujudkan dengan membuka ruang keterlibatan masyarakat sekitar. Sementara unsur aman dan nyaman menjadi tujuan dari pembenahan fasilitas serta penguatan bangunan.

Adapun semangat gotong royong terlihat melalui keterlibatan sekolah, komite, orang tua siswa dan masyarakat dalam proses pembangunan.

“Kami berupaya menerjemahkan semangat Indramayu REANG dalam lingkungan sekolah. Religius kami wujudkan salah satunya melalui pembenahan mushola dan pembentukan lingkungan pendidikan yang baik. Ekonomi kerakyatan diwujudkan dengan melibatkan masyarakat sekitar, sementara aman dan nyaman kami upayakan melalui perbaikan fasilitas. Sedangkan gotong royong terlihat dari keterlibatan sekolah, komite, orang tua dan masyarakat dalam proses pembangunan,” jelasnya.

Swakelola Membuka Ruang bagi Orang Tua dan Warga

Salah satu sisi menarik dari revitalisasi SMPN 2 Gantar adalah mekanisme swakelola yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk ikut terlibat langsung.

Sebanyak 16 tenaga kerja terlibat dalam proses pembangunan. Dari jumlah tersebut, 12 orang merupakan pekerja lokal yang berasal dari lingkungan sekitar sekolah, sedangkan empat orang lainnya merupakan tenaga ahli teknis pendamping.

Pelaksanaan pekerjaan diketuai Rosid, S.T., selaku Ketua Tim Pelaksana Swakelola (P2SP), yang juga merupakan perwakilan orang tua siswa.

Sementara tim pendamping dari pihak sekolah dipimpin Kepala Tata Usaha, Carno, bersama Komite Sekolah yang diketuai Surnadi.

Bagi Charno, swakelola memberikan kesempatan kepada sekolah dan masyarakat untuk melihat serta mengawasi pembangunan secara langsung. Hal itu sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas yang sedang dibangun.

“Dengan sistem swakelola, kami bisa ikut mengawasi pekerjaan secara langsung. Kami bisa melihat bagaimana material digunakan, bagaimana pengerjaan dilakukan dan bagaimana kerapihan hasilnya. Jadi ada rasa memiliki terhadap bangunan yang sedang kami kerjakan,” ujar Charno.

Keterlibatan tenaga lokal juga membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar sekolah.

“Ini bukan hanya soal membangun gedung. Masyarakat sekitar juga mendapatkan kesempatan bekerja. Ada orang tua siswa dan warga sekitar yang ikut terlibat. Mereka bekerja untuk sekolah tempat anak-anak mereka belajar. Karena itu, rasa tanggung jawabnya juga berbeda,” katanya.

Perspektif tersebut menunjukkan bahwa pembangunan melalui swakelola tidak hanya dapat dilihat dari hasil fisiknya. Ada nilai sosial yang ikut tumbuh ketika masyarakat merasa menjadi bagian dari proses pembangunan.

Kerusakan Bangunan Lama Mendorong Penguatan Struktur

Revitalisasi juga menjadi jawaban atas kondisi sejumlah bagian bangunan lama yang membutuhkan pembenahan.

Carno mengungkapkan, sebelumnya pihak sekolah menghadapi kondisi bangunan lama yang rusak, bahkan terdapat bagian yang sempat mengalami kerusakan berat. Karena itu, adanya program revitalisasi menjadi kabar yang memberikan kelegaan bagi lingkungan sekolah.

“Dulu kami cukup pusing melihat kondisi bangunan lama yang rusak dan ada bagian yang sempat ambruk. Sekarang kami merasa lega karena ada perbaikan. Dengan swakelola, kami merasa ikut memiliki dan ingin memastikan pekerjaan ini benar-benar baik dan rapi,” ujarnya.

Dalam proses perencanaan, kebutuhan rehabilitasi telah melalui verifikasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan konsultasi teknis bersama konsultan perencana dari Indramayu, Yuda.

Salah satu persoalan yang ditangani adalah rangka bangunan lama yang sebelumnya menggunakan material kayu. Rangka tersebut kemudian diganti total menggunakan baja ringan.

Anggaran juga diarahkan untuk penguatan struktur sekaligus penggantian plafon menggunakan gypsum. Penyesuaian teknis dilakukan agar penggunaan anggaran tetap efisien tanpa mengabaikan kualitas dan daya tahan bangunan.

Untuk memastikan keamanan struktur atap, pihak sekolah juga bekerja sama dengan aplikator konstruksi yang memiliki garansi resmi dan sertifikasi.

290 Siswa Tetap Belajar Normal di Tengah Pembangunan

Di tengah proses revitalisasi, aktivitas pendidikan di SMPN 2 Gantar tetap berjalan.

Sekolah saat ini melayani sekitar 290 siswa. Kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung normal karena sekolah masih memiliki ruang kelas lain yang mencukupi.

Dengan kondisi tersebut, sekolah tidak perlu menerapkan sistem masuk bergiliran atau shift.

Pihak sekolah tetap memberikan perhatian terhadap faktor keselamatan dan kelancaran pekerjaan, terutama dalam menyelesaikan struktur atap sebelum memasuki periode dengan curah hujan tinggi.

Targetnya bukan hanya menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal, tetapi juga memastikan proses pembangunan berlangsung aman sehingga tidak mengganggu kegiatan pendidikan.

REANG Hadir dari Ruang Sekolah

Jika dilihat lebih jauh, revitalisasi SMPN 2 Gantar memperlihatkan bagaimana sebuah program pembangunan pendidikan dapat memberikan dampak yang lebih luas ketika masyarakat diberi ruang untuk terlibat.

Nilai Religius hadir melalui pembenahan mushola dan lingkungan pendidikan. Ekonomi Kerakyatan terlihat dari keterlibatan pekerja lokal yang berasal dari masyarakat sekitar.

Kemudian, aspek Aman dan Nyaman menjadi tujuan utama melalui perbaikan fasilitas serta penguatan struktur bangunan.

Sementara Gotong Royong diwujudkan melalui keterlibatan sekolah, komite, orang tua siswa, pekerja lokal, tenaga ahli dan masyarakat.

Dalam konteks pendidikan, semangat tersebut penting karena sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Sekolah merupakan ruang untuk membentuk karakter, menanamkan nilai, serta mempersiapkan generasi yang akan menjadi bagian dari masa depan daerah.

Karena itu, keberadaan fasilitas pendidikan yang layak dapat dipandang sebagai investasi jangka panjang.

Dari Bangunan Sekolah Menuju Investasi Masa Depan

Program revitalisasi SMPN 2 Gantar pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai angka Rp1,19 miliar, jumlah ruang yang diperbaiki, maupun persentase progres pekerjaan.

Di balik pembangunan tersebut terdapat harapan agar anak-anak belajar dalam lingkungan yang lebih layak. Ada pula keterlibatan orang tua dan masyarakat yang memperoleh kesempatan bekerja sekaligus ikut mengawasi proses pembangunan.

Model swakelola mempertemukan kepentingan pembangunan fasilitas dengan pemberdayaan masyarakat. Ketika pekerja lokal ikut membangun sekolah tempat anak-anak mereka belajar, muncul rasa memiliki yang dapat menjadi modal sosial untuk menjaga fasilitas tersebut setelah pembangunan selesai.

Harapan itu pula yang disampaikan Novianti. Ia berharap hasil revitalisasi dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang dan membuat peserta didik semakin nyaman belajar.

“Mudah-mudahan semangat pembangunan Kabupaten Indramayu dapat benar-benar terasa sampai ke lingkungan sekolah,” katanya.

Dengan demikian, revitalisasi SMPN 2 Gantar menjadi gambaran bahwa pembangunan pendidikan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Gedung yang diperbaiki memang menjadi hasil yang terlihat, tetapi partisipasi warga, rasa memiliki, serta semangat gotong royong menjadi nilai yang tidak kalah penting.

Sebab, sekolah yang baik bukan hanya sekolah dengan bangunan yang kokoh. Ia juga merupakan ruang bersama untuk menumbuhkan generasi yang berilmu, berkarakter, memiliki kepedulian sosial, serta tumbuh dalam lingkungan yang aman dan nyaman.

Di titik itulah semangat Indramayu REANG menemukan bentuknya: pembangunan yang tidak hanya memperbaiki fasilitas, tetapi juga menghadirkan manfaat dan membuka ruang partisipasi masyarakat untuk bersama-sama menyiapkan masa depan generasi Indramayu.

Baca Fakta Edukasi Berita

  • UPTD SMPN 2 Gantar berada di Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu.
  • Sekolah memperoleh bantuan Rp1.194.691.000 dari APBN Tahun Anggaran 2026. 120 hari, 1 Agustus–30 November 2026.
  • Bantuan disalurkan melalui Direktorat Sekolah Dasar, Ditjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
  • Revitalisasi mencakup 2 ruang kelas, 1 Laboratorium IPA, 1 mushola, ruang TU dan Kepala Sekolah, 2 toilet, serta pemagaran.
  • Pembangunan menggunakan sistem swakelola.
  • Masyarakat sekitar dilibatkan sebagai tenaga kerja.
  • Orang tua siswa yang memiliki keterampilan bangunan ikut terlibat dalam pembangunan.
  • Rosid, S.T. menjadi Ketua P2SP dan Surnadi Ketua Komite Sekolah.
  • Swakelola diharapkan memberikan manfaat bagi sekolah sekaligus membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
  • Kepala Sekolah Novianti, S.Pd. mengapresiasi dukungan pemerintah terhadap revitalisasi.
  • Revitalisasi diharapkan tidak hanya menghasilkan bangunan baru, tetapi meningkatkan kualitas lingkungan pembelajaran.
  • Pelaksanaan program dikaitkan dengan nilai Indramayu REANG: Religius, Ekonomi Kerakyatan, Aman, Nyaman, dan Gotong Royong.
  • Keterlibatan masyarakat menjadi wujud konkret ekonomi kerakyatan dan gotong royong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!