Gantar, Indramayu # Kawasan Tugu Titik Nol Kroya mulai diarahkan menjadi lebih dari sekadar penanda geografis. Forum Sinergitas Rakyat Indramayu Barat (Fosmainbar) menggagas penataan kawasan tersebut sebagai ruang hijau edukatif berbasis Hutan Kota yang terintegrasi dengan sistem pertanian ramah lingkungan (agroforestri) di atas lahan milik Pemerintah Daerah seluas dua hektare.
Langkah ini diperkuat melalui studi banding pertanian terpadu (biocycle farming) ke Al-Zaytun, Jumat (6/2/2026). Bagi Fosmainbar, kunjungan ini menjadi pijakan awal menyusun model tata kelola kawasan Titik Nol yang memadukan fungsi ekologis, pendidikan, sosial, hingga produktivitas ekonomi masyarakat.
Titik Nol Bukan Lagi Sekadar Monumen
Dalam rancangan Fosmainbar, kawasan Titik Nol diproyeksikan menjadi:
-
Hutan Kota sebagai paru-paru kawasan
-
Ruang edukasi lingkungan bagi pelajar dan masyarakat
-
Area resapan air untuk menjaga keseimbangan ekosistem
-
Destinasi wisata edukatif berbasis alam
H. Abdulrahman, SE., Ketua Fosmainbar melalui Sekretarisnya, Dr. Caya Toha, SE., M.Si, menegaskan bahwa konsep ini lahir dari kebutuhan menghadirkan ruang hijau yang nyata manfaatnya.
“Titik Nol ini kita dorong bukan hanya sebagai simbol wilayah, tetapi sebagai ruang hidup yang memberi manfaat nyata. Hutan Kota yang dipadukan dengan agroforestri adalah bentuk keseriusan menghadirkan ruang hijau yang edukatif, produktif, dan berkelanjutan untuk masyarakat Indramayu Barat,” ujarnya.
Agroforestri: Hijau yang Tetap Menghasilkan
Fosmainbar tidak berhenti pada penanaman pohon semata. Konsep yang dibangun adalah agroforestri, sistem yang menggabungkan tanaman kehutanan dan pertanian dalam satu kawasan.
Susriyanto, S.Hut menjelaskan pendekatan ini membangun ekosistem yang utuh.
“Hutan Kota harus memiliki fungsi ekologis kuat, mulai dari penyerapan karbon hingga menjaga keseimbangan alam.”
Sementara itu, H. Yayat Hidayat, A.Md menilai agroforestri memberi dimensi ekonomi bagi masyarakat.
“Lahan tetap hijau, tetapi juga memberi nilai produktif. Ini pembelajaran penting bagi masyarakat.”
Ruang Belajar Alam Terbuka
Rajudin, S.Pd.I, Kuwu Sukaslamet melihat kawasan ini sebagai laboratorium alam.
“Lingkungan yang terjaga mengajarkan tanggung jawab bersama dan bisa menjadi sarana pembelajaran generasi muda.”
Peran dalam Mitigasi Bencana
Bidang Mitigasi Bencana, Lingkungan Hidup, Kehutanan & Pariwisata, Daman, menilai Hutan Kota memiliki fungsi strategis dalam pengurangan risiko bencana.
“Ruang hijau membantu resapan air dan mengurangi risiko banjir. Jika ditata baik, ini juga bisa menjadi wisata edukasi lingkungan.”
Ruang Aktivitas Sosial Generasi Muda
Dr. Siswanto, M.Pd menambahkan kawasan ini berpotensi menjadi ruang aktivitas pemuda.
“Bisa dimanfaatkan untuk olahraga, seni alam, dan edukasi lingkungan.”
Dukungan Konsep dari Al-Zaytun
Studi banding Fosmainbar mendapat apresiasi dari Hariyanto Mardhoni, S.Mn., M.P, pengajar ekstrakurikuler pertanian Al-Zaytun.
“Konsep Hutan Kota yang dipadukan dengan agroforestri sangat relevan dengan kebutuhan masa depan. Produksi pangan, kelestarian lingkungan, dan pendidikan bisa berjalan bersamaan. Jika konsisten, kawasan ini berpotensi menjadi pusat pembelajaran lingkungan bernilai tinggi,” ungkapnya.
Menuju Kawasan Percontohan Lingkungan
Melalui tata kelola yang digagas Fosmainbar, kawasan Tugu Titik Nol Kroya diarahkan menjadi:
-
Pusat edukasi pertanian terpadu
-
Hutan Kota produktif
-
Ruang hijau konservasi
-
Contoh pembangunan selaras alam
Inisiatif ini menegaskan bahwa ruang terbuka hijau bukan sekadar elemen estetika, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas lingkungan, ketahanan ekosistem, dan kesejahteraan masyarakat Indramayu Barat.













