EKOSOSIAL

Dari Atap Bocor hingga Gotong Royong: Revitalisasi SDN 2 Anjatan Utara Bangun Harapan Baru

Avatar photo
19959
×

Dari Atap Bocor hingga Gotong Royong: Revitalisasi SDN 2 Anjatan Utara Bangun Harapan Baru

Sebarkan artikel ini

INDRAMAYU # Membangun sekolah tidak selalu identik dengan pekerjaan konstruksi dan anggaran besar. Di UPTD SD Negeri 2 Anjatan Utara, Kabupaten Indramayu, pembangunan justru memperlihatkan sisi lain: ketika pemerintah memberikan dukungan anggaran, sekolah, masyarakat, komite, hingga orang tua siswa ikut mengambil bagian untuk menghadirkan ruang belajar yang lebih baik bagi anak-anak.

Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026, UPTD SD Negeri 2 Anjatan Utara memperoleh bantuan pemerintah sebesar Rp739.680.000 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026.

Bantuan tersebut disalurkan melalui Direktorat Sekolah Dasar, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dana tersebut diarahkan untuk mendukung perbaikan berbagai fasilitas pendidikan yang selama ini membutuhkan penanganan, sehingga lingkungan sekolah dapat menjadi tempat belajar yang lebih aman, nyaman dan layak.

Tujuh Ruang Belajar hingga Toilet Direvitalisasi

Program revitalisasi di UPTD SDN 2 Anjatan Utara mencakup tujuh ruang belajar, satu ruang kantor guru, dan satu ruang toilet.

Pekerjaan dilaksanakan selama 120 hari kalender, terhitung sejak 7 Agustus hingga 4 Desember 2026.

Sampai saat ini, pelaksanaan pekerjaan telah mencapai sekitar 20 persen. Dengan demikian, proses pembangunan masih terus berjalan dan diharapkan dapat diselesaikan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Revitalisasi tersebut menjadi penting karena beberapa fasilitas sekolah mengalami penurunan kondisi dan fungsi akibat penggunaan serta perjalanan waktu.

Salah satu persoalan yang selama ini dirasakan warga sekolah adalah kebocoran atap ketika hujan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kegiatan belajar mengajar, terutama ketika hujan turun saat siswa dan guru sedang berada di dalam kelas.

Persoalan lainnya berkaitan dengan sirkulasi udara yang masih minim di sejumlah ruang belajar. Padahal, ruang kelas yang nyaman merupakan bagian penting dari lingkungan pembelajaran yang mendukung konsentrasi dan aktivitas siswa.

Karena itu, revitalisasi tidak semata-mata dipandang sebagai pembenahan fisik bangunan, tetapi juga sebagai upaya menghadirkan lingkungan belajar yang lebih mendukung kebutuhan siswa dan guru.

Kepala Sekolah: Kenyamanan Anak Menjadi Prioritas

Kepala UPTD SDN 2 Anjatan Utara, Agus Prihatin, S.Pd.SD, menyampaikan apresiasinya atas bantuan revitalisasi yang diterima sekolah.

Menurut Agus, program tersebut sangat berarti karena sejumlah fasilitas memang sudah membutuhkan perbaikan.

“Kami sangat bersyukur mendapatkan bantuan revitalisasi ini. Memang ada beberapa bagian bangunan yang kondisinya sudah membutuhkan perbaikan. Ketika hujan, kebocoran atap dapat mengganggu kegiatan belajar anak-anak,” ujar Agus.

Ia mengatakan aspek kenyamanan ruang belajar juga menjadi perhatian sekolah.

“Sirkulasi udara menjadi salah satu perhatian kami. Ruang kelas harus nyaman supaya anak-anak bisa belajar dengan baik dan guru juga dapat melaksanakan pembelajaran dengan lebih optimal,” katanya.

Agus berharap revitalisasi memberikan perubahan nyata terhadap kondisi lingkungan sekolah.

“Harapan kami setelah revitalisasi selesai, ruang-ruang tersebut menjadi lebih aman, nyaman dan layak digunakan. Yang paling penting adalah anak-anak dapat belajar dengan tenang tanpa terganggu kondisi fasilitas,” tambahnya.

Swakelola Membuka Ruang Partisipasi Masyarakat

Hal menarik dari revitalisasi SDN 2 Anjatan Utara adalah pelaksanaannya menggunakan sistem swakelola melalui Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP).

P2SP diketuai Ruslan (Ketua Komite) dan melibatkan tenaga kerja dari masyarakat sekitar sekolah.

Bahkan, sejumlah orang tua siswa yang memiliki profesi sebagai tukang bangunan turut ambil bagian dalam pekerjaan tersebut.

Ketua P2SP Ruslan menjelaskan, pelibatan masyarakat menjadi bagian dari pelaksanaan pembangunan.

“Kami melaksanakan pekerjaan secara swakelola dengan melibatkan tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Ada juga orang tua siswa yang memang berprofesi sebagai tukang bangunan dan ikut bekerja dalam pembangunan ini,” jelas Ruslan.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat memberikan manfaat yang lebih luas. Pembangunan fasilitas sekolah tidak hanya menghasilkan sarana pendidikan yang lebih baik, tetapi juga membuka ruang partisipasi bagi warga di sekitar sekolah.

“Sekolah ini bagian dari masyarakat. Karena itu, ketika ada pembangunan, tentu masyarakat juga harus ikut mendukung sesuai kemampuan masing-masing,” ujarnya.

Ia menilai kehadiran orang tua siswa yang ikut bekerja sebagai tukang merupakan contoh konkret kontribusi masyarakat.

“Ada orang tua yang memberikan tenaga dan keahliannya. Ini sangat positif karena mereka ikut berkontribusi langsung terhadap tempat anak-anak mereka belajar,” katanya.

Pengadaan material pun diupayakan berasal dari lingkungan sekitar sekolah sepanjang tersedia, memenuhi kebutuhan pembangunan, serta tetap mengikuti ketentuan yang berlaku.

“Sekolah mendapatkan fasilitas yang lebih baik, sementara masyarakat sekitar juga mendapatkan kesempatan untuk ikut terlibat. Jadi pembangunan ini diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas,” ujarnya.

Orang Tua Siswa Ikut Membangun Tempat Anak Belajar

Keterlibatan orang tua siswa menjadi salah satu gambaran nyata semangat kebersamaan dalam program tersebut.

Bagi orang tua yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan, kesempatan ikut mengerjakan revitalisasi sekolah anaknya memiliki makna tersendiri.

“Saya kebetulan bekerja sebagai tukang bangunan. Ketika ada kesempatan ikut membangun sekolah anak sendiri, saya merasa senang. Jadi selain bekerja, saya juga bisa ikut membantu memperbaiki tempat anak saya belajar,” ungkap salah seorang orang tua siswa.

Ia berharap hasil pembangunan nantinya dapat membuat anak-anak lebih nyaman mengikuti pembelajaran.

“Harapannya nanti anak-anak bisa belajar lebih nyaman. Kalau hujan tidak terganggu lagi, ruangannya lebih baik dan fasilitasnya bisa digunakan dengan maksimal,” katanya.

Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan sekolah dapat menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

Orang tua bukan hanya hadir sebagai pihak yang menyerahkan pendidikan anak kepada sekolah, tetapi juga dapat mengambil bagian sesuai kapasitas dan keahliannya.

Revitalisasi Bukan Hanya Soal Gedung

Program revitalisasi satuan pendidikan pada dasarnya memberikan pesan bahwa kualitas pendidikan juga membutuhkan dukungan lingkungan fisik yang memadai.

Atap yang tidak lagi bocor, ruang belajar yang lebih nyaman, sirkulasi udara yang baik, fasilitas toilet yang layak, serta ruang guru yang mendukung aktivitas tenaga pendidik merupakan bagian dari ekosistem pendidikan.

Meski demikian, bangunan yang baik tidak secara otomatis menjamin kualitas pendidikan apabila tidak dibarengi dengan pengelolaan dan pemeliharaan yang baik.

Karena itu, setelah revitalisasi selesai, warga sekolah memiliki tanggung jawab untuk menjaga fasilitas tersebut.

Di sisi lain, proses pembangunan yang melibatkan masyarakat juga dapat menjadi sarana membangun rasa memiliki. Ketika masyarakat ikut bekerja, orang tua ikut berkontribusi, dan sekolah menjadi bagian dari proses, fasilitas yang dibangun bukan sekadar aset fisik, tetapi juga hasil kebersamaan.

Semangat Gotong Royong Menghidupkan Nilai Indramayu REANG

Pelaksanaan revitalisasi SDN 2 Anjatan Utara juga memiliki relevansi dengan semangat Indramayu REANG, yakni Religius, Ekonomi Kerakyatan, Aman, Nyaman dan Gotong Royong.

Nilai Religius dapat diwujudkan melalui pembangunan lingkungan pendidikan yang mendukung pembentukan karakter peserta didik, bukan hanya kemampuan akademik tetapi juga moral dan perilaku.

Sementara aspek Ekonomi Kerakyatan terlihat dari pelibatan tenaga kerja masyarakat sekitar serta peluang pemanfaatan material dari lingkungan setempat sepanjang memenuhi persyaratan dan ketentuan pembangunan.

Nilai Aman dan Nyaman menjadi salah satu tujuan utama revitalisasi. Perbaikan fasilitas diharapkan menciptakan ruang yang lebih layak bagi siswa maupun guru.

Sedangkan Gotong Royong terlihat paling nyata melalui keterlibatan sekolah, P2SP( komite), masyarakat dan orang tua siswa.

Kepala Sekolah Agus Prihatin,S.Pd.SD,  menilai nilai tersebut sejalan dengan semangat revitalisasi sekolah.

“Kami berharap revitalisasi ini tidak hanya menghasilkan bangunan yang lebih baik, tetapi juga memperkuat kebersamaan. Ada pemberdayaan masyarakat, ada keterlibatan orang tua dan ada semangat gotong royong. Ini sejalan dengan nilai Indramayu REANG,” ujarnya.

Dari Atap yang Bocor Menuju Ruang Belajar yang Lebih Nyaman

Revitalisasi SDN 2 Anjatan Utara pada akhirnya bukan hanya cerita mengenai anggaran ratusan juta rupiah atau sejumlah ruang yang diperbaiki.

Di balik pembangunan tersebut terdapat harapan sederhana: anak-anak dapat belajar tanpa terganggu kebocoran ketika hujan, berada di ruang yang lebih nyaman, serta menikmati fasilitas sekolah yang lebih layak.

Lebih dari itu, keterlibatan orang tua siswa dan masyarakat menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan dapat menjadi gerakan bersama.

Pemerintah hadir melalui dukungan anggaran. Sekolah menjalankan amanah. P2SP mengorganisasi pembangunan. Masyarakat menyediakan tenaga dan keahlian. Orang tua ikut turun tangan.

Semua bertemu pada satu tujuan: menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

Revitalisasi boleh selesai secara fisik pada akhir masa pekerjaan. Namun, semangat gotong royong dan tanggung jawab menjaga sekolah harus terus hidup setelah pembangunan berakhir.

Sebab, membangun sekolah bukan sekadar memperbaiki gedung. Membangun sekolah berarti menyiapkan ruang tumbuh bagi generasi masa depan.

Baca Fakta Edukasi Berita

  • SDN 2 Anjatan Utara memperoleh bantuan revitalisasi sebesar Rp739.680.000.
  • Dana bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026.
  • Bantuan disalurkan melalui Direktorat Sekolah Dasar, Ditjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
  • Revitalisasi mencakup 7 ruang belajar.
  • Pembangunan juga mencakup 1 ruang kantor guru dan 1 ruang toilet.
  • Pekerjaan berlangsung selama 120 hari kalender.
  • Pelaksanaan dimulai 7 Agustus dan ditargetkan selesai 4 Desember 2026.
  • Progres pekerjaan saat ini sekitar 20 persen.
  • Pelaksanaan menggunakan sistem swakelola melalui P2SP.
  • Ruslan (Ketua Komite Sekolah) menjadi Ketua P2SP.
  • Masyarakat sekitar dilibatkan sebagai tenaga kerja.
  • Orang tua siswa yang berprofesi sebagai tukang bangunan ikut bekerja.
  • Pengadaan material diupayakan dari lingkungan sekitar sepanjang memenuhi kebutuhan dan ketentuan.
  • Revitalisasi dilakukan karena sejumlah fasilitas mengalami penurunan kondisi dan fungsi.
  • Kebocoran atap ketika hujan menjadi salah satu persoalan yang mengganggu kenyamanan belajar.
  • Sirkulasi udara di sejumlah ruang belajar juga menjadi perhatian.
  • Sekolah berharap hasil revitalisasi menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan layak.
  • Pelibatan masyarakat mencerminkan semangat gotong royong.
  • Program tersebut dinilai sejalan dengan nilai Indramayu REANG: Religius, Ekonomi Kerakyatan, Aman, Nyaman dan Gotong Royong.
  • Setelah pembangunan selesai, pemeliharaan fasilitas menjadi tanggung jawab bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!