Example floating
RAMADAN MUBARAK

Ghibah Diam-Diam Menggerus Pahala Puasa, Sudahkah Kita Sadar?

Avatar photo
1131
×

Ghibah Diam-Diam Menggerus Pahala Puasa, Sudahkah Kita Sadar?

Sebarkan artikel ini

Puasa Bukan Hanya Menahan Lapar, Tapi Juga Menjaga Ucapan

Memasuki hari kelima Ramadan, umat Islam kembali diingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, Ramadan adalah momentum untuk membersihkan hati dan menjaga lisan dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala ibadah.

Menahan lisan menjadi salah satu ujian terbesar dalam berpuasa. Tanpa disadari, percakapan sehari-hari bisa berubah menjadi ghibah, fitnah, atau perkataan sia-sia yang justru menggerus nilai puasa itu sendiri.

Dalam ajaran Islam, ghibah adalah membicarakan keburukan orang lain meskipun itu benar adanya. Jika yang dibicarakan tidak benar, maka dosanya lebih berat lagi, yaitu fitnah. Hal ini menjadi pengingat bahwa lisan adalah amanah yang harus dijaga.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus, karena lisannya tidak terjaga. Pesan ini menjadi refleksi bahwa kualitas puasa tidak hanya diukur dari menahan makan dan minum, tetapi juga dari kemampuan menjaga sikap dan ucapan.

Mengapa Menahan Lisan Itu Penting?

  1. Menjaga pahala puasa agar tidak berkurang.

  2. Menciptakan suasana sosial yang lebih harmonis.

  3. Melatih kesabaran dan kedewasaan emosional.

  4. Membangun karakter yang santun dan berakhlak.

Di era media sosial saat ini, tantangan menjaga lisan semakin kompleks. Komentar spontan, unggahan emosional, atau membagikan informasi yang belum tentu benar bisa termasuk dalam kategori perkataan yang merugikan.

Ramadan seharusnya menjadi momen untuk memperlambat respons, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, dan memperbaiki kualitas komunikasi.

Perkataan Sia-Sia: Bahaya yang Sering Diremehkan

Selain ghibah, Islam juga mengajarkan untuk menjauhi perkataan sia-sia. Obrolan yang tidak bermanfaat, candaan berlebihan yang menyakiti, hingga perdebatan tanpa tujuan jelas, dapat mengurangi nilai spiritual Ramadan.

Menahan lisan bukan berarti diam sepenuhnya, tetapi berbicara dengan bijak. Jika tidak membawa kebaikan, lebih baik ditahan.

Sebagaimana pesan hikmah yang sering disampaikan para ulama:
“Jika tidak mampu berkata baik, maka diam adalah pilihan terbaik.”

Ramadan sebagai Sekolah Karakter

Hari kelima Ramadan menjadi pengingat bahwa ibadah ini adalah latihan pembentukan karakter. Dari menahan lapar, kita belajar sabar. Dari menahan lisan, kita belajar menjaga kehormatan diri dan orang lain.

Ramadan mendidik umat Islam untuk menjadi pribadi yang lebih santun, lebih bijaksana, dan lebih bertanggung jawab dalam setiap ucapan.

Semoga di hari kelima ini, puasa kita tidak hanya menahan perut, tetapi juga menjaga hati dan lisan. Karena lisan yang terjaga adalah cerminan hati yang bersih.

Ucapan Selamat Ramadan dari Ketua DPRD Indramayu

 Dra. Hj. NURHAYATI, M.Pd.I, Ketua DPRD Kabupaten Indramayu, turut menyampaikan pesan penuh makna kepada masyarakat dalam momentum Ramadan tahun ini.

“Saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah Ramadan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Indramayu. Semoga Ramadan tahun ini membawa keberkahan, memperkuat keimanan, serta menjadikan kita pribadi yang lebih sabar, lebih santun, dan lebih peduli terhadap sesama.”

Dengan semangat Ramadan, diharapkan masyarakat Indramayu semakin rukun, harmonis, dan saling menghormati dalam kehidupan sosial.

oleh : Dra. Hj. NURHAYATI, M.Pd.I

Ketua DPRD Kabupaten Indramayu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!