INDRAMAYU # Sekolah bukan sekadar bangunan tempat anak-anak mengikuti pelajaran. Di dalamnya terdapat ruang untuk tumbuh, belajar, membangun karakter, sekaligus menyiapkan generasi yang akan menentukan masa depan daerah.
Semangat itulah yang terlihat dalam pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026 di UPTD SD Negeri 4 Sukaslamet, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu.
Sekolah tersebut memperoleh bantuan pemerintah sebesar Rp1.301.656.751 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026. Bantuan disalurkan melalui Direktorat Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Program ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan satuan pendidikan dengan sarana dan prasarana yang lebih layak, aman, dan nyaman untuk mendukung proses pembelajaran.
Enam Ruang Kelas hingga Perpustakaan Direvitalisasi
Revitalisasi UPTD SDN 4 Sukaslamet mencakup sejumlah fasilitas penting sekolah.
Revitalisasi meliputi enam ruang belajar (kelas) , perpustakaan, kantor guru, fasilitas toilet, serta perbaikan halaman sekolah.
Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan tidak hanya mengubah wajah fisik sekolah, tetapi juga meningkatkan kualitas lingkungan belajar bagi peserta didik.
Ruang kelas yang lebih layak memberikan dukungan terhadap kegiatan belajar mengajar. Perpustakaan dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan budaya membaca dan literasi. Fasilitas sanitasi yang memadai mendukung penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, sedangkan halaman yang tertata dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan nyaman.
Karena itu, revitalisasi sekolah perlu dipahami sebagai investasi pendidikan dalam jangka panjang. Bangunan hanyalah sarana, sementara tujuan utamanya adalah menciptakan lingkungan yang mampu mendukung tumbuh kembang peserta didik.
Swakelola Membuka Ruang Partisipasi Masyarakat
Salah satu hal yang menarik dari revitalisasi UPTD SDN 4 Sukaslamet adalah pelaksanaannya menggunakan sistem swakelola.
Dalam proses pembangunan, masyarakat sekitar sekolah turut dilibatkan sebagai tenaga kerja. Bahkan, sejumlah orang tua siswa yang memiliki keterampilan atau pengalaman di bidang pembangunan ikut mengambil bagian dalam pengerjaan revitalisasi.
Ketua Komite Sekolah Ismail Subagyo, yang sekaligus dipercaya sebagai Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP), menilai sistem swakelola memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi secara langsung dalam pembangunan sekolah.
“Dengan sistem swakelola, kami ingin pembangunan ini tidak hanya menjadi pekerjaan sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari kepedulian bersama. Masyarakat sekitar dilibatkan, termasuk orang tua siswa yang memang mempunyai kemampuan atau pengalaman sebagai tenaga bangunan,” ujar Ismail Subagyo.
Menurut Ismail, keterlibatan orang tua siswa mempunyai nilai positif. Mereka bukan hanya menjadi bagian dari keluarga besar sekolah, tetapi juga dapat ikut berkontribusi dalam menciptakan fasilitas pendidikan yang nantinya digunakan oleh anak-anak mereka.
“Orang tua bukan hanya menitipkan anaknya untuk belajar di sekolah, tetapi juga bisa ikut berkontribusi dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih baik. Ada rasa memiliki karena mereka ikut terlibat dalam proses pembangunannya,” katanya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada sekolah. Keluarga dan masyarakat juga memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat.
Orang Tua Siswa Ikut Membangun Sekolah Anak
Keterlibatan orang tua siswa dalam pembangunan menjadi salah satu sisi sosial yang penting dari pelaksanaan revitalisasi.
Orang tua yang mempunyai keahlian sebagai pekerja bangunan dapat berkontribusi sesuai kemampuan mereka. Dengan demikian, pembangunan fasilitas sekolah sekaligus membuka ruang pemberdayaan masyarakat sekitar.
Ismail berharap sistem tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas bagi lingkungan sekolah dan masyarakat.
“Harapannya, pembangunan ini bisa memberikan manfaat ganda. Sekolah mendapatkan sarana yang lebih baik, sementara masyarakat sekitar juga mendapatkan kesempatan untuk ikut bekerja. Jadi pembangunan pendidikan sekaligus dapat menggerakkan ekonomi masyarakat,” tuturnya.
Dari sisi edukasi publik, pola tersebut memberikan pelajaran bahwa pembangunan pendidikan dapat menjadi bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat apabila dikelola dengan melibatkan potensi lokal.
Ketika masyarakat sekitar mendapat kesempatan untuk berpartisipasi, muncul manfaat yang lebih luas. Sekolah mendapatkan dukungan, masyarakat memperoleh kesempatan bekerja, sementara orang tua memiliki rasa keterikatan yang lebih kuat terhadap lingkungan pendidikan anak-anak mereka.
Pola ini juga memperlihatkan bahwa semangat gotong royong dapat diterapkan dalam bentuk yang konkret melalui kolaborasi sekolah, komite, orang tua, masyarakat, dan pemerintah.
Kepala Sekolah: Revitalisasi Harus Berdampak pada Kualitas Pendidikan
Kepala UPTD SD Negeri 4 Sukaslamet, Pujiyanto, S.Pd., menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas terealisasinya Program Revitalisasi Satuan Pendidikan di sekolah tersebut.
Menurutnya, dukungan terhadap sarana dan prasarana pendidikan sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kenyamanan siswa dan guru.
“Kami sangat mengapresiasi adanya Program Revitalisasi Satuan Pendidikan ini. Sarana yang lebih baik tentu akan sangat membantu sekolah dalam memberikan pelayanan pendidikan yang optimal kepada peserta didik,” ujar Pujiyanto.
Namun, revitalisasi menurutnya tidak berhenti pada pembangunan fisik.
Fasilitas yang telah dibangun perlu dimanfaatkan dan dirawat secara berkelanjutan agar memberikan manfaat maksimal bagi peserta didik.
“Yang dibangun bukan hanya gedungnya, tetapi juga harus dibangun semangat untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Ruang kelas, perpustakaan, fasilitas sanitasi maupun lingkungan sekolah harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendukung proses belajar anak-anak,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penting karena keberadaan fasilitas pendidikan yang bagus tidak otomatis meningkatkan kualitas pendidikan apabila tidak diikuti dengan pemanfaatan yang tepat.
Ruang kelas harus menjadi tempat pembelajaran yang aktif. Perpustakaan harus dihidupkan sebagai pusat literasi. Fasilitas sanitasi harus dirawat. Lingkungan sekolah juga harus dijaga bersama.
Revitalisasi dan Semangat Indramayu REANG
Pujiyanto juga melihat adanya keterkaitan antara pelaksanaan revitalisasi sekolah dengan semangat pembangunan Kabupaten Indramayu melalui nilai Indramayu REANG, yaitu Religius, Ekonomi Kerakyatan, Aman, Nyaman, dan Gotong Royong.
“Menurut kami, revitalisasi ini sangat relevan dengan semangat Indramayu REANG. Pendidikan merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat yang religius, sekaligus menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi anak-anak,” ungkapnya.
Nilai Religius dapat diwujudkan melalui pendidikan karakter dan pembiasaan sikap positif dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara Ekonomi Kerakyatan dapat tercermin dari pelibatan masyarakat lokal dalam proses pembangunan. Orang tua siswa dan warga sekitar yang mempunyai keterampilan mendapatkan kesempatan untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan sekolah.
“Ketika masyarakat sekitar dilibatkan dalam pembangunan, termasuk orang tua siswa yang memiliki keterampilan sebagai pekerja bangunan, tentu ada manfaat ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Ini merupakan bentuk ekonomi kerakyatan yang bisa tumbuh dari lingkungan sekolah,” jelas Pujiyanto.
Adapun nilai Aman dan Nyaman menjadi salah satu tujuan penting revitalisasi. Sarana pendidikan yang lebih layak diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas belajar siswa dan bekerja bagi para guru.
Sedangkan Gotong Royong tercermin melalui keterlibatan berbagai unsur dalam proses pembangunan.
“Sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Ada pemerintah, komite, orang tua, masyarakat dan seluruh warga sekolah. Kalau semuanya bergerak bersama, pembangunan akan lebih kuat dan manfaatnya juga bisa dirasakan bersama,” ujarnya.
Membangun Sekolah, Membangun Masa Depan
Revitalisasi UPTD SDN 4 Sukaslamet pada akhirnya bukan hanya tentang pembangunan enam ruang kelas baru, perpustakaan, kantor guru, toilet, dan halaman sekolah.
Lebih dari itu, program tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang melibatkan pemerintah, sekolah, komite, orang tua, dan masyarakat.
Fasilitas baru harus menjadi ruang yang benar-benar hidup. Ruang kelas menjadi tempat anak-anak memperoleh pengetahuan. Perpustakaan menjadi tempat tumbuhnya budaya membaca. Lingkungan sekolah menjadi ruang pembentukan karakter. Sementara keterlibatan masyarakat menjadi contoh nyata bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama.
Nilai Indramayu REANG pun dapat diterjemahkan melalui aktivitas nyata di lingkungan sekolah: religius dalam membangun karakter, ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan masyarakat, aman dan nyaman dalam menciptakan lingkungan belajar, serta gotong royong dalam membangun dan merawat fasilitas pendidikan.
Dengan dukungan APBN sebesar Rp1.301.656.751, revitalisasi UPTD SDN 4 Sukaslamet diharapkan menjadi investasi jangka panjang bagi peningkatan kualitas pendidikan di Kecamatan Kroya dan Kabupaten Indramayu.
Pada akhirnya, pembangunan sekolah bukan sekadar membangun gedung.
Membangun sekolah berarti membangun ruang bagi anak-anak untuk belajar, bertumbuh, membentuk karakter, dan mempersiapkan masa depan.
Dan ketika pembangunan tersebut dilakukan dengan melibatkan masyarakat, orang tua, serta semangat gotong royong, manfaatnya diharapkan tidak hanya dirasakan oleh warga sekolah, tetapi juga oleh lingkungan masyarakat di sekitarnya.















